SolilokuiVeritas

Renungan Deden Ridwan: Di Tengah Banjir Konten, Manusia Sedang Mencari Makna

Aku belajar bahwa perhatian dan makna tidak selalu berjalan beriringan. Perhatian sering datang seperti kembang api. Riuh, terang, lalu menghilang. Makna berbeda. Ia lebih menyerupai pelita yang menyala diam-diam di sudut rumah. Cahayanya mungkin tidak besar, tetapi cukup untuk membantu seseorang menemukan jalan pulang.

Deden Ridwan

JERNIH–Saudaraku. Beberapa hari lalu seorang sahabat menghubungiku. Namanya Muhammad Shofa. Ia menyampaikan bahwa Policy Corner ingin mengundangku berbincang tentang perkembangan industri konten dan dunia kreatif yang kini berubah begitu cepat.

Aku mengiyakan. Bukan karena merasa paling memahami dunia itu, melainkan karena lebih dari dua puluh tahun hidupku memang dihabiskan di dalamnya. Aku mencari nafkah di sana. Belajar di sana. Jatuh bangun di sana. Sebagian pelajaran penting tentang kehidupan justru kutemukan di dunia yang sering dianggap sekadar industri “utopis” itu.

Jumat malam aku meluncur ke sebuah studio podcast di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. Obrolan mengalir hangat. Pertanyaan demi pertanyaan membawa ingatanku berjalan mundur, menengok jalan panjang yang pernah kulalui.

Ketika host bertanya mengapa aku memilih dunia kreatif, aku hanya tersenyum. Pertanyaan itu terdengar sederhana, padahal jawabannya cukup rumit.

Sejujurnya aku tidak pernah bercita-cita menjadi CEO, produser film, atau mendirikan perusahaan konten. Jika meminjam istilah teman-teman, mungkin aku hanya tersesat di jalan yang benar.

Semua berawal dari kegemaranku menulis. Saat masih mahasiswa, aku mengirim artikel ke berbagai media. Sebagian dimuat. Sebagian ditolak. Sebagian lagi tak pernah mendapat jawaban. Dari proses itu aku belajar bahwa gagasan memiliki nasibnya sendiri. Ia sering lahir melalui jalan berliku, tetapi ketika menemukan pembacanya, umurnya sering kali lebih panjang daripada pemiliknya.

Perjalanan itu membawaku ke Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), tempat aku berkesempatan belajar dari almarhum Prof. M. Dawam Rahardjo. Lingkungan itu mengajarkanku bahwa pemikiran bukan alat untuk merasa lebih pintar daripada orang lain. Pemikiran adalah cara manusia memahami kehidupan.

Pelajaran itu semakin kuat ketika aku ikut mengelola Jurnal Ulumul Qur’an pada periode pasca-Reformasi. Di sana aku melihat bagaimana sebuah gagasan dapat mengubah cara orang memandang dunia. Aku belajar bahwa menghadirkan pengetahuan bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia adalah ikhtiar kebudayaan.

Hikmah itulah yang kubawa ketika bergabung dengan Mizan Group sebagai editor biasa. Hari-hariku dipenuhi manuskrip. Dari ruang-ruang kecil yang dipenuhi naskah itulah aku memahami bahwa industri konten tidak pernah sekadar urusan bisnis. Di dalamnya ada pertarungan gagasan, pembangunan literasi, dan tanggung jawab untuk ikut mencerdaskan kehidupan publik.

Tahun demi tahun berlalu. Tanggung jawab bertambah. Hingga suatu hari aku memasuki salah satu fase paling menegangkan dalam perjalanan karierku.

Saat itu beberapa unit usaha di lingkungan Mizan menghadapi persoalan serius. Sebagian kehilangan arah. Sebagian lagi dibebani konflik yang berkepanjangan. Manajemen memutuskan melakukan konsolidasi besar, dan tugas itu jatuh ke pundakku.

Suatu waktu Mas Haidar Bagir memanggilku. “Den, perusahaan ini harus jadi. Kalau gagal, nanti kamu saya kurbankan pas Idul Adha.” Kami tertawa. Namun aku paham bahwa di balik candaan itu tersimpan amanah yang tidak ringan.

Hari-hari berikutnya terasa panjang. Aku harus menyatukan orang-orang dari budaya kerja yang berbeda. Menyelesaikan konflik yang mengendap. Membangun kembali kepercayaan yang sempat retak. Ada malam-malam ketika aku pulang tanpa benar-benar tahu: apakah keputusan yang kuambil hari itu akan menyelamatkan perusahaan atau justru mempercepat kejatuhannya.

Masih kuingat perjalanan pulang yang sunyi itu. Lampu-lampu jalan berlari di balik kaca mobil. Jakarta masih terjaga, sementara pikiranku dipenuhi pertanyaan yang sama: apakah semua ini akan berhasil?

Pada masa itulah aku menyadari. Kreativitas tidak selalu lahir dari kenyamanan. Sering kali ia lahir dari tekanan, dari keterbatasan, dan dari keadaan ketika kita tidak memiliki pilihan lain selain menemukan jalan keluar.

Dari proses itulah kemudian lahir Noura Publishing. Berbagai karya menemukan pembacanya sendiri. Salah satunya adalah novel “Sepatu Dahlan” yang kemudian diangkat ke layar lebar. Tanpa pernah kubayangkan sebelumnya, aku dipercaya menjadi produsernya.

Ketika hari ini mengenang semua itu, aku sering tersenyum sendiri. Syukurlah, aku tidak jadi dikurbankan saat Idul Adha.

