
Perubahan paling signifikan justru terjadi pada dimensi geopolitik. Sebelum perang, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang dijaga melalui keseimbangan kekuatan berbagai aktor regional dan internasional. Namun setelah konflik berlangsung, Iran secara de facto berhasil meningkatkan kemampuan pengendaliannya terhadap kawasan tersebut melalui ancaman rudal, drone, serta kekuatan Angkatan Laut dan Garda Revolusi.
Oleh : Beni Sukadis*

JERNIH–Lima bulan setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran, konflik belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Meskipun Presiden Donald Trump sempat mengumumkan adanya gencatan senjata, dalam prakteknya ketegangan tetap berlangsung.
Trump beberapa kali mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, namun berulang kali pula membatalkan rencana tersebut. Salah satu faktor yang disebut memengaruhi perubahan sikap itu adalah kekhawatiran negara-negara Teluk terhadap potensi eskalasi. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dilaporkan menghubungi Trump untuk menyampaikan kekhawatiran bahwa serangan terhadap infrastruktur strategis Iran akan memicu pembalasan langsung terhadap negara-negara Teluk, termasuk fasilitas energi mereka. Iran juga memberikan sinyal bahwa penyelesaian diplomatik masih dimungkinkan apabila konflik segera diakhiri, sekaligus memperingatkan bahwa setiap serangan besar akan dibalas secara tegas.
Kebijakan Trump terhadap Iran tidak dapat dipisahkan dari kepentingan politik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Selama bertahun-tahun Netanyahu menempatkan program terhadap Teheran. Berbeda dengan beberapa presiden Amerika sebelumnya yang lebih memilih pendekatan diplomatik atau sanksi ekonomi, Trump menjadi pemimpin AS yang paling bersedia mengikuti dorongan Netanyahu untuk menggunakan kekuatan militer secara langsung. Namun perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan kekuatan tersebut tidak menghasilkan perubahan strategis sebagaimana yang diharapkan.
Sejak awal, tujuan strategis operasi militer terhadap Iran dinilai kurang realistis. Sasaran yang dikemukakan adalah memaksa Iran menghentikan pengayaan uranium, bahkan mendorong perubahan rezim di Teheran. Kedua tujuan tersebut terbukti sulit dicapai. Pemerintahan Iran tetap bertahan, struktur komando militernya tetap berfungsi, sementara posisi politik dalam negeri justru semakin terkonsolidasi akibat meningkatnya sentimen nasionalisme ketika menghadapi ancaman dari luar. Serangan yang dimaksudkan untuk melemahkan Iran justru memperkuat legitimasi pemerintah dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Perubahan paling signifikan justru terjadi pada dimensi geopolitik. Sebelum perang, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang dijaga melalui keseimbangan kekuatan berbagai aktor regional dan internasional. Namun setelah konflik berlangsung, Iran secara de facto berhasil meningkatkan kemampuan pengendaliannya terhadap kawasan tersebut melalui ancaman rudal, drone, serta kekuatan Angkatan Laut dan Garda Revolusi. Selat Hormuz berubah menjadi instrumen tekanan strategis yang dapat memengaruhi distribusi energi dunia. Artinya, operasi militer yang dimaksudkan untuk mengurangi pengaruh Iran justru meningkatkan posisi tawar Teheran terhadap pasar energi global dan negara-negara yang bergantung jalur tersebut.
Dari perspektif militer, konflik ini juga memberikan sejumlah pelajaran penting. Berbagai laporan menyebutkan bahwa sedikitnya 19 fasilitas atau pangkalan militer Amerika Serikat diberbagai negara Teluk mengalami kerusakan berat akibat serangan Iran. Selain itu, puluhan aset strategis, termasuk pesawat tempur F-15 dan F-35, drone MQ-9 Reaper, pesawat serang A-10, helikopter, sistem pertahanan rudal, hingga berbagai perangkat pendukung lainnya dilaporkan rusak atau hancur. Analisis Mark Cancian memperkirakan biaya pemulihan pangkalan-pangkalan tersebut dapat mencapai antara US$4 miliar hingga US$9 miliar. Kerugian material tersebut bukan sekadar persoalan anggaran, tetapi juga menunjukkan bahwa pangkalan-pangkalan yang selama puluhan tahun dianggap aman kini tidak lagi kebal terhadap serangan presisi jarak jauh.
