DepthVeritas

Hasbara, Operasi Narasi Berpeluru Tajam

Hasbara lebih dari sebuah strategi komunikasi; ia adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi negara Zionis. Ia bekerja di bawah sadar, menyusup ke dalam kurikulum, berita, hingga algoritma media sosial kita.

WWW.JERNIH.CO –  Dalam lanskap geopolitik modern, peperangan tidak lagi hanya mengandalkan mesiu dan baja, melainkan narasi dan persepsi. Inilah medan tempur bagi Hasbara, sebuah mesin propaganda canggih yang menjadi fondasi pertahanan citra global Israel.

Secara etimologis, Hasbara berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “penjelasan”. Namun, di balik istilah yang terdengar netral ini, Hasbara adalah strategi komunikasi resmi pemerintah Israel yang bertujuan menyebarkan narasi positif tentang negara tersebut sekaligus mendistorsi atau menangkal kritik internasional.

Bagi para kritikus, Hasbara adalah eufemisme dari propaganda sistematis. Jika diplomasi publik bertujuan membangun pemahaman antarnegara, Hasbara bekerja dengan mentalitas militer: menaklukkan opini publik, memenangkan perdebatan di media sosial, dan memastikan kebijakan Israel dipandang sah oleh mata dunia, apa pun realitas di lapangan.

Dari Jurnalisme

Konsep ini tidak lahir kemarin sore. Hasbara pertama kali digagas oleh Nahum Sokolow, seorang tokoh sentral Zionis dan pionir jurnalisme Ibrani di awal abad ke-20. Sokolow percaya bahwa gerakan Zionis tidak hanya butuh tanah, tetapi juga legitimasi moral yang kuat di mata dunia internasional.

Sejak berdirinya Israel pada 1948, Hasbara berevolusi dari sekadar rilis pers tradisional menjadi operasi digital masif yang melibatkan kementerian luar negeri, unit militer (IDF), hingga jaringan relawan sipil di seluruh dunia.

BACA JUGA: Tiga Syarat Mutlak Iran untuk Akhiri Perang dengan AS dan Israel

Israel menyadari posisinya yang kontroversial secara geopolitik. Hasbara diciptakan untuk beberapa tujuan krusial. Di antaranya untuk melegitimasi tindakan militer, dengan mengubah narasi agresi menjadi “pertahanan diri” (self-defense).

Ia juga berfungsi membentuk citra korban yakni mengarahkan perhatian dunia pada penderitaan Israel untuk menutupi krisis kemanusiaan di Palestina. Dengan kata lain playing victim.

Di sisi lain sebagai pinkwashing dan branding Israel. Caranya dengan mempromosikan Israel sebagai pusat teknologi, demokrasi, dan hak-hak LGBTQ+ (misalnya kampanye “Tel Aviv sebagai ibu kota gay”) guna membangun afinitas dengan kelompok progresif di Barat.

Target utamanya adalah masyarakat Barat, pembuat kebijakan di AS dan Uni Eropa, serta mahasiswa di kampus-kampus bergengsi. Melalui program seperti Hasbara Fellowships, mahasiswa dilatih untuk menjadi “duta” yang siap membela narasi Israel di ruang-ruang akademik.

Cara Kerja

Hasbara bekerja dengan teknik yang sangat rapi. Beberapa karakteristiknya seperti framing narasi. Misal jika ada warga sipil Palestina yang tewas, Hasbara akan segera membingkainya sebagai “perisai manusia” bagi kelompok lawan.

Teknik brikutnya mendelegitimasi kritik. Kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel sering kali segera dilabeli sebagai antisemitisme untuk membungkam argumen lawan secara moral.

Lantas ada pallywood. Ini adalah sebuah istilah yang dipopulerkan oleh mesin Hasbara untuk menuduh bahwa video penderitaan warga Palestina adalah sandiwara atau hasil rekayasa aktor.

Meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, Hasbara tetap beroperasi di sini melalui jalur-jalur non-formal yang sangat strategis. Ada jejak yang cukup kuat di Nusantara.

Misalnya ada upaya sistematis melalui undangan seminar, perjalanan gratis bagi jurnalis, atau beasiswa bagi tokoh-tokoh muda Indonesia untuk berkunjung ke Israel. Tujuannya adalah menciptakan efek “normalisasi” dalam pikiran para pemberi pengaruh (influencer) agar mereka membawa narasi moderat yang lebih memihak Israel sekembalinya ke tanah air.

BACA JUGA: Spanyol Tarik Duta Besarnya dari Israel sebagai Protes Serangan ke Iran dan Genosida Gaza

Menyelinap di Indonesia

Hasbara di Indonesia sering kali masuk melalui jargon “inovasi”. Mereka menonjolkan Israel sebagai Startup Nation untuk menarik minat pelaku bisnis dan anak muda. Dengan mengagumi teknologinya, diharapkan resistensi politik terhadap kebijakan Israel perlahan-lahan luntur.

