
Di ruang tunggu Puskesmas Nusajaya, Abednego duduk terdiam. Usianya baru sepuluh tahun. Tangannya menggenggam buku tulis lusuh. Ia menunggu ibunya yang terbaring di bangsal. Saya mendekat. Saya duduk di sebelah Abednego. “Belajar apa hari ini?” tanyaku lembut. Abednego menunduk. “Tarada. Kitorang tara pi sikola.” “Lihat pohon kelapa di luar sana. Ia sedang belajar bertahan dari badai. Kamu juga sedang belajar kesabaran hari ini.”, ucapku sambil menunjuk ke arah luar jendela. Abednego menatap pohon itu. Ia mengangguk pelan. Ada pemahaman baru di matanya.
Oleh : Rizky Adriansyah*

JERNIH–Hujan turun deras. Angin memukul jendela. Di ruang tunggu Puskesmas Nusajaya, Abednego duduk terdiam. Usianya baru sepuluh tahun. Tangannya menggenggam buku tulis lusuh. Ia menunggu ibunya yang terbaring di bangsal.
Saya mendekat. Saya duduk di sebelah Abednego. “Belajar apa hari ini?” tanyaku lembut. Abednego menunduk. “Tarada. Kitorang tara pi sikola.”
“Lihat pohon kelapa di luar sana. Ia sedang belajar bertahan dari badai. Kamu juga sedang belajar kesabaran hari ini.”, ucapku sambil menunjuk ke arah luar jendela.
Abednego menatap pohon itu. Ia mengangguk pelan. Ada pemahaman baru di matanya.
Nusajaya, Halmahera Timur, 02 Mei 2005.
—————————-
Itu sepenggal cerita yang masih tersisa di ingatanku. Dua puluh satu tahun yang lalu. Memperingati Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar merayakan gedung sekolah, buku pelajaran, atau seragam yang rapi.
Hari Pendidikan Nasional adalah momen untuk menghayati kembali filosofi Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara. “Jadikan setiap orang menjadi guru, jadikan setiap tempat sebagai sekolah.”
Pendidikan sejati tidak pernah dibatasi oleh dinding-dinding ruang kelas. Kehidupan itu sendiri adalah kurikulum terbuka yang terus berjalan.
Sepanjang usia, kita akan selalu menjadi guru bagi berbagai bentuk “sekolah”, sekaligus menjadi “murid” atas peristiwa yang tidak terduga. Alam semesta mengajarkan kita tentang harmoni, adaptasi, dan siklus kehidupan yang tak pernah berhenti.
Penderitaan dan ujian menempa mental kita untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh, sabar, dan penuh rasa syukur atas setiap tarikan napas. Sedangkan interaksi sosial melatih empati, toleransi, dan seni mendengarkan orang lain di tengah perbedaan latar belakang dan pandangan.
Setiap momen menyimpan hikmah tersendiri. Tidak peduli siapa yang kita temui—anak kecil di ruang tunggu, pasien di rumah sakit, atau bahkan orang asing di jalan—mereka bisa membawa pelajaran yang mengubah sudut pandang kita.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Teruslah belajar, karena kehidupan tidak pernah berhenti memberikan pelajarannya. Tabik. []
Batam, Kepulauan Riau, 2 Mei 2026





