DesportareVeritas

[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Pelatih Asing Jadi Primadona, Mengapa Negara Besar Ikut Beralih?

Pengalaman meraih trofi di level tertinggi kini lebih dihargai daripada asal kebangsaan. Brasil, Inggris, dan Portugal menjadi contoh bagaimana federasi rela membayar mahal demi mengejar mimpi menjadi juara dunia.

WWW.JERNIH.CO –  Pemandangan menarik tersaji di Piala Dunia 2026. Sejumlah negara besar yang berhasil melaju ke babak 32 besar mempercayakan kursi pelatih kepada sosok asing. Brasil menunjuk pelatih asal Italia, Carlo Ancelotti, Inggris memilih pelatih Jerman Thomas Tuchel, sementara Portugal tetap mempercayakan pelatih Spanyol Roberto Martínez. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam sepak bola modern, kualitas semakin mengalahkan pertimbangan kebangsaan.

Lantas, mengapa negara-negara yang dikenal sebagai “pabrik pelatih” justru memilih sosok dari luar negeri?

Jawabannya bukan karena mereka kekurangan pelatih lokal. Brasil, misalnya, memiliki banyak nama besar seperti Renato Gaúcho, Fernando Diniz, hingga Dorival Júnior. Inggris pun memiliki pelatih lokal seperti Eddie Howe maupun Graham Potter. Namun, federasi sepak bola kini lebih mengutamakan pengalaman memenangkan trofi di level tertinggi daripada sekadar asal negara pelatih.

Brasil menjadi contoh paling jelas. Setelah gagal menjuarai Piala Dunia sejak 2002 dan beberapa kali berganti pelatih tanpa hasil maksimal, Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) akhirnya mengambil langkah bersejarah dengan merekrut Carlo Ancelotti. Ia merupakan pelatih asing pertama yang menangani Brasil secara permanen dalam era modern. Rekam jejaknya sebagai juara liga di lima negara berbeda dan peraih banyak gelar Liga Champions dianggap sebagai modal untuk mengembalikan kejayaan Selecao.

Inggris juga mengambil langkah serupa. Setelah beberapa kali gagal di semifinal maupun final turnamen besar, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) memutuskan menunjuk Thomas Tuchel. Pelatih asal Jerman itu dikenal sebagai ahli strategi dengan pengalaman membawa klub-klub elite Eropa meraih gelar bergengsi. Targetnya jelas: mengakhiri puasa gelar internasional Inggris yang telah berlangsung sejak Piala Dunia 1966.

Portugal mempertahankan Roberto Martínez karena dinilai mampu membangun keseimbangan antara generasi senior dan pemain muda. Meski berasal dari Spanyol, ia dianggap memahami karakter sepak bola Portugal dan berhasil menjaga konsistensi performa tim.

Kendati baru Ancelotti yang akhirnya kandas tak bisa membawa Samba melewati 16 besar.

Fenomena ini menunjukkan perubahan cara berpikir federasi sepak bola. Jika dahulu pelatih nasional dianggap harus berasal dari negara yang sama agar memahami budaya sepak bola setempat, kini pengalaman, kemampuan taktik, dan kepemimpinan menjadi faktor utama.

Investasi yang dikeluarkan federasi pun tidak kecil. Menurut sejumlah laporan media Eropa, Ancelotti merupakan pelatih tim nasional dengan bayaran tertinggi di Piala Dunia 2026. Ia diperkirakan menerima sekitar 9,5 juta euro per tahun. Thomas Tuchel berada di posisi berikutnya dengan sekitar 5,9 juta euro, sementara Julian Nagelsmann (Jerman) memperoleh sekitar 4,9 juta euro, dan Roberto Martínez sekitar 4 juta euro per tahun.

Besarnya gaji tersebut mencerminkan tingginya ekspektasi. Federasi tidak sekadar membayar mahal untuk memenangkan pertandingan, tetapi juga membangun budaya juara, meningkatkan kualitas permainan, serta mengembangkan regenerasi pemain hingga siklus Piala Dunia berikutnya.

Meski demikian, menunjuk pelatih asing bukanlah jaminan sukses. Fakta menarik menunjukkan bahwa hingga sebelum Piala Dunia 2026, belum pernah ada negara yang menjuarai Piala Dunia dengan pelatih asing.

Semua juara dunia selalu ditangani pelatih berkewarganegaraan sama dengan tim yang dilatih. Statistik inilah yang membuat langkah Brasil bersama Ancelotti dan Inggris bersama Tuchel menjadi perhatian besar. Jika salah satu berhasil mengangkat trofi, mereka akan mencetak sejarah baru sepak bola dunia.(*)

BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Tangis Tragis Senegal di Tangan Belgia

Back to top button