Iran Siap Sambut Su-35, Pesawat Tempur Paling Mematikan Rusia

Setelah tiga dekade mengandalkan pesawat kuno warisan Perang Vietnam, Angkatan Udara Iran akhirnya melompat ke era modern. Sebanyak 20 unit Sukhoi Su-35 berspesifikasi canggih ex-pesanan Mesir kini siap dikirim dari Moskow.
WWW.JERNIH.CO – Kerja sama militer antara Moskow dan Tehran memasuki babak baru yang krusial. Pabrik penerbangan terbesar Rusia di Komsomolsk-on-Amur dilaporkan telah menyelesaikan produksi gelombang pertama sebanyak 20 unit pesawat tempur Sukhoi Su-35 (varian Su-35S atau Super Flanker) yang dipesan oleh Angkatan Udara Iran (IRIAF).
Langkah ini menandai modernisasi armada tempur udara Iran paling signifikan dalam tiga dekade terakhir. Saat ini, Kementerian Pertahanan Iran tengah membiayai biaya perawatan pesawat-pesawat tersebut di Rusia sembari menyelesaikan peningkatan infrastruktur pangkalan udara, seperti di Hamadan Air Base, guna menyambut kedatangan jet tempur generasi 4++ ini.
Sukhoi Su-35 adalah jet tempur kelas berat, bermesin ganda, dan berkemampuan multiperan (multirole) yang dikembangkan dari basis Su-27. Di atas kertas, pesawat ini adalah salah satu jet tempur konvensional paling mematikan sebelum masuk ke kelas siluman (generasi ke-5) seperti Su-57.

Pesawat tempur ini memiliki ciri super-manoeuverability. Didorong oleh dua mesin Saturn AL-41F-1S dengan teknologi thrust-vectoring (nozel mesin yang bisa bergerak), membuat Su-35 mampu melakukan manuver ekstrem di udara yang sulit ditiru oleh jet tempur Barat.
Kemudian dilengkapi Radar Passive Electronically Scanned Array (PESA) ini diklaim mampu melacak hingga 30 target udara sekaligus dan mendeteksi target dari jarak sangat jauh, bahkan diklaim mampu menangkap jejak pesawat siluman dari jarak tertentu.
Dengan radius tempur mencapai hampir 1.600 hingga 2.000 kilometer tanpa mengisi bahan bakar di udara, Su-35 memberikan Iran kemampuan penetrasi ofensif yang sangat dalam di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data intelijen dokumen industri militer yang sempat bocor, Iran total memesan sekitar 48 unit Su-35 dengan nilai kontrak mencapai 6,5 miliar USD. Terkait spesifikasi, terdapat dua poin penting yang menjadi sorotan analis militer.
Sebagian dari unit Su-35 yang diproduksi ini awalnya merupakan pesanan Mesir yang dibatalkan akibat tekanan sanksi CAATSA dari Amerika Serikat. Oleh karena itu, spesifikasi dasarnya merupakan standar ekspor Rusia (Su-35SE) yang sudah sangat modern, lengkap dengan sistem avionik digital, pod peperangan elektronik (electronic warfare), dan integrasi rudal jarak jauh Beyond-Visual-Range (BVR).
Alih-alih “pesanan khusus” yang mengubah struktur fisik pesawat, Iran lebih fokus pada paket modifikasi integrasi sistem persenjataan lokal serta alat latih. Rusia menyertakan simulator penerbangan canggih dan jet latih lanjut Yakovlev Yak-130 yang sudah dikirim mendahului untuk melatih para pilot Iran agar terbiasa dengan ekosistem digital Sukhoi. Selain itu, Iran kabarnya mengintegrasikan sistem komunikasi terlindungi yang kompatibel dengan jaringan pertahanan udara domestik mereka sendiri.
Sebelum Su-35 ini mendarat secara resmi dan operasional penuh di pangkalan udara Iran, armada jet tempur IRIAF bisa dikatakan sangat usang dan mengandalkan strategi “museum terbang”.
Pesawat termodern yang operasional di bawah bendera Iran saat ini (sebelum Su-35) adalah Mikoyan MiG-29 (sekitar 24 unit) yang dibeli dari Uni Soviet pada akhir 1980-an dan F-14A Tomcat (sekitar 41 unit) warisan Amerika Serikat dari era Syah Iran (sebelum revolusi 1979).
Meskipun Iran memiliki industri domestik yang mampu memodifikasi pesawat tua menjadi varian lokal seperti HESA Saeqeh atau Kowsar, pesawat-pesawat tersebut sejatinya hanyalah rekayasa balik dari Northrop F-5 warisan Perang Vietnam. Oleh karena itu, kehadiran 20 unit Su-35 langsung melonjakkan kemampuan udara Iran dari era perang dingin ke era modern.(*)
BACA JUGA: Rusia Bantah TNI Batal Beli Sukhoi Su-35






