CrispyDesportare

[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Runtuhkan Kutukan 72 Tahun, Swiss Segel Tiket Perempat Final

Lewat drama adu penalti yang mendebarkan melawan Kolombia, Rossocrociati akhirnya kembali ke babak 8 besar untuk pertama kalinya sejak 1954. Dari mana saja pemain generasi emas Swiss berasal?

WWW.JERNIH.CO –  Tim nasional Swiss berhasil mengukir tinta emas dalam sejarah sepak bola mereka setelah resmi mengamankan tiket ke babak perempat final Piala Dunia 2026. Melalui drama adu penalti yang menegangkan di Stadion BC Place, Vancouver, Kanada, Swiss sukses menumbangkan tim tangguh Amerika Selatan, Kolombia, dengan skor 4-3 setelah bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.

Keberhasilan ini memutus kutukan panjang sekaligus membawa Rossocrociati (Si Palang Merah) ke babak 8 besar untuk pertama kalinya dalam 72 tahun terakhir. Pahlawan dalam laga ini tidak lain adalah kiper Gregor Kobel yang mementahkan tendangan penalti Cucho Hernandez, serta Ruben Vargas yang dengan tenang mengeksekusi penalti penentu penentu kemenangan.

Perjalanan sejak babak grup sebenarnya tidak terlalu cemerlang. Dengan mengantongi 7 poin (2 kali menang, 1 kali imbang), Swiss keluar sebagai juara grup walau tidak meraih poin sempurna. Di 32 besar mereka mengandaskan Aljazair dengan skor 2-0.

Swiss bukanlah nama baru di panggung tertinggi sepak bola dunia. Mereka adalah salah satu kontestan historis yang telah berpartisipasi sejak edisi-edisi awal.

Capaian terbaik Swiss sebelum tahun 2026 adalah mencapai perempat final pada tahun 1934, 1938, dan saat mereka menjadi tuan rumah pada tahun 1954. Setelah tahun 1954, langkah mereka selalu kandas, paling jauh hanya mencapai babak 16 besar.

Pada abad ke-21 (2006, 2014, 2018, dan 2022), Swiss dikenal sebagai tim yang sangat solid secara defensif dan selalu lolos ke fase gugur, namun selalu mentok di babak 16 besar.

Swiss memegang rekor unik di Piala Dunia 2006, di mana mereka tersingkir di babak 16 besar oleh Ukraina lewat adu penalti tanpa kebobolan satu gol pun selama waktu normal di seluruh turnamen.

Kelolosan di tahun 2026 ini menjadi pembuktian bahwa Swiss telah berevolusi dari sekadar “tim kuda hitam yang merepotkan” menjadi kekuatan nyata yang siap menantang gelar juara. Di babak perempat final nanti, mereka sudah ditunggu oleh sang juara bertahan, Argentina.

Kesuksesan Swiss di bawah asuhan strategi yang matang tidak lepas dari komposisi skuad yang sangat seimbang. Struktur tim mereka menggabungkan kematangan mental para veteran dengan ledakan energi para pemain muda.

Swiss memiliki rata-rata usia skuad yang berada di angka keemasan sepak bola (sekitar 26–29 tahun). Poros utama tim masih digerakkan oleh para pemain berpengalaman yang memiliki caps internasional melimpah. Granit Xhaka (kapten), Ricardo Rodriguez, Remo Freuler, dan Manuel Akanji menjadi mentor sekaligus jaminan ketenangan di dalam lapangan.

Di sisi lain, Swiss memiliki barisan pemain muda yang sangat menjanjikan seperti Dan Ndoye, Fabian Rieder, Ardon Jashari, hingga penyerang muda Johan Manzambi yang tampil fenomenal di fase grup sebelum dibekap cedera.

Pemain-pemain Swiss saat ini tidak lagi didominasi oleh liga domestik mereka (Swiss Super League), melainkan tersebar di klub-klub elite Eropa yang berkompetisi di level tertinggi.

Sebaran ini memberikan keuntungan besar bagi tim nasional. Para pemain terbiasa menghadapi tekanan tinggi di kompetisi seketat Premier League, Bundesliga, dan Serie A, serta rutin bermain di Liga Champions. Formasi taktis Swiss menjadi sangat fleksibel karena para pemainnya memiliki kecerdasan taktis yang ditempa oleh pelatih-pelatih kelas dunia di klub masing-masing.(*)

BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Pelatih Asing Jadi Primadona, Mengapa Negara Besar Ikut Beralih?

Back to top button