SolilokuiVeritas

Mohamed Salah: Farewell to The King

Di era ketika gelombang Islamofobia dan prasangka rasial masih kerap mengotori lanskap Eropa, Mo Salah hadir sebagai penawar. Ia tidak berkhotbah; ia hanya menjadi dirinya sendiri. Seorang Muslim yang taat, yang bersujud di rumput Anfield setelah mencetak gol, seorang ayah yang memeluk kedua putri kecilnya dengan kegembiraan, dan membentangkan kedua tangan lebar-lebar ke arah fansnya di tribun setelah mencetak gol. Kadang, ia menyambar ponsel penonton di pinggir lapangan, melakukan selfie yang akan membuat penonton beruntung itu girang tak terkira.

Oleh     :  Akmal Nasery Basral*

JERNIH– 1/  Ada jenis situasi yang hanya bisa dirasakan puluhan ribu penonton Anfield pada Minggu, 24 Mei 2026 meski jutaan lainnya memirsa via saluran televisi–seperti saya.

Pertandingan terakhir pekan ke-38 yang menyudahi musim kompetisi 2025/2026. Sebuah keharuan yang meramu kebanggaan sekaligus kenangan terhadap Mohamed “Mo” Salah, 33 tahun, yang merumput terakhir kalinya di Merseyside setelah 9 tahun spektakuler sejak 2017.

Dalam pertandingan melawan Brentford itu, meski Salah gagal mencetak gol—tembakan bebasnya yang menggeledek masih menghantam tiang gawang lawan—namun ia memberikan assist cantik yang bisa dimanfaatkan Curtis Jones menjadi gol.

Sejatinya, itu juga pertandingan perpisahan bagi bek kiri Robbo (Andy Robertson) yang juga dicintai fans The Reds. Namun terhadap Mo “The King” Salah, Liverpool tidak hanya sedang melepas seorang penyerang sayap fenomenal.  Mereka sedang melepas separuh jiwa mereka dengan hati pedih.

2/

Sebelum Salah datang, Liverpool adalah raksasa tidur yang didera rindu berkepanjangan. Mereka adalah klub kaya sejarah yang kerap kali harus puas menjadi penonton perayaan juara tim lain.

Ketika Salah tiba dari AS Roma pada musim panas 2017, dunia sepak bola Inggris tidak terpesona. Publik masih terjebak pada memori samar tentang seorang pemuda Mesir gagal bersinar di Chelsea era Jose Mourinho beberapa tahun sebelumnya. Buruk tidak, namun istimewa pun tak.

Dari Chelsea, pesepakbola asal Mesir itu dipinjamkan ke Fiorentina, lalu AS Roma, sebelum pelatih  Jürgen Klopp membelinya untuk Liverpool. Ia melihat apa yang tidak dilhat Mourinho dan para pelatih elite lainnya: mata badai yang sedang membesar dan siap menggulung Inggris dalam cengkeramannya.

Pada hari pertamanya di Melwood—kompleks tempat latihan Liverpool FC–dengan senyum canggung dan rambut ikal yang khas, Mo Salah mulai menorehkan sejarah yang akan hidup bergenerasi-generasi kemudian.  “Saya bilang kepada manajemen klub akan membawakan trofi untuk mereka,” ujar Salah tergelak dalam film dokumenter terbaru “Farewell to The King” yang dirilis Liverpool. “Kalau dengan kondisi saya sekarang, saya tak akan berani bilang begitu. Saya pasti akan bilang akan memberikan yang terbaik.”

Namun Salah tak salah dengan janjinya. Ia tidak butuh waktu lama untuk mengubah keraguan menjadi pemujaan. Kecepatan magisnya di sisi kanan, gocekan yang memotong ke dalam, dan ketenangan di depan gawang langsung meneror Premier League.

Musim debutnya di Liverpool adalah sebuah anomali sejarah dengan 32 gol merobek gawang lawan. Seakan-akan ia sedang bermain melawan anak-anak sekolah, bukan para bek tangguh klub-klub elite Inggris yang berasal dari seluruh dunia.

Salah berhasil mendulang beragam trofi ikembali ke lemari Anfield. Madrid, 2019. Penebusan dosa atas air mata di Kiev setahun sebelumnya. Penalti dingin Mo Salah di menit-menit awal meretas jalan Liverpool mengangkat trofi UEFA Champions League ketujuh mereka.

