
Dampak aksi genosida zionis Israel dalamnya perangnya di Gaza ternyata merusak hingga ke dalam rahim. Ini bukan lagi soal statistik korban jiwa, tapi soal masa depan generasi yang terlahir cacat akibat polusi kimia dan kelaparan ekstrem.
JERNIH – Perang di Jalur Gaza tidak hanya menyisakan reruntuhan bangunan, tetapi juga menciptakan krisis genetik yang mengerikan. Para dokter di Gaza melaporkan lonjakan drastis bayi yang lahir dengan cacat fisik dan kelainan saraf yang parah. Fenomena ini diduga kuat akibat paparan gas beracun dari bom, polusi lingkungan, serta kelaparan akut yang diderita ibu hamil.
Data medis menunjukkan bahwa tingkat cacat lahir di Gaza telah meningkat dua kali lipat sejak perang pecah. Jika sebelum perang tercatat sekitar 32 kasus per 10.000 kelahiran, kini angkanya melonjak menjadi 64 kasus.
Dr. Ahmed al-Farra, Kepala Departemen Pediatrik di Kompleks Medis Nasser, Khan Younis, mengungkapkan kengerian yang ia saksikan. Bayi-bayi terlahir dengan berbagai kelainan yang memilukan. Misalnya mengalami kelainan saraf sehingga bayi lahir tanpa kepala (anencephaly), hidrosefalus, atau saraf tulang belakang terbuka.
Selain itu terdapat bayi mengalami cacat fisik seperti kehilangan anggota tubuh, kelainan jantung, hingga bibir sumbing. Ada juga bayi yang lahir dengan wajah tampak seperti “terbakar di dalam rahim”. “Kami melihat lonjakan kasus keguguran hingga 300 persen, serta kematian ratusan janin di dalam kandungan,” ujar Dr. Ahmed, mengutip laporan The New Arab (TNA).
Dampak Senjata Kimia dan Polusi Udara
Aya Mohammed Abu Shamala (24) menceritakan kisahnya. Saat hamil muda, rumahnya terpapar asap hitam pekat dari rudal yang meledak hanya beberapa meter di dekatnya. Ia tidak bisa bernapas selama beberapa menit. Kini, putra pertamanya, Mohammed, lahir dengan cacat jantung dan kelainan pada kaki.
Pengalaman serupa dialami Majdoline Ezzat (38). Ia menghirup asap kimia dari pabrik yang hancur dibom saat usia kehamilannya enam bulan. Putranya, Yahya, lahir dengan cacat tengkorak, paru-paru lemah, dan atrofi otot. “Kami tidur dengan suara ledakan dan bangun dengan kepulan asap,” kenangnya pedih.
Selain polusi, blokade total yang menghambat masuknya bantuan kemanusiaan menjadi faktor utama. Nutrisi penting seperti asam folat dan asam lemak yang dibutuhkan untuk pembentukan tabung saraf janin sangat sulit didapat.
Israa Fouad (31), yang mengungsi di sebuah sekolah yang penuh sesak, mengaku hanya makan sekali sehari, seringkali hanya nasi atau lentil. Akibatnya, putra ketiganya, Adam, lahir dengan masalah saraf tulang belakang.
“Kadang kami bertahan hidup berhari-hari hanya dengan roti kering dan makanan kaleng. Saya tidak makan buah selama berbulan-bulan, bahkan vitamin dari dokter tidak bisa ditemukan,” tutur Aya yang kini tinggal di tenda pengungsian al-Mawasi.
Situasi semakin diperparah dengan lumpuhnya sistem kesehatan. Ibu hamil tidak bisa melakukan pemeriksaan rutin (USG) karena akses jalan yang tertutup dan rumah sakit yang hancur. “Perang ini tidak hanya mencuri rumah kami, tapi juga mencuri hak anak-anak kami untuk lahir dengan sehat,” tambah Majdoline dengan penuh duka.






