CrispyDesportare

Janice Tjen Singkirkan Leylah Fernandez dua Set Langsung

Rumput lapangan Wimbledon menjadi saksi kemenangan petenis putri Indonesia selama 1,5 jam. Lawannya petenis Kanada ranking 22 di ajang Grand Slam Wimbledon 2026.

WWW.JERNIH.CO – Debut manis dan bersejarah berhasil dicatatkan oleh petenis tunggal putri kebanggaan Indonesia, Janice Tjen, di panggung Grand Slam Wimbledon. Tampil tanpa status unggulan di Court 18 All England Lawn Tennis Club, Janice sukses menciptakan kejutan besar dengan menumbangkan petenis kidal asal Kanada sekaligus unggulan ke-22 turnamen, Leylah Fernandez.

Melalui performa yang luar biasa matang di atas lapangan rumput, Janice menyudahi perlawanan finalis US Open 2021 tersebut dua set langsung dengan skor akhir 6-1, 7-6 (7-3) dalam waktu 1 jam 29 minutes.

Sejak wasit memulai pertandingan, Janice langsung mengambil inisiatif serangan. Ia tidak memperlihatkan rasa canggung sedikit pun meski berstatus sebagai debutan di turnamen sekalas Wimbledon.

Janice langsung menggebrak dengan mematahkan servis (break point) Leylah di gim pembuka. Meski Leylah sempat mencoba mengejar dan memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2 di gim ketiga, Janice tetap tampil tenang. Petenis berusia 24 tahun asal Jakarta ini mendikte permainan dengan variasi pukulan yang akurat, merebut empat gim beruntun, dan menutup set pertama dengan kemenangan telak 6-1.

Leylah Fernandez yang tidak ingin angkat koper lebih awal mulai memberikan perlawanan sengit. Kejar-mengejar angka terjadi sejak awal set kedua hingga kedudukan imbang 6-6, yang memaksa laga berlanjut ke babak tie break. Di fase krusial ini, mentalitas Janice diuji. Ia berhasil memimpin cepat 2-0, lalu menjauh hingga 5-2. Meski Leylah sempat memperkecil skor menjadi 3-5, Janice tetap tampil tenang dan mengunci kemenangan tie break dengan skor 7-3.

Keberhasilan Janice menembus babak kedua tidak lepas dari strategi permainan yang sangat rapi dan efisiensi tinggi di poin-poin kritis. Janice sukses mendaratkan 6 servis as sepanjang laga. Hebatnya lagi, ia mencatatkan 0 double fault (kesalahan servis ganda). Akurasi servis pertamanya mencapai 76%, yang membuatnya memenangkan 82% poin dari situasi tersebut.

Janice juga tampil sangat agresif sekaligus taktis dengan menorehkan 24 pukulan mati (winners). Ia juga sangat disiplin menjaga area pertahanannya sehingga hanya melakukan 10 unforced errors (kesalahan sendiri).

Dari 9 kesempatan mematahkan servis lawan yang didapat, Janice berhasil mengonversi 3 di antaranya menjadi gim kemenangan.

Di sisi lain net, Leylah Fernandez yang lebih diunggulkan justru gagal menjinakkan karakter lapangan rumput London yang cepat dan licin, serta terlihat frustrasi menghadapi tekanan Janice. Beberapa kelemahan Leylah yang terlihat menonjol dalam laga ini. Leylah mencatatkan hingga 22 unforced errors, berbanding terbalik dengan Janice yang bermain rapi. Alih-alih menekan, pukulan-pukulan Leylah kerap keluar lapangan atau tersangkut di net.

Walau membuat 5 as, Leylah melakukan 3 kali double fault. Persentase poin yang didapat dari servis pertamanya hanya menyentuh angka 61%, membuatnya terus berada dalam posisi tertekan.

Leylah sebenarnya memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan, namun ia tercatat gagal total dalam memaksimalkan poin-poin krusial, termasuk kegagalannya mengonversi satu pun peluang break point yang ia miliki sepanjang pertandingan.

Janice menjadi tunggal putri Indonesia pertama yang berhasil lolos dan bertanding di babak utama (main draw) Grand Slam Wimbledon setelah penantian panjang selama 23 tahun.

Petenis putri Indonesia terakhir yang bermain di babak utama tunggal putri Wimbledon sebelum Janice Tjen adalah sang legenda tenis nasional: Angelique Widjaja. Angie terakhir kali tampil di babak utama tunggal putri Wimbledon pada tahun 2003.(*)

BACA JUGA: Bangkit dari French Open, Janice Tjen Tembus 16 Besar Birmingham Terbuka 2026

Back to top button