Crispy

Takut Bernasib Seperti Ukraina, Finlandia Pertimbangkan Gabung NATO

  • Finlandia dan Rusia punya sejarah rumit. Lenin akui kemerdekaan Finlandia, Stalin berusaha mencaploknya.
  • Sepanjang Perang Dingin, Finlandia mempertahankan kebijakan netral meski Uni Soviet terus menekan.
  • Invasi Rusia ke Ukraina bikin Finlandia takut, dan pertimbangkan gabung NATO.

JERNIH — Selama tujuh dekade Finlandia menolak memihak atau menentang Rusia, dan hidup dalam damai kendati dengan kedaulatan terbatas.

Kini, setelah melihat invasi barbar Rusia ke Ukraina, Finlandia mempertimbangkan kebijakan netralitasnya. Negara yang berbatasan langsung dengan Rusia sepanjang 1.340 kilometer itu berencana gabung NATO.

Kamis 10 Maret Presiden Finlandia Sauli Niinisto mengatakan negaranya akan meninjau kebijakan keamanannya, sebelum memutuskan apakah akan bergabung dengan NATO.

BACA JUGA:

“Ketika alternatif dan risiko telah dianalisis, kesimpulan akan diambil,” kata Niinisto kepada wartawan. “Kami juga memiliki risiko aman untuk masa depan kami. Kami harus meninjaunya dengan cermat. Bukan penundaan, tapi hati-hati.”

Rabu lalu, PM Finlandia Sanna Marin mengatakan diskusi tentang kemungkinan gabung NATO harus dilakukan di beberapa tingkatan, dengan maksud membangun konsensus nasional.

Yle, penyiar publik, menggelar jajak pendapat. Hasilnya, 53 persen penduduk Finlandia mendukung gagasan bergabung dengan NATO. Terjadi peningkatan 19 persen dibanding lima tahun lalu.

Petisi warga untuk mengadakan referendum tentang tawaran NATO kepada Finlandia mengumpulkan 50 ribu tanda tangan, yang cukup bagi parlemen untuk memperdebatkannya dalam waktu kurang dari sepekan.

“Sebelum Rusia meluluh-lantakan Ukraina, saya tidak ingin harus memilih antara Timur dan Barat,” kata Joonas, seorang pembuat bir berusia 30 tahun, kepada Aljazeera. “Sekarang, setelah saya melihat apa yang terjadi di Ukraina, saatnya memihak.”

Kalimat Joonas mewakili pergeseran opini publik. Pia Koivunen, sejarawan di Universitas Turku, mengatakan; “NATO telah lama menjadi topik tidak ingin dibahas secara serius oleh para politisi. Setelah invasi Rusia ke Ukraina, opini berubah secara radikal. Ini menjadi dasar untuk membicarakan bergabung dengan NATO.”

Sejarah Rumit

Sejarah Finlandia-Finlandia bermulai dari abad ke-19. Rusia mencaplok Finlandia dari tangan Swedia lewat perang 1808.

“Finlandia selalu menjadi perbatasan Timur-Barat, bagian pertama dari Kerajaan Swedia, dan kadipaten agung otonom Kekaisaran Rusia, sampai akhirnya merdeka sejak 1917,” kata Koivunen.

Sepanjang sejarah, masih menurut Koivunen, ada perang dan penderitaan. Tapi juga ada kontak bisnis dan budaya antarnegara.

Ketika Rusia di bawah Tsar Alexander II, Finlandia diizinkan memiliki status khusus dalam Kekaisaran Rusia. Finlandia punya mata uang sendiri, dan menjalankan sebagian besar urusan sendiri.

Namun, Bahasa Finlandia tidak diakui sebagai bahasa resmi sampai 1902.

Setelah Revolusi Bolshevik 1917, Finlandia memerdekakan diri. Vladimir Lenin merestui pemisahan Finlandia, tapi Joseph Stalin tidak.

November 1939, Stalin mencoba mencaplok Finlandia setelah Partai Komunis Finlandia gagal melakukan revolusi dan mengambil alih kekuasaan.