Di media sosial, kita sering melihat akun-akun anonim atau “pasukan siber” yang menggunakan narasi serupa untuk mendebat sentimen pro-Palestina di kolom komentar berita lokal. Mereka sering menggunakan argumen “kita harus netral” atau “urus saja masalah dalam negeri,” yang sebenarnya merupakan taktik klasik untuk melemahkan solidaritas publik.

Kendati begitu Hasbara saat ini menghadapi tantangan terbesar sejak kelahirannya. Di era di mana video live streaming dari Gaza bisa diakses oleh siapa saja di TikTok atau X (Twitter), narasi “penjelasan” yang rapi mulai terlihat retak.

Muncul paradoks besar yaitu semakin keras Hasbara mencoba memoles citra Israel, semakin terlihat kontrasnya dengan realitas visual yang tersebar di internet. Di sinilah Hasbara mulai kehilangan taringnya bagi generasi Gen Z yang lebih kritis terhadap narasi arus utama. Namun, Anda jangan meremehkan kekuatan dana dan jaringan mereka yang masih sangat dominan di platform-platform besar.

Hasbara VS VoA/BC

Banyak orang mengidentikkan Hasbara sebagaimana Amerika punya Voice of America (VoA) atau Inggris memiliki British Council. Secara substansi dan doktrin operasional, terdapat perbedaan yang sangat fundamental antara Hasbara dengan lembaga seperti VOA (Voice of America) atau British Council.

Fokus utama British Council  adalah Soft Power melalui penyebaran bahasa, budaya, dan pendidikan. Targetnya adalah membuat orang “menyukai” Inggris agar tercipta hubungan ekonomi dan politik yang lancar. Lalu VOA (Voice of America) adalah media penyiaran yang didanai pemerintah AS untuk menyebarkan nilai-nilai demokrasi dan kebijakan AS. Meskipun punya bias, mereka tetap terikat pada kode etik jurnalistik tertentu.

Sedangkan Hasbara jauh lebih spesifik dan agresif. Hasbara tidak hanya ingin Anda “tahu” tentang budaya Israel, tapi tujuannya adalah justifikasi kebijakan keamanan dan militer. Hasbara sering kali berfungsi sebagai lini depan dalam membela tindakan perang atau pendudukan yang dikecam internasional.

Lembaga seperti British Council cenderung pasif (mengadakan kursus atau pameran). Sebaliknya, Hasbara bersifat reaktif dan ofensif.

Jika terjadi insiden militer, mesin Hasbara akan langsung bekerja membanjiri ruang digital dengan infografis, video pendek, dan narasi tandingan untuk mengalihkan opini publik sebelum fakta independen muncul. Ini lebih mirip dengan operasi psikologis (PsyOps) ketimbang sekadar lembaga pertukaran budaya.

Berbeda dengan British Council yang eksklusif dijalankan oleh staf profesional, Hasbara melibatkan jaringan relawan sipil dan mahasiswa secara masif. Israel memiliki aplikasi dan platform (seperti Act.IL) yang memberi “tugas” kepada penggunanya untuk melaporkan konten anti-Israel atau menulis komentar pro-Israel di media sosial.

VOA atau British Council tidak menggerakkan “pasukan siber” sipil untuk menyerang komentar di kolom media sosial seperti yang dilakukan dalam ekosistem Hasbara.

Pihak pembela Hasbara sering menggunakan argumen “semua negara punya diplomasi publik” (seperti VOA atau British Council) untuk menormalisasi aktivitas mereka. Ini adalah taktik ekivalensi moral—membuat operasi propaganda yang agresif terlihat seperti kegiatan budaya yang umum agar tidak terlalu dicurigai.

Namun, dalam praktiknya, Hasbara jauh lebih “militan” karena Israel merasa berada dalam kondisi perang eksistensial yang permanen, sehingga narasi dianggap sama pentingnya dengan peluru.

Bagi masyarakat Indonesia, memahami cara kerja Hasbara adalah bentuk pertahanan intelektual agar kita tidak mudah termakan oleh “penjelasan” yang telah dipoles demi menutupi realitas penjajahan.

Semakin kritis masyarakat Indonesia memahami pola Hasbara semakin memahami apa sesungguhnya yang diharapkan Israel. Sejumlah kegagalan Hasbara di Indonesia tampaknya berakibat pada tidak dibayarnya para influencer bin buzzer. No result, no money.(*)

BACA JUGA: Militer Israel Munafik, Rayakan Hari Perempuan Internasional di Tengah Gempuran Menewaskan Ratusan Kaum Hawa di Timteng

Back to top button