Merseyside, 2020. Pandemi boleh saja mengunci manusia di dalam rumah, tetapi tidak ada yang bisa mengunci kepastian sejarah. Salah menjadi motor utama yang mengakhiri dahaga 30 tahun Liverpool untuk mengangkat trofi English Premier League.

Pencapaian demi pencapaian ia raih. “Setiap kali masuk lapangan, fokus saya hanya untuk mencetak gol atau (kalau tak bisa) memberikan umpan matang yang bisa menjadi gol,” katanya. Salah memang tak pernah egois di kotak penalti lawan.

Hasilnya, ia lampaui Robbie Fowler sebagai pencetak gol terbanyak Liverpool di era Premier League. Ia memenangkan Golden Boot berkali-kali, memecahkan rekor demi rekor, hingga namanya sejajar—bahkan dalam beberapa aspek melampaui—para legenda seperti Kenny Dalglish dan Ian Rush.  Mo Salah bukan lagi sekadar pemain asing yang singgah; ia adalah arsitek utama kembalinya kejayaan “The Reds”.

3/

Namun, kehebatan sejati Mohamed Salah tidak melulu soal statistik di atas kertas atau medali di leher. Warisan terbesarnya terletak di luar garis lapangan, di dalam hati masyarakat Inggris yang perlahan berubah karena sikapnya yang karismatik.

Di era ketika gelombang Islamofobia dan prasangka rasial masih kerap mengotori lanskap Eropa, Mo Salah hadir sebagai penawar. Ia tidak berkhotbah; ia hanya menjadi dirinya sendiri. Seorang Muslim yang taat, yang bersujud di rumput Anfield setelah mencetak gol, seorang ayah yang memeluk kedua putri kecilnya dengan kegembiraan, dan membentangkan kedua tangan lebar-lebar ke arah fansnya di tribun setelah mencetak gol. Kadang, ia menyambar ponsel penonton di pinggir lapangan, melakukan selfie yang akan membuat penonton beruntung itu girang tak terkira.

Dampaknya begitu nyata hingga para akademisi di Universitas Stanford melakukan penelitian khusus. Hasilnya mencengangkan: tingkat kejahatan kebencian anti-Islam di wilayah Merseyside menurun drastis sejak kedatangannya.

Di tribun Kop yang sakral, lahirlah sebuah nyanyian yang paling tidak biasa sekaligus paling mengharukan dalam sejarah sepak bola Inggris:  “If he’s good enough for you, he’s good enough for me/If he scores another few, then I’ll be Muslim too!/Sitting in a mosque, that’s where I wanna be!

Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh ribuan orang Inggris berkulit putih, beraliran keras, yang mungkin sebelumnya tidak pernah mengenal Islam kecuali dari berita-berita negatif media massa. Lewat kakinya, Salah meruntuhkan tembok pembatas dan sekat. Lewat kesantunannya, ia membangun jembatan yang menghubungkan hati.

4/

Di balik kehebatan Mo Salah di atas lapangan, ada jangkar spiritual dan emosional yang luar biasa kuat di hidupnya: sang istri, Magi Sadiq, serta kedua putri tercinta mereka, Makka dan Kayan.

Kehadiran Magi Sadiq di tribun Anfield atau saat perayaan juara selalu menarik perhatian dunia, justru karena ia menolak untuk melebur dengan stereotip budaya industri sepak bola Eropa yang lekat dengan gaya hidup glamor para WAGs ( Wives and Girlfriends) bercelana pendek ketat dan berpakaian serbaterbuka, Magi tampil layaknya oase yang teduh.

Ia seorang muslimah yang teguh mempertahankan hijabnya, menutup aurat, dan memancarkan kesahajaan yang anggun. Magi membuktikan bahwa martabat seorang wanita tidak ditentukan oleh seberapa banyak kulit yang ia pamerkan kepada kilau lampu kamera jurnalis.

Tentu saja, keteguhan Magi bukan tanpa ujian. Di jagat maya yang kejam, sebagian fans sepak bola mengecam penampilan Magi yang dinilai “terlalu kuno” atau “tidak cocok” mendampingi seorang megabintang global berpenghasilan jutaan poundsterling.

