Crispy

Ribuan Pengungsi Gaza Terjebak dalam Tenda yang Berubah Menjadi ‘Oven’ Saat Musim Panas

JERNIH – Di tengah reruntuhan akibat perang, ratusan ribu warga Palestina di Jalur Gaza kini harus menghadapi musuh baru yang tak kasat mata: gelombang panas musim panas yang ekstrem. Tenda-tenda plastik yang menjadi tempat perlindungan mereka kini berubah menjadi ruang pengap yang menyesakkan, mengancam nyawa orang sakit dan anak-anak.

Tanpa listrik, kipas angin, maupun air bersih yang cukup, kondisi di kamp-kamp pengungsian telah mencapai titik nadir kemanusiaan. Di wilayah barat Kota Gaza, Amina Abu Awda harus berjuang merawat suaminya yang menderita penyakit kulit kronis di dalam tenda nilon yang sempit. Tanpa aliran listrik untuk menjalankan kipas angin, kondisi suaminya memburuk drastis seiring meningkatnya suhu.

“Tidak ada lagi yang tersisa untuk meringankan penderitaan suami saya,” ujar ibu enam anak tersebut. “Saat tengah hari, tenda nilon yang tertutup ini berubah menjadi oven. Dia tidak bisa tidur karena gatal-gatal dan suhu yang mencekik”.

Kisah serupa datang dari Mahmoud al-Deiri (60), pengungsi di barat Khan Younis yang menderita masalah pernapasan kronis. Ia terpaksa duduk di luar tenda di bawah terik matahari hingga terbenam, karena suhu di dalam tenda sudah melampaui batas ketahanan manusia.

“Saat malam, panas tetap terperangkap di dalam tenda. Saat siang, kami melarikan diri ke luar hanya untuk menghadapi debu, serangga, dan kerumunan orang,” kata Mahmoud. Ia bahkan menceritakan istrinya pingsan beberapa kali akibat panas ekstrem dan dehidrasi.

Krisis air memperparah keadaan. Jatah air yang diterima sangat terbatas, sehingga hampir tidak mungkin digunakan untuk sekadar mendinginkan badan.

Anak-anak di Gaza utara menjadi kelompok yang paling terdengar tangisannya. Yousef Mohammed (12), menceritakan bagaimana ia harus membasahi baju adik perempuannya agar sang adik bisa berhenti menangis dan tidur sejenak di tengah udara tenda yang berat dan panas.

Hari-hari mereka dihabiskan dalam siklus tanpa akhir: mengantre air di bawah terik matahari, lalu kembali ke tenda yang menyesakkan tanpa ventilasi yang layak.

Tenaga medis di Gaza memperingatkan adanya lonjakan tajam kasus kelelahan akibat panas (heat exhaustion), dehidrasi parah, dan infeksi kulit. Namun, minimnya pasokan medis dan hancurnya fasilitas kesehatan membatasi kemampuan dokter untuk merespons krisis ini.

Ismail al-Thawabta, Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah di Gaza, menegaskan bahwa sebagian besar tenda pengungsian sudah tidak layak huni. “Tenda-tenda ini tidak memberikan perlindungan nyata. Mereka terpapar panas, dingin, hujan, dan debu tanpa proteksi sama sekali,” jelasnya.

Kombinasi suhu ekstrem, kelangkaan air, dan runtuhnya sistem kesehatan kini mempercepat penyebaran penyakit di seluruh wilayah kantong yang hancur tersebut.

Back to top button