POTPOURRI

Jeffrey Hendrik dan Misi Besar di BEI

Sejumlah pekerjaan besar telah menanti Direktur Utama BEI yang baru, terutama menyangkut tata kelola brsa saham lokal yang sempat tak dipercaya dunia.

WWW.JERNIH.CO –   Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi menetapkan susunan direksi baru PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk masa jabatan 2026–2030.

Di posisi puncak, Jeffrey Hendrik terpilih menjadi Direktur Utama BEI yang baru. Langkah ini menandai babak baru bagi industri pasar modal domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global dan ambisi Indonesia untuk memiliki bursa yang berintegritas tinggi serta berkelas dunia.

Jeffrey Hendrik bukanlah wajah asing di jagat keuangan Indonesia. Pria lulusan Sarjana Ekonomi dari Jurusan Manajemen, Universitas Trisakti tahun 1995 ini memiliki rekam jejak yang solid yang merangkak dari bawah.

Bahkan sebelum ia secara resmi menyandang gelar sarjana, Jeffrey sudah terjun ke dunia industri dengan bekerja di PT Zone Pratama pada periode 1994–1996.

Ketertarikannya yang mendalam pada sektor finansial membawanya masuk ke divisi Corporate Finance di PT Transpacific Securindo (1996–1999). Latar belakang pendidikan ekonomi dan pengalaman awal yang kuat inilah yang membentuk fondasi matang bagi kepemimpinannya di masa depan.

Kemampuan manajerial dan visi strategis Jeffrey mulai sangat menonjol saat ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Utama PT Phintraco Sekuritas selama lebih dari dua dekade (1999–2022). Di bawah kendalinya, perusahaan sekuritas tersebut bertransformasi menjadi salah satu pialang (broker) yang sukses melakukan ekspansi masif ke pasar ritel melalui digitalisasi layanan.

Langkah karirnya di regulator bursa berlanjut secara bertahap melalui berbagai posisi penting. Di antaranya anggota Komite Perdagangan dan Penyelesaian Transaksi Efek BEI (2019–2020), pengurus Departemen Perdagangan Efek di Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia / APEI (2020–2022) dan anggota Gugus Tugas Keuangan Berkelanjutan OJK (sejak 2021).

Terakhir ia menjambat Direktur Pengembangan BEI (2022–2026). Melalui posisi ini, Jeffrey menjadi aktor kunci di balik inovasi, perluasan basis investor domestik, dan peningkatan literasi pasar modal.

Pada Februari 2026, Jeffrey ditunjuk sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI menggantikan Iman Rachman yang mengundurkan diri. Hingga akhirnya pada Juni 2026, OJK memercayakan penuh posisi Direktur Utama BEI definitif kepadanya, yang akan disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 29 Juni 2026.

Sebagai orang nomor satu di bursa, Jeffrey Hendrik dihadapkan pada sejumlah tantangan besar dan “pekerjaan rumah” yang tidak mudah. Beberapa misi krusial yang harus diselesaikannya meliputi:

Menjaga Kepercayaan Investor Global dan Isu Indeks Dunia

Salah satu tantangan terdekatnya adalah merespons tekanan dari penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE. Jeffrey harus mampu meyakinkan pasar internasional bahwa BEI berkomitmen pada reformasi integritas pasar. Langkah nyata yang tengah digodok adalah penyediaan data investor yang lebih granular serta penerapan aturan ketat mengenai pemenuhan porsi free float (saham publik) minimal 15%.

Memperkuat Tata Kelola (Governance) dan Transparansi

Di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), BEI dituntut untuk meningkatkan pelindungan investor domestik maupun asing. Jeffrey memikul tugas berat untuk meluncurkan kebijakan transparansi baru, seperti daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi (High Shareholding Concentration List), demi mencegah manipulasi pasar dan meningkatkan likuiditas saham secara sehat.

Akselerasi IPO dan Diversifikasi Instrumen Investasi

Untuk menggairahkan pasar modal nasional, Jeffrey harus mampu mendorong lebih banyak perusahaan berkualitas—baik skala besar maupun rintisan (startup)—untuk melantai di bursa melalui mekanisme Initial Public Offering (IPO). Tidak hanya kuantitas emiten, diversifikasi produk investasi baru seperti bursa karbon dan instrumen derivatif lainnya juga menjadi tanggung jawab besar yang harus ia kembangkan selama periode 2026–2030.(*)

BACA JUGA: Efek Domino Pembekuan MSCI dan Pertaruhan Kredibilitas Pasar Modal Indonesia

Back to top button