Crispy

Satu Tahun Serangan Teror Bermotif Rasisme di Hanau

Tobias Rathjen, 43 tahun, ketika itu memburu warga berlatar belakang migran dengan mobil di dua Sisha Bar, dan menembak mati sembilan orang. Kemudian dia pulang ke rumahnya, membunuh ibunya lalu bunuh diri.

JERNIH—Pada 19 Februari 2020, seorang pria Jerman berusia 43 tahun menembak mati Sembilan warga berlatar belakang migran di dua Shisha Bar di kota Hanau. Setelah itu dia kembali ke rumahnya, membunuh ibu dan dirinya sendiri.

Serangan teror berlatar belakang rasisme pada 19 Februari 2020 di kota Hanau, dekat Frankfurt, mengguncang Jerman. Tobias Rathjen, 43 tahun, ketika itu memburu warga berlatar belakang migran dengan mobil di dua Sisha Bar, dan menembak mati sembilan orang. Kemudian dia pulang ke rumahnya, membunuh ibunya lalu bunuh diri.

Aksi teror itu terjadi sekitar pukul 10 malam waktu setempat. Pelaku mendatangi dua bar yang diketahui sebagai tempat berkumpul warga keturunan Turki. Di bar pertama, dia menembak mati tiga tamu dan pelayan bar yang melayani mereka. Dia kemudian pergi ke bar lain yang jaraknya dua kilometer dari lokasi pertama dan melanjutkan aksi penembakan, menewaskan lima orang, lalu menghilang. Polisi segera melakukan pengejaran besar-besaran dengan melibatkan helikopter.

Belakangan diketahui, Tobias Rathjen kembali ke rumahnya, menembak mati ibunya, sedangkan ayahnya sempat menyelamatkan diri, lalu dia melakukan bunuh diri. Polisi menemukan keduanya di rumah itu pagi hari sekitar pukul lima pagi, setelah mendobrak pintu masuk.

Tobias Rathjen

Menurut pengusutan pihak kejaksaan, Tobias Rathjen bertindak sendirian, tanpa bantuan dari orang lain. Selain itu, pelaku dinyatakan menderita gangguan mental.

Serangan rasisme yang “merusak segalanya”

Hanau adalah kota kecil dengan 100 ribu penduduk, sekitar 25 kilometer dari kota Frankfurt. Hingga kini, keluarga korban masih mengalami trauma akibat kejadian mengerikan itu. Mereka menilai masih terlalu sedikit yang dilakukan otoritas di Jerman untuk mencegah tragedi seperti itu terulang kembali.

Cetin Gueltekin kehilangan adiknya, Goekhan, dalam serangan malam itu. “Rasanya seperti dia datang ke apartemen kami, melempar bom dan pergi. Bayangkan saja … semuanya rusak, semuanya rusak. Tidak ada yang tersisa dari semuanya,” katanya.

Goekhan berusia 37 tahun ketika dia dibunuh, sembilan tahun lebih muda daripada kakaknya, Cetin. Setelah kematiannya, orang tua mereka seperti kehilangan pijakan. Ayahnya meninggal karena kanker lima minggu kemudian. Ibunya hanya bisa mengatasi semuanya dengan mengkonsumsi berbagai macam obat.

“Belum ada satu malam pun aku bisa tertidur sepanjang malam. Karena pada malam hari, saat gelap, saat orang meletakkan kepala di atas bantal, saat itulah berbagai pertanyaan muncul.”

Memang banyak pertanyaan muncul selama penyelidikan serangan teror ini. Mengapa seseorang yang menderita gangguan mental diizinkan memiliki senjata? Bagaimana dia bisa punya SIM? Mengapa otoritas Jerman tidak memeriksa atau mengawasinya, sekalipun dia beberapa bulan sebelumnya mengirim surat ke kantor kejaksaan Jerman yang isinya kacau, memuat teori konspirasi dan menunjukkan kebencian terhadap warga asing?

Penanggulangan rasisme dan ekstremisme kanan jadi prioritas

“Tentu saja ini situasi yang sulit bagi keluarga korban, karena pelakunya tidak bisa diadili lagi, dan banyak pertanyaan belum terjawab,”kata Helmut Fünfsinn dari pemerintah daerah Hessen, yang bertugas mendampingi keluarga korban.

Tapi Andreas Zick, direktur institut penelitian konflik dan kekerasan IKG di Universitas Bielefeld mengatakan, serangan teror Hanau telah mengubah Jeman. “(Peristiwa) Ini telah menciptakan suasana, di mana rasisme dan kekerasan serupa dianggap masalah yang sangat serius.” Beberapa UU diperketat dan lebih banyak dana dianggarkan dalam upaya memerangi rasisme dan ekstremisme kanan.

Kalangan politik sekarang meletakkan rasisme sebagai prioritas utama, antara lain dengan membentuk Komisi Parlemen untuk Penanggulangan Ekstremisme Kanan dan Rasisme, kata pejabat urusan Migrasi, Pengungsi dan Integrasi, Annette Widmann-Mauz. [Deutsche Welle]

Back to top button