Moron

Ironi Roni Bertahan di Tengah Naiknya Semua Harga

Bagi Roni (24), “kemewahan” di Jakarta kini bukan lagi nongkrong di kafe estetik Senayan, melainkan kemampuan bertahan hidup dengan penanak nasi kecil di sudut kosan Tebet.

WWW.JERNIH.CO – Bagi Roni, Jakarta enam bulan lalu adalah deretan lampu kota yang menjanjikan dalam layar ponselnya. Pemuda 24 tahun asal Purworejo  Jawa Tengah ini mendarat di Stasiun Pasar Senen dengan satu koper besar, ijazah teknik informatika, dan keyakinan penuh bahwa status “pekerja di ibu kota” akan otomatis mengubah nasibnya.

Bulan-bulan pertama berjalan sesuai rencana. Roni diterima sebagai staf TI di sebuah perusahaan swasta di kawasan Kuningan. Keputusan pertamanya yang paling krusial adalah memboyong sepeda motor bebek kesayangannya dari kampung halaman.

Bagi anak daerah seperti Roni, motor adalah simbol kemerdekaan. Dengan roda dua, Jakarta terasa menciut. Ia bebas meliuk di antara kemacetan Jalan Gatot Subroto, berpindah dari kosnya di area Tebet, hingga mengeksplorasi sudut-sudut kota tanpa perlu bingung menghafal rute TransJakarta atau jadwal KRL. Motor adalah urat nadinya untuk bertahan dan membaur di kota ini.

Namun, Jakarta punya cara sendiri untuk mendewasakan pendatang barunya. Memasuki bulan keenam, realitas ekonomi mulai memukul Roni tanpa ampun.

Semua bermula saat harga BBM jenis Pertamax kembali merangkak naik. Sebagai pemilik motor yang setianya memakai bahan bakar nonsubsidi demi agar tak membebani negara sekaligus menjaga performa mesin, kenaikan ini langsung memotong porsi anggaran mingguannya. Roni yang biasanya mengisi tangki penuh tanpa berpikir panjang, kini harus memandangi angka di dispenser SPBU dengan dahi berkerut.

Celakanya, kenaikan harga BBM seperti membuka keran bagi kenaikan harga-harga lainnya. Efek domino ini menjalar cepat ke piring makannya. Warteg langganannya di dekat kos tak lagi ramah kantong. Porsi nasi dengan lauk telur dadar dan tempe orek yang dulunya cukup ditebus dengan belasan ribu rupiah, kini harganya sudah melompat.

“Potongan tahu dan tempenya mengecil, tapi harganya yang membesar,” keluh Roni kepada Jernih.co.

Pukulan telak terakhir datang dari pemilik kosnya. Sebuah pesan WhatsApp singkat di awal bulan mengabarkan bahwa biaya sewa kamar kosnya naik Rp150.000 dengan alasan penyesuaian biaya operasional dan listrik.

Bagi seorang bujangan dengan gaji yang masih berada di entry-level, angka itu bukan nominal yang sepele. Itu adalah jatah makan malamnya untuk hampir satu minggu.

Jakarta kini tidak lagi terasa seperti tempat bermain yang seru, melainkan sebuah arena bertahan hidup yang menuntut perhitungan matang. Roni terpaksa menyusun ulang strategi keuangannya secara ekstrem. Narasi hidupnya berubah dari “menikmati kota” menjadi “bagaimana caranya agar tidak minus sebelum tanggal 25”.

Motor yang dulu dipakainya untuk sekadar jalan-jalan sore ke kawasan Senayan atau PIK di akhir pekan, kini lebih banyak terparkir di halaman kos. Roni hanya menyalakan mesin untuk rute wajib: Kos-Kantor-Kos.

Roni mulai bersahabat kembali dengan penanak nasi kecil di sudut kamarnya. Ia memasak nasi sendiri dan hanya membeli lauk matang, atau sering kali, mengandalkan mi instan dan kentang mustofa kiriman ibunya dari kampung untuk menghemat pengeluaran makan malam.

Ajakan minum kopi di kafe estetik bersama rekan kantor perlahan ia tolak dengan berbagai alasan diplomatis. Di Jakarta, sekali melangkah ke kafe berarti merelakan lembaran Rp50.000 hingga Rp100.000 melayang dalam hitungan jam.

Ia tak memilih menyerah. Sebab, pasti tak sedikit orang-orang yang bernasib sepertinya. Galibnya orang Indonesia yang selalu diminta bersyukur di kala kesusahan, ia menyadari masih banyak orang sepertinya yang menanggung lebih banyak orang.

Jakarta sedang mengujinya, dan ia memilih untuk tetap bertahan, setidaknya demi membuktikan bahwa ia bisa berdiri tegak sendiri sebagai manusia Indonesia. Tidak pasrah dan marah walau di televisi, di ponsel-ponsel telah beredar kabar satu-persatu oknum pejabat ditangkap akibat korup pada apa saja yang bisa disikat.(*)

BACA JUGA: Pertalite Langka, Jeritan Pengendara di Tengah Lonjakan Harga Pertamax

Back to top button