Solilokui

Semiotika Orang Tanpa Gejala

Marilah belajar kepada fakta bahwa covid-19 cenderung akan membunuh tubuh internal yang memiliki penyakit bawaan. Hal ini bisa berbanding lurus dengan akibat yang akan diderita oleh jaringan tubuh eksternal yang juga telah memiliki penyakit. Negara yang berpenyakit pasti juga akan mudah terbunuh oleh covid-19.

Oleh  : Acep Iwan Saidi*

JERNIH– Pandemik Covid-19 telah mengonfirmasi berbagai teori tentang tubuh manusia, khususnya dalam ranah antropologi tubuh, sosiologi tubuh, politik tubuh, dan gestur. Secara umum teori-teori tersebut mengidentifikasi bahwa tubuh manusia selalu merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, yakni tubuh internal (tubuh biologis) dan eksternal (masyarakat: sosial, politik, filsafat, dan lain-lain). Michel Foucault (1986), misalnya, mengidentifikasi tubuh yang produktif tidak lain adalah tubuh yang taat, tubuh yang tersaintifikasi atau berada di bawah kontrol teknologi-sosial yang disebut disiplin.

Acep Iwan Saidi

Titik serang utama Covid-19 sendiri adalah tubuh internal, yang secara medis teridentifikasi pada saluran pernafasan. Barangsiapa terkenai virus di saluran ini, ia akan mengalami penderitaan  hingga tingkat paling serius, yakni kematian. Akan tetapi, serangan masif dan cepat virus tersebut terbukti tidak berhenti di situ, tetapi merangsek ke dalam relasi tubuh eksternal.

Dalam relasi eksternal, tubuh yang telah terinfeksi covid-19 harus disembunyikan dari khalayak, diputus dari relasi sosialnya. Dalam perspektif semiotika Peirce (Merrel, 1997) tubuh terinfeksi telah menjadi wujud tanda (representamen) yang sahih dan umum (legisign), terkonsepkan sebagai simbol, dan terargumenkan di benak khalayak (interpretan). Sementara itu, dalam perspektif Barthes (1991), tubuh ini telah membuka mata rantai kode naratif. Setiap yang terinfeksi harus ditelusuri sejarahnya: pernah pergi kemana, bertemu siapa, dan seterusnya. Jadi, tubuh tersimbolisasi covid-19 telah membuka kemungkinan untuk menyeret tubuh lain masuk ke ruang yang sama.

Kode narasi OTG

Ketika kode narasi tersebut terbuka, jaringan semiotikanya pun terentang lebih panjang. Kita mengenal istilah kluster, misalnya. Kluster adalah rumah semiotis, tempat sekumpulan tanda tubuh yang tersimbolisasi tadi. Kluster pun dapat meningkat dan berkembang lagi sampai, bisa jadi, membentuk kepulauan virus, bahkan negara virus. Jika sudah begini, dalam pergaulan dunia, Indonesia adalah penanda bagi konsep virus. Merujuk kepada Saussure (1990), Indonesia bisa menjadi bunyi (acoustic image) yang acuan konsepnya sekumpulan virus, yang terbedakan dari bunyi “Malaysia, Singapura, Filipina”, dan lain-lain pada rumpun regional Asia Tenggara.

Kembali kepada cara bagaimana virus masuk ke dalam tubuh internal.  Beranalogi kepada T. Hall (1990), virus tersebut telah menciptakan tubuh eksternal  menjalin relasi sosiopetal (memisah struktur ruang). Dengan ini  seseorang cenderung menjauh (memisahkan diri) dari yang lain. Idealnya, memang, orang tersebut bukan hanya berpikir bahwa orang lain akan mentransfer virus ke dalam dirinya, melainkan ia juga khawatir menulari orang lain.

Akan tetapi, diri yang merasa yakin tidak terjangkit cenderung akan lebih khawatir orang lain menularinya. Dengan kata lain, seseorang akan cenderung mencurigai orang lain. Orang lain adalah ancaman. Hal ini berarti bahwa dalam relasi tubuh eksternal, tubuh adalah penanda konotatif dari bahaya.

Relasi itu menjadi kian dipertegas, sekaligus meluas, ketika belakangan ditemukan fenomena Orang Tanpa Gejala (OTG). Pada OTG tidak ada tanda yang mengirim pesan pada diri seseorang bahwa ia terjangkit covid-19. Namun, fakta empirik (medis) menunjukkan banyak tubuh internal tertulari covid-19 dalam relasi tubuh eksternal. Padahal, seluruh tubuh yang berelasi tampak normal.

Fakta tersebut kian menguatkan keyakinan bahwa dalam relasi tubuh eksternal, tubuh orang lain menjadi benar-benar ancaman. Dari sini, merujuk kepada semiotika Barthes, OTG menjadi metonimi, tepatnya synecdoche pars pro toto. Mereka adalah bagian kecil yang mewakili bagian lain yang lebih besar, sebagian mewakili keseluruhan. Jadi, keseluruhan tubuh adalah OTG.

Jalan buntu teori

Di sisi lain fenomena OTG juga telah meruntuhkan logika semiotika yang sejauh ini dipahami. Dalam semiotika Barthes, misalnya, tanda merupakan relasi antara penanda dan petanda. Relasi antara penanda dan petanda selalu bersifat logis. Pada relasi tanda konotatif sekalipun, logikanya tetap bisa ditelusuri. Bunga mawar, sebagai contoh, acap ditafsir sebagai cinta atau perempuan. Hal ini karena bunga mawar memiliki karakter yang sama dengan perempuan, yakni lembut dan indah.

