Dum Sumus

Sempat ‘Dilenyapkan’ Apple dari App Store, Telegram Ungkap Skema Pemerasan Berbasis Modifikasi AI

JERNIH – Aplikasi pesan instan Telegram mendadak hilang dari toko aplikasi global Apple, App Store. Penghapusan sepihak tanpa pemberitahuan awal ini dipicu oleh temuan materi pelecehan dan eksploitasi seksual anak (Child Sexual Abuse Material/CSAM) di platform tersebut.

Meski pemblokiran berlangsung singkat dan aplikasi telah dipulihkan pada hari yang sama, insiden ini memantik ketegangan baru antara raksasa teknologi Apple dan manajemen Telegram.

Raksasa teknologi Cupertino mengonfirmasi bahwa tindakan tegas tersebut diambil setelah sistem moderasi internal menemukan pelanggaran serius terhadap pedoman App Store.

“Kami sempat menghapus Telegram dari App Store setelah peninjauan menemukan konten yang melanggar pedoman ketat kami terkait materi eksploitasi seksual anak. Aplikasi dipulihkan setelah pengembang segera menghapus konten dimaksud dan memblokir pengunggahnya,” ujar juru bicara Apple.

Menanggapi insiden tersebut, CEO Telegram Pavel Durov memberikan klarifikasi mendalam melalui kanal pribadinya. Durov mengungkapkan bahwa penghapusan tersebut merupakan buntut dari aksi pemerasan taktis (takedown extortionist).

Menurut Durov, pelaku kejahatan memanfaatkan celah sistem pelaporan dengan mengambil riwayat pesan lama, lalu menyisipkan materi ilegal yang telah dimodifikasi menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk memicu pemblokiran otomatis dari pihak Apple.

Telegram juga melontarkan sindiran terbuka melalui akun resminya di platform X saat menanggapi pernyataan Apple. “Kami yakin sikap tegas ini akan diterapkan secara merata ke seluruh aplikasi lain di App Store di masa mendatang, bukan?” tulis manajemen Telegram.

Aksi “drop” dari App Store ini bukan yang pertama kali menimpa Telegram. Pada 2018 lalu, Apple pernah melayangkan sanksi serupa atas temuan konten tak pantas, yang kemudian direspons Telegram dengan memperketat sistem keamanan internal.

Dengan basis pengguna aktif bulanan yang kini menembus lebih dari 1 miliar pengguna, Telegram mengklaim menerapkan kebijakan zero-tolerance terhadap materi eksploitasi anak. Sepanjang tahun ini saja, Telegram mencatat telah memblokir hampir 338.000 grup dan saluran yang terindikasi melanggar aturan tersebut.

Insiden ini menggarisbawahi makin kompleksnya ancaman moderasi konten di era gen-AI, di mana manipulasi digital berpotensi dijadikan senjata untuk melumpuhkan platform-platform komunikasi berskala global.

Back to top button