Namun pengalaman itu meninggalkan pelajaran penting. Karya besar hampir selalu lahir dari keberanian mengambil risiko. Inovasi jarang tumbuh dari keadaan serba aman. Industri kreatif hanya akan hidup selama masih ada orang-orang yang berani memperjuangkan gagasannya.

Mungkin karena itulah satu pertanyaan dalam podcast malam itu terus mengikutiku sepanjang perjalanan pulang.

Di era AI dan konten instan seperti sekarang, masihkah ada ruang bagi pemikir dan kreator? Aku terdiam cukup lama. Sebab pertanyaan itu bukan sekadar bahan diskusi. Ia adalah kenyataan yang sedang kita hadapi.

Aku mengalami perpindahan dari mesin tik ke komputer, dari media cetak ke internet, dari internet ke media sosial, dan kini memasuki zaman ketika mesin mulai belajar merangkai kata.

Aku tidak pernah memusuhi teknologi. Sebaliknya, aku menikmati banyak manfaatnya. Sesekali aku menggunakan AI dan melihat sendiri bagaimana teknologi membantu mempercepat pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari.

Namun semakin lama aku mengamatinya, semakin aku memahami satu hal.

Teknologi dapat mempercepat proses. Ia dapat membantu manusia memproduksi lebih banyak konten, menjangkau lebih banyak orang, dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.Tetapi teknologi tidak otomatis memperdalam makna.

Di situlah paradoks besar zaman kita. Setiap hari kita hidup di tengah banjir informasi. Video-video baru lahir setiap detik. Gambar-gambar berlomba merebut perhatian. Opini-opini memenuhi ruang digital tanpa henti.

Anehnya, di tengah keramaian itu manusia justru semakin sering merasa sepi. Kita mengetahui semakin banyak hal, tetapi belum tentu memahami kehidupan dengan lebih baik.

Masalahnya bukan karena konten instan hadir di tengah kita. Masalahnya muncul ketika manusia terlalu sibuk memproduksi dan mengonsumsi konten hingga kehilangan waktu untuk merenung.

Sebagai produser, aku melihat fenomena itu hampir setiap hari. Ada konten yang meledak hari ini lalu dilupakan esok pagi. Ada pula karya yang berjalan perlahan tanpa banyak sorak-sorai, tetapi diam-diam mengubah cara pandang seseorang, menemani masa sulitnya, bahkan mengubah arah hidupnya.

Dari sanalah aku belajar bahwa perhatian dan makna tidak selalu berjalan beriringan. Perhatian sering datang seperti kembang api. Riuh, terang, lalu menghilang. Makna berbeda. Ia lebih menyerupai pelita yang menyala diam-diam di sudut rumah. Cahayanya mungkin tidak besar, tetapi cukup untuk membantu seseorang menemukan jalan pulang.

Karena itu aku tidak terlalu khawatir terhadap masa depan para pemikir dan kreator. Banyak orang bertanya apakah AI akan menggantikan penulis, seniman, atau pemikir. Aku tidak melihatnya sesimpel itu.

Mesin dapat membantu manusia berpikir lebih cepat. Namun ia tidak pernah menjalani kehidupan itu sendiri. Ia tidak pernah menanggung kehilangan. Ia tidak pernah menghadapi kegagalan yang membuat seseorang terjaga sepanjang malam. Ia tidak pernah merasakan harapan yang hampir padam lalu menyala kembali. Ia tidak pernah mengalami perjalanan panjang yang membuat seseorang menjadi lebih matang dan bijaksana.

Karena itulah karya yang lahir dari pergulatan hidup akan selalu memiliki tempatnya sendiri. Ada luka di dalamnya. Ada keberanian. Ada harapan. Ada rasa syukur. Ada jejak kemanusiaan yang tidak lahir dari kumpulan data. Melainkan dari kehidupan yang sungguh-sungguh dijalani.

Justru ketika dunia dipenuhi informasi, manusia semakin membutuhkan pemahaman. Ketika dunia dipenuhi suara, manusia semakin membutuhkan kebijaksanaan. Ketika dunia dipenuhi konten, manusia semakin membutuhkan makna.

Sebab pada akhirnya manusia tidak hidup hanya dengan informasi. Yang dicari manusia adalah makna ketika kehilangan, ketika gagal, ketika mencintai, ketika harapan terasa menjauh, dan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.

Selama manusia masih bertanya tentang dirinya sendiri, tentang masa depan anak-anaknya, tentang cinta, kehilangan, harapan, bahkan tentang Tuhan yang diyakininya, selama itu pula para pemikir dan kreator akan selalu menemukan ruang pengabdiannya.

Teknologi akan terus berubah. Platform akan datang lalu pergi. Algoritma akan silih berganti. Namun kebutuhan manusia terhadap makna tidak pernah benar-benar usang.

Pada akhirnya karya terbaik bukanlah karya paling viral, melainkan karya yang mampu menemani manusia menjalani hidupnya. Karya yang menghadirkan harapan, memberi cahaya ketika keadaan terasa gelap, dan membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Wahai saudaraku, renungkanlah. Di tengah dunia yang semakin bising, tugas para pemikir dan kreator bukanlah bersaing dengan mesin. Tugas mereka adalah menjaga nyala kemanusiaan agar tidak padam. Karena pada akhirnya, yang dicari manusia bukan sekadar informasi. Yang dicarinya adalah cahaya untuk memahami hidupnya sendiri.[]

Back to top button