Sinkronitas antara penanda dengan petanda konotatif sedemikian tidak bisa dilacak pada OTG. Alih-alih terdapat relevansi yang dapat saling mensubsitutisi, yang terjadi justeru kontradiksi. OTG merupakan penanda yang bertolak belakang dengan petandanya. Bukankah tidak logis orang yang tampak sehat ternyata sakit.

Tidak kalah problematiknya jika fenomena OTG tersebut didekati dengan semiotika Pierce. Dalam semiotika Peirce, OTG tidak bisa dikategorikan sebagai representamen (wujud tanda). Akan tetapi, pada ranah interpretan (pesan di benak penafsir), OTG justeru hadir sebagai tanda yang maknanya bisa dibuktikan secara medis. Oleh karena ini, secara konseptual OTG menjadi simbol (kesepakatan ilmiah).

Lantas, bagaimana kita bisa menelusuri logikanya. OTB adalah tubuh tanpa tanda. Namun, ternyata ia menghadirkan makna dan dampak. Sebagaimana semiotika Barthes, semiotika Peirce tampak seperti mengalami jalan buntu untuk menjawab kasus ini.

Menata jaringan tanda

Keruwetan tanda OTG dalam jaring semiotika di atas menunjukkan dua hal yang bertolak belakang, tetapi bermuara ke hal yang sama, yakni wabah covid-19 itu sendiri. Pertama, virus korona bukan hanya menyerang dan merusak tatanan realitas empirik (kehidupan riil bermasyarakat), melainkan juga tatanan teoretik. Situasi yang dihadapi semiotika  mungkin juga dihadapi oleh teori-teori lain. Belum ditemukannya vaksin, sejauh ini, bukankah bisa dibaca sebagai tanda telah rapuhnya ilmu medis secara khusus dan sains secara umum dalam menghadapi wabah ini.

Kedua, bisa pula yang terjadi adalah sebaliknya. Bukan konstruksi teoretiknya yang ringkih, melainkan OTG memang istilah yang keluar dari pikiran yang telah rusak. Kecemasan, kebingungan, dan kepanikan memungkinkan siapa saja bisa berpikir dan bertindak di luar nalar. Di situ, OTG menjadi semacam istilah sekenanya, sebutan yang diperuntukkan bagi sesuatu yang sebenarnya tidak dipahami. OTG menjadi semacam istilah politik, sebuah cara menyembunyikan fakta tentang pemerintah yang tidak mampu melakukan pemeriksaan intensif (swab) secara masif.

Jelas, sekali lagi, betapa covid-19 telah meluluhlantakan bukan hanya tubuh internal, melainkan juga relasi tubuh eksternal. Lalu, bagaimana menengarainya? Hemat saya, perlawanan terhadap serangan covid-19 mesti dimulai dengan menata jaringan yang telah dirusak covid-19 sedemikian. Dalam perspektif semiotika, saya ingin merumuskannya sebagai upaya menata kembali relasi tanda yang telah retak, bahkan terputus itu.

Dalam upaya demikian, Virus Korona sendiri sebenarnya telah mengirim semacam kode agar cara berpikir kita tentang berbagai hal harus benar-benar terintegrasi. Virus Korona bukan hanya menuntut kita berpikir secara inter- dan multidisplin, melainkan transdisiplin. Kita harus memadukan hal-hal yang telah serumpun, melainkan juga yang bertentangan.

Dalam konteks tubuh internal, misalnya, tubuh tidak bisa lagi dilihat melalui perspektif “spesialisasi-modernisme”. Jika kepala Anda sakit, yang harus diobati bukan hanya kepala, melainkan seluruh jaringan di dalam tubuh tersebut sebab faktanya kepala hanyalah salah satu bagian dari tubuh yang berelasi dengan bagian-bagian lain. Pada lingkup yang lebih luas, kerja medis tidak cukup terkotak di dalam “boks-medis”, melainkan harus menerobos, bekerja di dalam ruang yang lebih terbuka, beriteraksi fleksibel dengan, misalnya, tradisi. Integrasi ini sejatinya bukan hanya terjadi dalam urusan meramu obat, bukan hanya “mengilmiah”-kan yang dianggap “tradisional”, melainkan juga dalam konteks cara berpikir.  Tubuh internal harus diposisikan di dalam kultur.

Di situlah, kemudian, tubuh internal menemukan posisinya dalam relasi tubuh eksternal. Pada level ini, negara harus menjadi ruang yang menjamin terjadi relasi tersebut.  Negara, pada akhirnya, akan menjadi kesatuan kohesif dan relasi koherensif dari seluruh tubuh tadi. Pendek kata, negara sesunggunnya adalah “kesatuan jaringan tubuh internal dan eksternal” itu sendiri.

Hanya dengan cara tersebut, saya pikir, covid-19 dapat dikalahkan. Jika pemosisian tubuh internal dan penyikapan relasi tubuh eksternal masih seperti sekarang: terspesialisasi dan bahkan saling bertabrakan, nyaris bisa dipastikan wabah ini masih akan bercokol lama. Marilah belajar kepada fakta bahwa covid-19 cenderung akan membunuh tubuh internal yang memiliki penyakit bawaan. Hal ini bisa berbanding lurus dengan akibat yang akan diderita oleh jaringan tubuh eksternal yang juga telah memiliki penyakit. Negara yang berpenyakit pasti juga akan mudah terbunuh oleh covid-19. Semoga negeri tercinta ini tidak sedang menuju ke sana! [ ]

* Pembelajar Semiotika-Dosen di Sekolah Pascasarjana FSRD ITB

Back to top button