Dampak psikologis bahkan dinilai lebih besar dibandingkan kerusakan fisik. Kelly Grieco dari Stimson Center menilai bahwa selama ini pangkalan Amerika dipersepsikan sebagai “sanctuary“, yakni wilayah yang relatif aman dari ancaman langsung musuh. Kemampuan Iran menjangkau pangkalan-pangkalan tersebut menunjukkan berakhirnya era ketika Amerika Serikat dianggap mendominasi ruang udara dan memproyeksikan kekuatan tanpa risiko yang berarti. Persepsi mengenai superioritas mutlak militer AS mulai dipertanyakan, terutama oleh negara-negara yang selama ini menghadapi tekanan dari kekuatan militer lebih besar.
Keunggulan Iran tidak semata-mata berasal dari jumlah persenjataannya, melainkan dari strategi pertahanannya. Selama bertahun-tahun Iran membangun jaringan instalasi rudal dan drone di bawah tanah, memanfaatkan pegunungan serta kawasan gurun sebagai perlindungan alami. Infrastruktur bawah tanah tersebut membuat kemampuan serang Iran tetap bertahan meskipun mengalami bombardemen intensif. Menurut laporan yang dikutip The New York Times, meskipun Komando Pusat Amerika Serikat mengklaim telah menyerang lebih dari 10.000 sasaran, Iran masih mempertahankan sekitar 70 persen stok rudal sebelum perang. Angka tersebut menunjukkan bahwa kemampuan tempur Iran jauh dari kondisi lumpuh dan tetap memiliki kapasitas untuk melakukan serangan balasan dalam jangka panjang.
Efektivitas strategi ini juga tercermin dari kemampuan Iran mempertahankan operasi militernya secara berkelanjutan. Serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania pada tahap awal konflik menyebabkan beberapa fasilitas hampir tidak dapat digunakan untuk mendukung operasi militer. Camp Buehring di Kuwait, misalnya, mengalami kerusakan pada area logistik, fasilitas makan, pusat kebugaran, dan hanggar dari serangan udara Iran. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Iran mampu menyerang target bernilai tinggi jauh di luar wilayahnya sekaligus memaksa lawan mengalokasikan sumber daya besar hanya untuk mempertahankan fasilitas yang sebelumnya dianggap aman.
Pengalaman lima bulan terakhir memperlihatkan bahwa keberhasilan dalam perang modern tidak lagi semata ditentukan oleh besarnya anggaran pertahanan, pesawat tempur generasi kelima, atau dominasi teknologi. Faktor daya tahan nasional, kemampuan mempertahankan kapasitas tempur, perlindungan infrastruktur strategis, serta kesiapan menghadapi perang berkepanjangan menjadi variabel yang semakin menentukan. Iran menunjukkan bahwa negara dengan sumber daya militer yang secara nominal berada di bawah Amerika Serikat tetap dapat memberikan biaya strategis yang sangat tinggi kepada lawannya apabila memiliki doktrin pertahanan yang adaptif, sistem komando yang tetap berfungsi, serta kemampuan mempertahankan kekuatan tempur di tengah serangan besar-besaran.
Resiliensi Iran pada akhirnya menjadi pelajaran strategis yang melampaui konflik itu sendiri. Bagi banyak negara, perang ini memperlihatkan bahwa superioritas militer tidak lagi menjamin tercapainya tujuan politik, sementara kemampuan bertahan dan mempertahankan daya gentar justru dapat mengubah keseimbangan kekuatan. Jika tren ini terus berlanjut, konflik AS–Israel dengan Iran akan dikenang bukan hanya sebagai perang regional, tetapi sebagai titik balik yang mengubah cara dunia memandang efektivitas kekuatan militer, dan dinamika geopolitik pada abad ke-21. []
*Konsultan senior di Marapi Consulting & Advisory, Jakarta.






