Crispy

Pasokan Barang Kembali Masuk Gaza, Warga Palestina Sudak Tidak Memiliki Daya Beli

JERNIH – Kembalinya sejumlah komoditas di pasar-pasar Kota Gaza pasca-blokade ketat tak lantas menjadi angin segar bagi warga sipil. Bagi jutaan pengungsi Palestina yang kehilangan pekerjaan dan tabungan akibat perang berkelanjutan, keberadaan barang di rak pedagang hanyalah “pajangan” yang tak terjangkau.

Di tengah lonjakan inflasi bahan pangan yang meroket hingga 102 persen dibanding sebelum perang, krisis likuiditas tunai kini mencekik warga yang bertahan hidup di reruntuhan.

Di sebuah ruang kelas sempit Sekolah Model Remal, Kota Gaza, Ghadeer Nassar berjuang memberi makan tujuh anaknya. Tanpa penghasilan tetap dari suaminya yang hanya mengandalkan pekerjaan serabutan berupah 7 hingga 10 shekel ($2,27–$3,25) sehari, Nassar terpaksa mengambil keputusan ekstrem.

Ia telah menjual cincin kawin dan ponsel suaminya demi membelikan makanan dasar bagi anak-anaknya. Saat uang tunai benar-benar habis, sistem barter menjadi jalan pintas terakhir.

“Saya pernah menukar satu kilogram beras dengan empat kilogram lentil agar bisa memberi makan keluarga lebih lama. Saya tidak membeli apa yang saya inginkan, saya hanya membeli apa yang mampu saya bayar,” tutur Nassar, mengutip Al Jazeera.

Kondisi ekonomi yang hancur memaksa Nassar menyajikan “sup palsu” saat tak ada bahan makanan tersisa. “Sering kali saya tidak punya apa-apa untuk anak-anak. Saya merebus air yang diberi bumbu penyedap rasa sayuran, lalu mereka meminumnya tanpa ada potongan sayur atau daging sama sekali. Ketakutan terbesar saya adalah jika hari ini adalah hari terbaik kami, dan yang terburuk justru baru akan datang,” keluhnya.

Penurunan daya beli ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha lokal. Maher al-Khudari, seorang pemilik toko di Kota Gaza, menyebut pola konsumsi warga telah bergeser drastis dari skala kilogram menjadi pembalian per biji.

Al-Khudari kini menghadapi dilema moral dan finansial harian: pelanggan membutuhkan bahan pokok, namun tak memiliki uang tunai. “Orang-orang datang ingin berutang, tetapi situasi mereka sangat sulit. Jika saya memberikan kredit kepada semua orang yang membutuhkan, saya akan bangkrut karena seluruh warga Gaza saat ini berada dalam kemiskinan,” jelas al-Khudari.

Laporan World Food Programme (WFP) dan data PBB mengonfirmasi bahwa meskipun arus truk komersial dan bantuan kemanusiaan meningkat dalam dua bulan terakhir, tingkat ketidakmampuan warga untuk membeli barang (unaffordability) justru berada di titik tertinggi.

Pakar Ekonomi Palestina, Mohammed Abu Jiab, menegaskan bahwa melimpahnya stok komoditas di pasar bukan cerminan dari aktivitas ekonomi yang sehat, melainkan ilusi pasar akibat krisis likuiditas tunai yang parah.

Indikator Ekonomi GazaKondisi Saat Ini (Laporan PBB & Analis)
Indeks Harga Konsumen PanganNaik 102% dibanding level pra-perang
Akses Likuiditas TunaiKelangkaan uang fisik & hilangnya lapangan kerja masif
Pola Konsumsi WargaBeralih penuh pada bantuan kemanusiaan & barang subsistensi
Prospek PemulihanTerhambat oleh penolakan rekonstruksi jangka panjang

Abu Jiab menambahkan, pemulihan ekonomi Gaza tidak akan pernah terjadi hanya dengan membanjiri pasar menggunakan barang dagangan. Tanpa adanya pembukaan lapangan kerja, penciptaan arus pendapatan, dan stabilitas politik jangka panjang—yang terus dihambat oleh pendudukan—populasi Gaza akan terus terperangkap dalam ketergantungan total pada bantuan kemanusiaan.

Back to top button