Namun di sinilah mentalitas seorang Mohamed Salah diuji. Sebagai seorang suami. Alih-alih meminta sang istri berkompromi dengan selera pasar, Salah justru berdiri paling depan sebagai perisai yang membela belahan jiwanya.

Secara terbuka dan penuh kebanggaan, dalam berbagai kesempatan wawancara dan unggahan media sosial, Salah menegaskan betapa berartinya Magi dalam hidupnya—seorang wanita cerdas yang dinikahinya sejak tahun 2013 di desa asal mereka, Nagrig—berjarak sekitar 130 km di sebelah utara ibu kota Kairo–jauh sebelum ketenaran itu datang. “Magi adalah perempuan terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk saya,” ujar Salah dengan bangga.

Keteguhan iman itu pula yang mereka turunkan kepada putri sulung mereka Makka (yang dinamai dari kota suci Makkah) dan si bungsu Kayan.

Setiap kali musim kompetisi berakhir, pemandangan Makka yang berlarian di lapangan Anfield membawa bola, ditemani sang adik dan diamati dengan penuh cinta oleh Magi dari tepi lapangan, lalu Makka menceploskan bola ke gawang yang kosong–selalu membuat jatuh hati pendukung Liverpool yang memberi tepuk tangan meriah bagi sang gadis cilik. Membuat Salah—sang ayah—tersenyum.

Mereka menjadi representasi kehangatan sebuah keluarga Muslim yang penuh kasih, dan dihormati di tanah Britania Raya.

Anfield mencintainya karena “The King” sangat manusiawi. Publik tidak akan pernah lupa bagaimana ia kerap kedapatan pulang ke kampung halamannya di Nagrig, bukan untuk pamer kemewahan, melainkan mendirikan sekolah, rumah sakit, dan mendanai pernikahan pemuda setempat yang kurang mampu.

Atau bagaimana ia dengan sabar melayani seorang fan cilik yang hidungnya berdarah karena menabrak tiang lampu demi mengejar mobil Salah—Mo berbalik arah, turun dari mobilnya, dan memeluk anak itu penuh kasih sayang.

Atau bagaimana ia membela seorang pria tuna wisma yang diganggu oleh sekelompok pemuda di sebuah pom bensin di Liverpool.

Bagi Salah, kehormatan bukan tentang seberapa tinggi ia berdiri di atas orang lain, melainkan seberapa banyak ia bisa merunduk untuk mengangkat mereka yang di bawah agar ikut naik dan bersinar.

5/

Kini, bab terakhir telah selesai ditulis Mo Salah untuk Liverpool.  Saat peluit panjang berbunyi di laga perpisahannya melawan Brentford, air mata tidak bisa lagi dibendung. Anfield menyanyikan namanya dengan nada yang pedih yang ajaib—sebuah ucapan terima kasih yang teramat dalam sekaligus penolakan halus terhadap kenyataan bahwa sang Raja harus pergi. Untuk melanjutkan bab berikutnya dalam karier profesionalnya.

Mohamed Salah melambaikan tangan, didampingi Magi yang tersenyum tegar dan kedua putrinya yang mulai beranjak besar dan menghabiskan masa kanak-kanak mereka di Anfield.

Garis-garis lelah di wajah Salah menceritakan betapa keras ia bertarung dem kejayaani logo burung Liver–burung mitologi  yang tidak pernah ada di dunia nyata. Burung ini telah menjadi lambang resmi kota Liverpool sejak abad ke-13 sebelum diadopsi menjadi lambang utama di dada jersey klub Liverpool.

Pemain profesional selalu datang dan pergi, dari musim ke musim. Tetapi para legenda menetap di lorong-lorong ingatan manusia. Dan Mo Salah adalah salah seorang legenda sepak bola modern yang brilian.

Terima kasih untuk setiap gocekan, setiap sujud syukur selebrasi gol, dan setiap harapan yang kau hidupkan kembali pada nilai-nilai kemanusiaan melalui sepak bola, Mo.

Pergilah dengan kepala tegak bersama keluarga tercinta. Sebab,  baik di Liverpool maupun di hati jutaan penonton di pelbagai penjuru bumi,  kau tidak akan pernah berjalan sendirian. Di mana pun kau akan berlabuh di klub lain—yang berebut mengincar status bebas transfermu–setelah ini.  

You’ll Never Walk Alone, Mo. []

Back to top button