AS Kembali Menyerang Iran dengan Alasan Membela Diri di Tengah Upaya Negosiasi Perdamaian

JERNIH – Militer AS kembali melancarkan serangkaian serangan di dekat Selat Hormuz saat delegasi Iran yang dipimpin para pejabat tinggi melakukan perjalanan ke Qatar untuk mengadakan negosiasi guna mengakhiri perang AS-Israel di Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim telah melakukan “serangan bela diri ” untuk melindungi pasukan AS dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran. Militer AS menyerang lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan. Namun, mereka tidak memberikan rincian tentang serangan tersebut dan lokasinya. Media Iran melaporkan ledakan di Bandar Abbas, sekitar 70 km (42 mil) dari Selat Hormuz, di Iran selatan.
“Pasukan AS melakukan serangan bela diri di Iran selatan hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran,” kata Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM, dalam sebuah pernyataan.
Sedangkan Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan telah “menembak jatuh” sebuah pesawat tak berawak Reaper buatan AS yang memasuki wilayah udaranya di tengah meningkatnya ketegangan selama negosiasi perdamaian.
Serangan terbaru ini semakin memperburuk gencatan senjata rapuh yang telah berlaku sejak awal April dimediasi Pakistan dan di tengah optimisme kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah memicu krisis energi di seluruh dunia.
Kemarin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa “sebagian besar” masalah dengan AS telah diselesaikan, tetapi kesepakatan “belum akan segera tercapai”.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang sedang mengunjungi India, mengatakan target militer AS termasuk kapal-kapal yang mencoba memasang ranjau dan lokasi peluncuran rudal. Washington menuduh militer Iran memasang ranjau di dekat Selat Hormuz, yang biasanya dilalui seperlima dari minyak dan gas dunia.
Berbicara kepada wartawan di pesawatnya di kota Jaipur, India bagian barat, Rubio mengatakan bahwa Selat Hormuz, jalur energi global yang secara de facto diblokade oleh Iran, harus dibuka “dengan satu atau lain cara”.
Mengenai diplomasi, ia mengatakan bahwa negosiasi kesepakatan dengan Iran bisa “membutuhkan beberapa hari”, yang memupus harapan akan berakhirnya konflik dalam waktu dekat.
Dalam unggahan panjang di Truth Social pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan “dengan baik”, tetapi memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut jika pembicaraan tersebut gagal. “Hanya akan ada Kesepakatan Besar untuk semua, atau tidak ada Kesepakatan sama sekali,” tulisnya.
Ketegangan yang meningkat ini terjadi beberapa hari setelah Trump mengatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) “sebagian besar telah dinegosiasikan” dengan Iran. Ini memberikan harapan kesepakatan segera untuk mengakhiri perang yang telah mengguncang pasar dan menyebabkan harga minyak melonjak.
Sejauh ini belum ada reaksi resmi dari Iran. Kantor berita Iran melaporkan pada hari Senin bahwa Iran telah menembak jatuh sebuah pesawat nirawak siluman “musuh” menggunakan sistem pertahanan udara baru, tanpa menyebutkan dari mana pesawat itu berasal.
Sumber-sumber Iran mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menargetkan sebuah kapal di laut sebelum serangan AS terbaru. Menurut sumber-sumber tersebut, beberapa personel IRGC tewas dalam serangan itu.
Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan kemarin, Washington dan Teheran telah mencapai kemajuan dalam pembicaraan mereka, tetapi mengecilkan prospek terobosan yang akan segera terjadi. “Memang benar bahwa kita telah mencapai kesimpulan mengenai sebagian besar isu yang sedang dibahas. Namun, mengatakan bahwa ini berarti kesepakatan akan segera ditandatangani bukanlah sesuatu yang dapat diklaim oleh siapa pun,” kata juru bicara kementerian, Baghaei.
Dalam konferensi pers di Teheran, ia juga mengatakan bahwa kedua pihak tidak membahas program nuklir Iran “pada tahap ini”, dengan fokus mereka adalah mengakhiri perang.






