
Hubungan mesra Donald Trump dan Benjamin Netanyahu berada di titik nadir. Sebuah rekaman telepon yang bocor mengungkap kemarahan besar Trump yang menyebut Netanyahu merusak jalur perdamaian Timur Tengah demi ambisi politik pribadinya.
WWW.JERNIH.CO – Hubungan antara Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang dahulu dikenal sangat mesra, kini bak kucing dan anjing. Trump secara terbuka melontarkan kritik pedas, bahkan menyebut Netanyahu sebagai sosok yang “tidak tahu berterima kasih” (ungrateful).
Dalam sebuah pembicaraan telepon yang bocor ke publik pada 1 Juni 2026, Trump secara kasar meluapkan amarahnya kepada Netanyahu. “You’re f**king crazy. You’d be in prison if it weren’t for me. I’m saving your a. Everybody hates you now,” sembur Trump.
(Kamu gila. Kamu sudah dipenjara kalau bukan karena aku [merujuk pada dukungan politik AS saat kasus korupsi Netanyahu]. Aku menyelamatkanmu, tapi sekarang semua orang membencimu).
Perseteruan ini memicu pertanyaan besar tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar kepemimpinan kedua tokoh tersebut.
Akar keretakan hubungan ini bersifat personal sekaligus strategis. Di satu sisi, Trump memiliki kekesalan historis yang dipicu sejak akhir masa jabatan pertamanya, ketika Netanyahu langsung mengucapkan selamat kepada Joe Biden atas kemenangannya pada Pemilu AS 2020—sebuah langkah yang dianggap Trump sebagai pengkhianatan emosional setelah semua kebijakan pro-Israel yang ia keluarkan (seperti pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem).
Namun, memasuki lanskap politik terbaru, persoalan mendasar bergeser ke ranah strategi militer dan geopolitik Timur Tengah. Trump, yang memosisikan dirinya sebagai “arsitek perdamaian” yang agresif, telah menekan keras agar perang di Gaza segera dihentikan demi stabilitas kawasan dan pembebasan sandera.
Ketika Trump berusaha mendorong gencatan senjata komprehensif melalui lobi dengan negara-negara Arab seperti Qatar dan Turki, pihak Israel di bawah Netanyahu kerap melakukan aksi militer sepihak yang mendahului atau bahkan merusak kesepakatan tersebut. Puncaknya terjadi saat Israel melancarkan serangan udara tak terduga ke wilayah kedaulatan sekutu tanpa restu penuh dari Washington, yang membuat Trump berang dan merasa Netanyahu bertindak egois tanpa memedulikan modal politik yang telah dipertaruhkan AS.
Netanyahu terus memperluas serangan militer ke Lebanon (target Hezbollah) dan wilayah sekitarnya, termasuk pengeboman gedung-gedung di Beirut yang menewaskan banyak warga sipil.
Aksi Netanyahu ini dinilai Trump merusak negosiasi nuklir rahasia antara AS dan Iran yang sedang diupayakan oleh pemerintahan Trump. Iran bahkan sempat mengancam akan menarik diri dari meja perundingan damai karena menganggap AS tidak bisa mengontrol sekutunya (Israel).
Di seberang meja, Netanyahu menghadapi dilema eksistensial yang sangat pelik. Niat utamanya berakar pada dua hal: kelangsungan politik domestiknya dan ambisi keamanan absolut Israel.
Secara domestik, pemerintahan Netanyahu disokong oleh koalisi sayap kanan ekstrem yang menolak keras segala bentuk kompromi atau penghentian perang sebelum Hamas dan proksinya benar-benar hancur total.
Jika Netanyahu tunduk pada tekanan gencatan senjata yang diinisiasi Trump, koalisi pemerintahannya terancam bubar, yang dapat memicu pemilu dipercepat di Israel—sebuah skenario yang sangat dihindari Netanyahu karena popularitasnya yang sedang merosot.
Oleh karena itu, niat strategis Netanyahu adalah terus mengulur waktu dan memperluas front pertempuran (termasuk eskalasi baru-baru ini di Lebanon selatan melawan Hezbollah) guna menciptakan “zona aman total” versi Israel sekaligus mempertahankan kekuasaannya, meskipun harus menentang garis kebijakan yang diinginkan oleh Gedung Putih.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa Trump akhirnya menggunakan taktik steamrolled (melibas/menekan habis-habisan) Netanyahu dalam panggilan telepon terakhir, memaksa Israel membatalkan rencana serangan udara lanjutan di Beirut demi menjaga gencatan senjata yang diumumkan Trump
Dunia internasional memandang perseteruan ini dengan kombinasi antara kecemasan dan kalkulasi taktis. Negara-Negara Arab (Kawasan Timur Tengah) seperti Qatar, Mesir, dan sekutu regional lainnya memanfaatkan momentum ketegangan ini untuk memperkuat posisi tawar mereka. Mereka mendukung ketegasan Trump untuk memaksa Israel menghentikan agresi demi stabilitas ekonomi dan keamanan regional.
Sementara Uni Eropa dan PBB dengan mayoritas negara Barat melihat keretakan ini sebagai peluang agar AS bisa menekan Israel lebih keras guna mematuhi hukum internasional, membuka jalur kemanusiaan yang lebih masif, serta menerima solusi dua negara (two-state solution) yang selama ini ditolak mentah-mentah oleh kabinet Netanyahu.
Publik Israel sendiri terbelah. Kubu oposisi dan keluarga para sandera menggunakan situasi ini untuk mengkritik Netanyahu karena telah merusak hubungan strategis paling krusial Israel dengan sekutu nomor satunya, Amerika Serikat, demi ambisi politik pribadi.(*)
BACA JUGA: Trump dan Netanyahu Ketemu Batunya!