Perang Musim Dingin

Orang-orang Finlandia memperlihatkan kemampuan melawan. Baron Carl Gustaf Emil Mannerheim, yang memerdekakan Finlandia dari Kekaisaran Rusia, mungkin orang pertama yang paling tahu akan ketidak-tulusan Rusia ketika mengakui kemerdekaan Finlandia.

Sebagai mantan field marshal Kekaisaran Rusia, Mannerheim tahu apa yang dilakukan. Ia membangun benteng di sepanjang perbatasan Finlandia-Rusia, yang kemudian populer dengan sebutan Garis Mannerheim.

Persedian aspirin dalam jumlah besar, dan heroin — yang saat itu legal — membuat orang-orang Finlandia berjuang tanpa tidur dan hidung terus meler.

Uni Soviet, negara yang berdiri setelah Revolusi Bolshevik, menderita kerugian besar. Dari sini lahir penembak runduk terbaik sepanjang masa bernama Simo Hayha. Ia dijuluki White Death karena mampu menewaskan 505 serdadu Uni Soviet, dan catatannya terkonfirmasi.

“Perang Musim Dingin membentuk identitas nasional Finlandia,” kata Koivunen.

Sebelumnya, Finlandia terlibat dalam Perang Saudara 1918 dengan dua masyarakat; nasionalis dan komunis, bentrok hebat. Namun, Perang Musim Dingin menyatukan keduanya.

Pada Perang Dunia II, Finlandia bersekutu dan kalah. Akibatnya, Finlandia harus membayar ganti rugi kepada Uni Soviet.

Janji Netralitas

Usai Perang Dunia II, dunia memasuki Perang Dingin. Finlandia menemukan dirinya dalam posisi unik, setelah pemimpinnya menandatangani perjanjian dengan Moskwa tahun 1948.

Isi pernjanian, Finlandia tidak bergabung dengan NATO atau Pakta Warsawa pimpinan Uni Soviet. Artinya, Finlandia netral, dan bisa bergerak fleksibel.

Namun yang terjadi tidak demikian. Uni Soviet terus menekan Finlandia.

“Periode ini disebut Finlandisasi. Kami berada di lingkungan keamanan Uni Soviet, dan harus mempertimbangkan kepentingan militer dan kebijakan luar negeri Rusia,” kata Markku Kangaspuro, profesor studi Rusia dan Eropa Timur di Universitas Helsinki.

“Pada saat sama, kami mengembangkan demokrasi parlementer dan ekonomi pasar tipe kami sendiri,” lanjutnya.

Uni Soviet runtuh dan Perang Dingin usai. Finlandia lebih dekat ke Barat, dengan menjadi anggota Uni Eropa tahun 1995. Namun, itu dilakukan dengan tidak membuat tetangga raksasa yang gampang marah jadi naik pitam.

“Kami mempertahankan posisi nonblok, meski kami bekerja sama dengan Swedia, AS, dan juga NATO,” kata Kangaspuro.

Lambat, Hati-hati

Menurut Kangaspuro, pendekatan Finlandia tetap lambat dan hati-hati. “Keinginan bergabung dengan NATO adalah efek kejutan serangan Rusia ke Ukraina,” katanya. “Orang-orang ketakutan, dan bereaksi.”

Sejauh ini, masih menurut Kangaspuro, Rusia tidak menimbulkan ancaman militer bagi Finlandia. Tidak hari, dan juga minggu depan. Jadi, menurutnya, bukan saatnya membuat keputusan untuk mengajukan keanggotaan NATO dan membuat ketegangan baru antara Eropa dan Rusia.

“Sepertinya, Swedia juga paa posisi ini,” ujar Kangaspuro.

Joonas punya pengalaman menarik dalam perjalanannya ke Rusia. “Ketika saya mengatakan dari Finlandia, orang-orang di Rusia mengungkapkan rasa hormat,” kenang Joonas. “Anak-anak muda Rusia tahu hubungan sejarah Finlandia-Rusia, dan kami akrab.”

Back to top button