Crispy

Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Bakal Dihadiri 35 Juta Orang, Polisi Iran Siaga Satu!

JERNIH — Republik Islam Iran bersiap menggelar upacara pemakaman terbesar dalam sejarah kemanusiaan modern. Otoritas keamanan Teheran memperkirakan hingga 35 juta orang—atau setara dengan sepertiga dari total populasi Iran—akan tumpah ruah ke jalanan untuk melepas kepergian mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei.

Mengantisipasi gelombang massa yang masif tersebut, Kepolisian Nasional Iran resmi memberlakukan status Siaga Satu (High Alert). Langkah ini diambil seiring disusunnya skenario pengamanan super ketat yang akan membentang di tiga kota besar lintas negara.

Sebagaimana diketahui, pemimpin karismatik berusia 86 tahun yang bertakhta sejak 1989 itu tewas dalam serangan udara kilat pada 28 Februari lalu, sebuah insiden berdarah yang menandai pecahnya perang terbuka antara poros AS-Israel melawan Iran. Kematian Khamenei memicu suksesi kepemimpinan kedua sejak Revolusi 1979, di mana Majelis Ahli (Assembly of Experts) kini telah menunjuk putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai penerus takhta.

Berdasarkan laporan Kantor Berita Tasnim, rangkaian ritual berkabung nasional ini akan memakan waktu berhari-hari dengan memobilisasi jutaan pelayat di rute-rute suci:

  • 3 & 4 Juli 2026: Upacara penghormatan terakhir dan pelepasan perdana akan digelar di kompleks ibadah Mosalla, Teheran.
  • 5 Juli 2026: Jenazah akan diarak dalam prosesi kolosal di kota suci Qom.
  • 7 Juli 2026: Jasad Sang Ayatullah akan diterbangkan ke Irak untuk prosesi penghormatan oleh komunitas Syiah setempat.
  • 8 Juli 2026: Jenazah dikembalikan ke Iran untuk ritual akhir dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Mashhad.

Pihak Kepolisian Lalu Lintas Iran memproyeksikan konsentrasi massa akan terpecah ke dalam angka yang fantastis: sekitar 6 hingga 17 juta pelayat akan memadati Teheran, 3 hingga 5 juta di Qom, dan 3,5 hingga 8 juta massa akan mengunci kota Mashhad.

Skala pemakaman ini memaksa otoritas lalu lintas memutar otak demi menghindari kelumpuhan total (gridlock). Direktur Operasi Korlantas Iran memperkirakan sedikitnya 1,9 juta kendaraan akan merangsek masuk ke ibu kota Teheran secara bersamaan selama prosesi berlangsung.

Arus kendaraan tersebut diprediksi akan menyontek jalur-jalur urat nadi utama yakni 30 persen kendaraan masuk via Tol Karaj dan Provinsi Alborz, 16 persen melalui Tol Pardis serta 13 persen memadati jalur bebas hambatan Teheran-Qom.

Selain itu, sekitar 450.000 kendaraan diproyeksikan menyemut di Qom, dan hampir 1,4 juta armada bergerak menuju Mashhad. Untuk mengantisipasi kelangkaan logistik di jalan, pemerintah menyiagakan SPBU portabel/bergerak di sepanjang rute, memberlakukan larangan melintas bagi truk muatan berat, serta membuka jalur khusus steril untuk ambulans dan posko medis darurat di setiap titik kerumunan.

Meski angka estimasi 35 juta orang yang dirilis pemerintah Iran terdengar sangat ambisius dan di luar nalar bagi sebagian pengamat barat, sejarah mencatat bahwa Iran memang memiliki daya mobilisasi massa yang magis dalam urusan perkabungan pemimpin suci mereka.

Sebagai perbandingan, saat pendiri Republik Islam Iran, Ayatullah Ruhollah Khomeini, wafat pada tahun 1989, upacara pemakamannya dihadiri oleh 10,2 juta orang—atau seperenam dari total populasi Iran kala itu. Hingga saat ini, pemakaman Khomeini masih memegang rekor sebagai salah satu kumpulan manusia terbesar dalam catatan sejarah bumi.

Namun, rekor tersebut juga menyisakan trauma mendalam. Pemakaman tahun 1989 itu berakhir dengan kekacauan total (chaos). Jutaan pelayat yang histeris berhasil menjebol barikade keamanan, merangsek dan mengepung peti mati Khomeini hingga memaksa otoritas menunda pemakaman selama beberapa jam. Akibat desak-desakan maut tersebut, sedikitnya 8 orang tewas dan ratusan lainnya luka parah.

Kini, dengan angka proyeksi tiga kali lipat lebih besar di tengah situasi perang regional yang belum sepenuhnya padam, kepolisian Iran benar-benar diuji untuk memastikan bahwa penghormatan terakhir bagi sang Ayatullah tidak berubah menjadi tragedi kemanusiaan baru.

Back to top button