POTPOURRIVeritas

Gagal Eksekusi Janji ‘Perubahan’, PM Inggris Keir Starmer Resmi Mengundurkan Diri

Dinilai lamban mengatasi krisis biaya hidup dan krisis NHS, legitimasi PM Keir Starmer runtuh di mata partainya sendiri. Kembalinya sosok populer Andy Burnham ke parlemen menjadi pukulan terakhir yang memaksa Starmer menyerah.

WWW.JERNIH.CO – Panggung politik Inggris meredup pada Senin, 22 Juni 2026. Perdana Menteri Keir Starmer resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh (Labour Party) sekaligus PM Inggris.

Keputusan dramatis ini diambil kurang dari dua tahun setelah ia membawa partainya meraih kemenangan telak historis pada Pemilu 2024, menandai kejatuhan kilat seorang pemimpin yang awalnya diharapkan membawa stabilitas jangka panjang bagi Inggris.

Starmer mengambil alih kepemimpinan Partai Buruh pada tahun 2020 setelah partai tersebut mengalami kekalahan telak di era Jeremy Corbyn. Di bawah kendalinya, Starmer melakukan reformasi besar-besaran, membersihkan faksionalisme radikal, dan memulihkan kepercayaan publik pada kompetensi ekonomi serta pertahanan nasional.

Hasilnya, pada Juli 2024, ia memimpin Partai Buruh meraih kemenangan landslide (keunggulan mutlak), merebut kursi parlemen terbanyak bagi partainya sejak era Tony Blair pada 1997. Saat berkampanye, Starmer menjual satu kata kunci utama: “Change” (Perubahan). Ia berjanji untuk memperbaiki layanan kesehatan nasional (NHS) yang mengalami krisis antrean panjang.

Lalu mengatasi krisis biaya hidup dan memulihkan pertumbuhan ekonomi Inggris. Juga menekan angka imigrasi ilegal dengan mengurangi penyeberangan perahu kecil dan menutup hotel-hotel suaka. Bahkan ingin mengangkat ratusan ribu anak dari garis kemiskinan.

Termasuk memulihkan reputasi internasional Inggris dengan memperkuat dukungan untuk Ukraina dan memperbaiki hubungan dengan Uni Eropa pasca-Brexit.

BACA JUGA: Selebrities Desak Inggris Minta Maaf Karena Memberikan Tanah Palestina Kepada Yahudi

Narasi bahwa Starmer mundur karena desakan partainya sendiri akibat dianggap gagal memicu perubahan nyata adalah fakta politik yang terjadi di Westminster. Dalam pidato mundurnya di depan Downing Street, Starmer secara tersirat mengakui hilangnya legitimasi di mata rekan-rekan separtainya,     “Pertanyaan yang diajukan partai saya sekarang adalah apakah saya sosok terbaik untuk memimpin kita menuju pemilihan umum berikutnya. Saya telah mendengar jawaban dari rekan-rekan parlemen saya, dan saya menerima jawaban itu dengan lapang dada.”

Alasan sebenarnya di balik kejatuhan Starmer adalah merosotnya popularitas pemerintah secara drastis dan ketakutan internal faksi parlemen Partai Buruh akan kekalahan total di pemilu mendatang. Meskipun menang besar pada 2024, pemerintahan Starmer dinilai lamban mengeksekusi janji perubahannya di tengah krisis ekonomi yang tak kunjung mereda.

Kondisi ini diperparah oleh hasil pemilu lokal awal tahun 2026 yang menunjukkan kekalahan masif Partai Buruh, sementara partai sayap kanan pimpinan Nigel Farage (Reform UK) melonjak tajam. Khawatir akan kehilangan kursi mereka, faksi internal Partai Buruh mulai memberontak.

Lebih dari setengah lusin menteri kabinet dilaporkan mendesak Starmer secara tertutup bahwa waktunya sudah habis. Mundurnya Menteri Pertahanan John Healey akibat perselisihan anggaran militer menjadi sinyal kuat bahwa kabinet Starmer sudah retak.

Pemicu langsung yang membuat posisi Starmer tidak lagi tertolong adalah hasil pemilu sela (by-election) di daerah pemilihan Makerfield pada 18 Juni 2026. Andy Burnham, Wali Kota Greater Manchester yang sangat populer, memutuskan kembali bertarung memperebutkan kursi parlemen dengan agenda terbuka untuk menantang kepemimpinan Starmer.

Kandungan kemenangan Burnham yang sangat telak membuktikan kepada para anggota parlemen Partai Buruh bahwa strategi politik Burnham jauh lebih efektif untuk meredam kekuatan Reform UK dibanding gaya kepemimpinan Starmer yang dinilai terlalu berhati-hati. Begitu Burnham mengamankan tiket kembali ke Westminster, arus dukungan internal langsung bergeser masif, memaksa Starmer untuk menyerah.

Momen emosional yang membuat suara Starmer tercekat dan hampir meneteskan air mata terjadi di bagian akhir pidatonya. Kesedihan tersebut bukan sekadar karena kehilangan jabatan politik tertinggi, melainkan karena beban personal yang selama ini dipikul keluarganya.

Starmer mengungkapkan bahwa dengan meninggalkan “pekerjaan terbesar di negara ini” (sebagai Perdana Menteri), ia akhirnya bisa mendedikasikan waktu penuh untuk “pekerjaan yang paling penting dalam hidupnya”: yaitu menjadi suami terbaik bagi istrinya, Victoria (Vic), yang telah menjadi batu karang pelindungnya di masa sulit, serta menjadi ayah yang baik bagi kedua anak remajanya.

Pidato ini menunjukkan sisi humanis Starmer yang menyadari betapa kejamnya tekanan politik Westminster terhadap kehidupan privasi keluarganya.

Pengunduran diri Starmer memicu perlombaan baru untuk posisi Perdana Menteri ketujuh Inggris dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Dua nama utama yang mencuat adalah.

Antara lain Andy Burnham (Calon Terkuat). Berada di posisi terdepan (pole position). Setelah kemenangan seismiknya di Makerfield, Burnham didukung oleh lebih dari 81 anggota parlemen yang dibutuhkan untuk maju.

Banyak pihak memprediksi akan terjadi “koronasi” alias aklamasi tanpa lawan berat, yang memungkinkan Burnham melenggang ke Downing Street dalam hitungan minggu sebelum parlemen reses di bulan Juli atau paling lambat September 2026. Ia membawa konsep “Manchesterism”—fokus pada penguatan ekonomi lokal dan desentralisasi.

Ada pula nama Wes Streeting, Menteri Kesehatan ini sempat disebut-sebut menggalang kekuatan untuk menantang Starmer. Namun, melihat derasnya arus dukungan yang mengalir ke Andy Burnham, peluang Streeting dinilai menipis karena mayoritas internal Partai Buruh kini lebih memilih konsolidasi cepat demi menghindari ketidakpastian yang berlarut-larut.(*)

BACA JUGA: Ultimatum Inggris Guncang Israel, PM Starmer: Akui Palestina September Ini Kecuali Perang Gaza Berhenti

Back to top button