Dum SumusVeritas

Ledakan Obesitas Dunia, dari Pola Makan hingga Risiko Kematian

Angka obesitas global terus melonjak, mengancam kesehatan fisik dan mental jutaan orang. Dengan jutaan anak kini mengalami kelebihan berat badan, dunia menghadapi krisis kesehatan generasi mendatang.

WWW.JERNIH.CO – Kelebihan berat badan didefinisikan sebagai kondisi penumpukan lemak yang berlebihan, sedangkan obesitas diklasifikasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai penyakit kronis kambuhan.

Penyakit ini muncul dari interaksi yang kompleks dan multifaktorial, meliputi genetika, neurobiologi, perilaku makan, akses terhadap makanan sehat, kekuatan pasar, dan lingkungan yang lebih luas.

Dalam beberapa dekade terakhir, obesitas telah meluas secara global, didorong oleh peningkatan ketahanan pangan, pembangunan sosial-ekonomi, dan perubahan besar dalam pola makan, aktivitas fisik, serta perilaku individu dan sosial akibat globalisasi dan sistem pangan yang terindustrialisasi.

Satu Miliar

Faktor-faktor ini telah menciptakan lingkungan yang semakin obesogenik—lingkungan yang memicu kenaikan berat badan—yang kini menjadi krisis kesehatan masyarakat global. Saat ini, lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia hidup dengan obesitas, dengan prevalensi yang terus meningkat di hampir setiap negara.

Diagnosis kelebihan berat badan dan obesitas secara klinis dilakukan dengan mengukur berat dan tinggi badan seseorang untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT dihitung dengan membagi berat badan (dalam kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter)..

IMT berfungsi sebagai penanda pengganti kegemukan, meskipun pengukuran tambahan, seperti lingkar pinggang, seringkali digunakan untuk memperkuat diagnosis. WHO menetapkan batas klasifikasi IMT yang berbeda berdasarkan kelompok usia.

Untuk dewasa (usia ≥18 tahun), kelebihan berat badan didefinisikan sebagai IMT ≥25, dan obesitas sebagai IMT ≥30. Sementara itu, pada anak-anak dan remaja (usia 5–19 tahun), definisi didasarkan pada deviasi standar (SD) dari median Referensi Pertumbuhan WHO, di mana obesitas berada di atas +2 SD. Untuk anak di bawah 5 tahun, obesitas didefinisikan sebagai berat-menurut-tinggi di atas +3 SD dari Standar Pertumbuhan Anak WHO.

Obesitas Global

Peningkatan prevalensi kondisi ini menjadi perhatian serius. Data global menunjukkan bahwa pada tahun 2022, sebanyak 2,5 miliar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan, di mana lebih dari 890 juta di antaranya hidup dengan obesitas. Secara keseluruhan, sekitar 43% orang dewasa kelebihan berat badan pada tahun 2022, sebuah peningkatan signifikan dari 25% pada tahun 1990.

Prevalensi obesitas di seluruh dunia meningkat dua kali lipat antara tahun 1990 dan 2022, mencapai sekitar 16%. Tren mengkhawatirkan serupa terlihat pada kelompok usia muda. Diperkirakan 35 juta anak di bawah 5 tahun mengalami kelebihan berat badan pada tahun 2024, dengan hampir setengahnya tinggal di Asia.

Di kalangan anak dan remaja usia 5–19 tahun, prevalensi kelebihan berat badan (termasuk obesitas) melonjak tajam dari 8% pada tahun 1990 menjadi 20% pada tahun 2022. Obesitas saja pada kelompok ini meningkat empat kali lipat, dari 2% (31 juta) menjadi 8% (lebih dari 160 juta) dalam periode yang sama.

Penyebab Obesitas

Secara etiologi, kelebihan berat badan dan obesitas sebagian besar disebabkan oleh ketidakseimbangan energi—ketidakcocokan antara asupan energi (makanan) dan pengeluaran energi (aktivitas fisik). Namun, obesitas sebagian besar adalah penyakit multifaktorial yang melibatkan lingkungan, faktor psiko-sosial, dan varian genetik.

Faktor lingkungan utama mencakup keterbatasan ketersediaan makanan sehat yang berkelanjutan dan terjangkau, kurangnya ruang untuk aktivitas fisik, dan tidak adanya regulasi yang memadai. Faktor-faktor ini menciptakan hambatan sosial yang membuat pilihan gaya hidup sehat menjadi sulit. Dalam kasus tertentu, obesitas dapat disebabkan oleh faktor etiologi tunggal, seperti pengobatan, penyakit tertentu, atau sindrom genetik.

Konsekuensi kesehatan dari kelebihan berat badan dan obesitas sangatlah parah. Kondisi ini secara substansial meningkatkan risiko Penyakit Tidak Menular (PTM).

Pada tahun 2021, diperkirakan IMT yang lebih tinggi dari optimal menjadi penyebab 3,7 juta kematian akibat PTM seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker, dan gangguan pernapasan.

Obesitas di masa kanak-kanak tidak hanya meningkatkan risiko PTM seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular di usia dini, tetapi juga memiliki konsekuensi psikososial yang merugikan, termasuk stigma, diskriminasi, dan perundungan yang dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kinerja sekolah.

Secara ekonomi, dampak epidemi obesitas juga masif, dengan prediksi biaya global mencapai 3 triliun dolar per tahun pada tahun 2030 dan lebih dari 18 triliun dolar pada tahun 2060. Selain itu, banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah menghadapi beban ganda malnutrisi—bersamaan dengan kekurangan gizi, mereka juga menghadapi peningkatan cepat faktor risiko PTM seperti obesitas, seringkali dengan kekurangan gizi dan obesitas hidup berdampingan dalam komunitas dan rumah tangga yang sama.

Pencegahan Obesitas

Meskipun demikian, kelebihan berat badan dan obesitas sebagian besar dapat dicegah dan dikelola. Pada tingkat individu, intervensi pencegahan dapat dilakukan sepanjang siklus hidup, mulai dari pra-konsepsi hingga usia dewasa, termasuk memastikan kenaikan berat badan yang tepat selama kehamilan, menyusui eksklusif, membatasi konsumsi minuman manis dan makanan padat energi, serta melakukan aktivitas fisik teratur.

Praktisi kesehatan memiliki peran penting dalam menilai berat badan, memberikan konseling gaya hidup sehat, dan menawarkan penatalaksanaan yang komprehensif, termasuk terapi dan bedah, serta memantau komorbiditas.

Namun, mengingat obesitas adalah tanggung jawab sosial, solusinya harus ditemukan melalui tindakan multisektor. Ini mencakup tindakan struktural, fiskal, dan regulasi untuk menciptakan lingkungan makanan sehat yang membuat pilihan yang lebih baik menjadi lebih mudah diakses dan terjangkau. Industri makanan juga harus memainkan peran aktif dengan mengurangi kandungan lemak, gula, dan garam, serta membatasi pemasaran makanan tidak sehat, terutama yang ditujukan untuk anak-anak.(*)

BACA JUGA: Penyakit Lyme: Antara Infeksi, Perdebatan, dan Tantangan Kesehatan Global

Back to top button