CrispyVeritas

Skandal ‘Inside Trading’ Perang Iran: Taruhan Mencurigakan Rp110 Triliun Sesaat Sebelum Pengumuman Trump

  • Saat dunia menderita akibat kenaikan harga BBM, ada pihak yang “berpesta” dengan memanfaatkan informasi rahasia perang Iran.
  • Komentar dari para pakar industri yang menyebut transaksi ini “sangat aneh” dan “terinformasi dengan sangat baik.”

JERNIH – Di balik deru mesin perang di Timur Tengah, sebuah skandal finansial berskala raksasa kini tengah dibongkar. Investigasi terbaru dari Reuters mengungkap adanya taruhan mencurigakan senilai 7 miliar dolar AS (sekitar Rp111,7 triliun) di pasar minyak global, yang dilakukan hanya beberapa menit sebelum Presiden Donald Trump atau pejabat Iran membuat pengumuman penting terkait perang.

Aktivitas ini memicu penyelidikan besar-besaran oleh otoritas hukum Amerika Serikat, termasuk Departemen Kehakiman (DOJ), atas dugaan penggunaan informasi rahasia negara untuk keuntungan pribadi.

Pola perdagangan ini terdeteksi pada empat tanggal spesifik: 23 Maret, 7 April, 17 April, dan 21 April 2026. Pada momen-momen tersebut, pesanan jual (short positions) dalam volume masif dieksekusi di bursa hanya dalam jendela waktu yang sangat sempit—bahkan terkadang hanya satu menit—sebelum kebijakan besar diumumkan. Setiap kali pengumuman keluar, harga minyak dunia langsung anjlok hingga 15%, membuat si spekulan meraup keuntungan ratusan juta dolar AS secara instan.

Awalnya, kecurigaan hanya tertuju pada kontrak minyak mentah senilai 2,6 miliar dolar AS. Namun, analisis data bursa yang lebih luas menemukan pola serupa pada berbagai produk turunan lainnya yakni minyak mentah benchmark dunia (Brent dan WTI), kontrak berjangka bahan bakar diesel dan bensin serta kontrak berjangka jangka panjang (longer-dated contracts).

Hal ini menunjukkan bahwa pelaku memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana setiap pengumuman akan memengaruhi seluruh rantai pasokan energi global.

Jorge Montepeque dari Onyx Capital Group, tokoh yang membantu merancang sistem penetapan harga minyak modern di Platts, menyebut volume transaksi ini “sangat tidak biasa dan sangat terkonsentrasi.”

Senada dengan itu, Adi Imsirovic dari Center for Strategic and International Studies menyatakan bahwa transaksi tersebut tampak dilakukan oleh pihak yang “well-informed” atau memiliki informasi eksklusif. Ia menegaskan bahwa regulator AS sebenarnya memiliki alat yang mumpuni untuk melacak siapa di balik transaksi ini jika mereka benar-benar ingin bertindak.

Skala skandal ini telah memaksa tiga lembaga besar AS untuk bergerak serentak. Departemen Kehakiman (DOJ) membuka investigasi kriminal. Sementara CFTC (Commodity Futures Trading Commission) menyelidiki manipulasi pasar serta CME Group melakukan audit internal pada bursa Chicago.

Gedung Putih langsung memberikan pernyataan bahwa seluruh pegawai federal terikat oleh aturan etika ketat yang melarang penggunaan informasi non-publik untuk keuntungan finansial. Pernyataan ini dibaca publik sebagai upaya meredam spekulasi bahwa ada “orang dalam” pemerintahan yang membocorkan rahasia negara ke pialang saham.

Skandal ini menunjukkan bahwa krisis energi yang sedang kita alami—dan yang sedang dibahas para pemimpin ASEAN di Filipina—ternyata menjadi ladang keuntungan bagi segelintir orang. Saat rakyat dunia menderita akibat kenaikan harga, ada pihak yang “berpesta” dengan memanfaatkan informasi rahasia pertempuran.

Back to top button