Waspada Bahaya Hantavirus dari Hewan Pengerat

Hantavirus kembali menjadi topik pembicaraan hangat karena kemampuannya menyebabkan penyakit pernapasan serius yang sering kali berakibat fatal.
WWW.JERNIH.CO – Meskipun bukan virus baru, kemunculannya yang sporadis di berbagai wilayah sering kali memicu kekhawatiran akan potensi wabah. Memahami sifat dasar virus ini sangat penting untuk mencegah penularan dan menangani gejalanya secara dini.
Hantavirus adalah sekelompok virus yang utamanya ditularkan oleh hewan pengerat (rodensia). Tidak seperti virus flu atau COVID-19 yang menyebar antarmanusia dengan sangat mudah, Hantavirus memiliki mekanisme penyebaran yang sangat spesifik melalui lingkungan.
Di wilayah Amerika, virus ini umumnya menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), sebuah penyakit pernapasan berat. Sementara itu, di wilayah Eropa dan Asia, virus ini lebih sering menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang fungsi ginjal.
Penyebab utama penyakit ini adalah paparan terhadap virus yang dibawa oleh tikus atau mencit tertentu. Spesies seperti tikus rusa (deer mouse), tikus kaki putih, dan tikus padi merupakan inang alami virus ini. Penting untuk dicatat bahwa hewan pengerat yang membawa Hantavirus tidak tampak sakit; mereka adalah pembawa (vektor) yang terlihat sehat namun terus mengeluarkan virus melalui cairan tubuhnya.
Penularan Hantavirus ke manusia terjadi melalui proses yang disebut transmisi airborne atau melalui udara, namun bukan dari batuk manusia, melainkan dari sisa pembuangan tikus. Jalur utamanya melalui inhalasi (aerosolisasi). Ini adalah cara yang paling umum. Ketika urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengandung virus mengering dan tercampur dengan debu, virus dapat terangkat ke udara saat area tersebut dibersihkan atau diganggu. Manusia kemudian menghirup partikel debu yang terkontaminasi tersebut.
Juga dapat karena kontak langsung seperti menyentuh urine, kotoran, atau sarang tikus, lalu menyentuh hidung atau mulut sendiri tanpa mencuci tangan.
Meski jarang terjadi, gigitan dari tikus yang terinfeksi dapat menularkan virus langsung ke aliran darah manusia.
Gejala terkena Hantavirus sering kali menyerupai flu pada tahap awal, yang membuatnya sulit didiagnosis tanpa tes laboratorium. Gejala awal meliputi demam tinggi, nyeri otot (terutama di paha, punggung, dan bahu), serta rasa lelah yang luar biasa.
Setelah 4 hingga 10 hari, gejala akan memburuk secara drastis. Pasien mulai mengalami sesak napas hebat, batuk, dan penumpukan cairan di paru-paru. Karena perburukan ini terjadi sangat cepat, keterlambatan penanganan medis dapat berakibat fatal.
Hingga saat ini, belum ada vaksin spesifik yang tersedia secara luas untuk Hantavirus. Oleh karena itu, pengendalian tikus adalah kunci utama. Caranya dengan menutup akses yang bisa menjadi jalan masuk tikus.
Tidak membiarkan sisa makanan terbuka yang dapat mengundang tikus. Jika menemukan kotoran tikus, jangan menyapunya dalam keadaan kering karena akan membuat debu beterbangan.
Semprot area tersebut dengan disinfektan atau air pemutih terlebih dahulu, biarkan meresap, lalu bersihkan dengan sarung tangan dan masker.(*)
BACA JUGA: Dari Laut ke Mata, Ilmuwan Temukan Kaitan Virus Hewan Air dengan Kebutaan Permanen





