SolilokuiVeritas

Tiga Alasan Perang Dunia Ketiga Tidak Akan Terjadi

Mereka tidak akan mau mengakhiri hidupnya menyaksikan skenario perang  Mutual Assured Destruction (MAD). Dalam PD III tidak akan ada pemenang, selain puing keruntuhan dan kehancuran. Publik memproyeksikan citra “gila kuasa” pada para pemimpin tersebut. Namun sejarah menunjukkan, bahkan diktator paling brutal pun memiliki insting bertahan hidup yang kuat. Mereka bahkan ingin hidup “abadi”. Ini selaras dengan konsep filosofis metafisik “The Will to Live” (kehendak untuk hidup) Arthur Schopenhauer.

Oleh    :  Lukas Luwarso

JERNIH–Bayangan tentang Perang Dunia Ketiga (PD III) selalu menghantui imajinasi publik. Terutama di tengah eskalasi konflik geopolitik seperti perang Iran vs Amerika-Israel atau Rusia vs Ukrania saat ini. Sabtu lalu beredar kabar, Donald Trump berniat menuklir Iran, namun bisa dicegah para jenderal di sekelilingnya.

Secara psiko-politik, PD III atau perang nuklir kecil kemungkinan akan terjadi. Ada tiga argumen mengapa tidak akan terjadi: Pertama, Psikologis. Psiko-personal para pemimpin dunia, betapapun kontroversialnya, bukanlah patriotik. Figur seperti Donald Trump, Benjamin Netanyahu, Vladimir Putin, dan Xi Jinping adalah elite global yang hidup dalam kenyamanan dan kemewahan.

Mereka para hedonis penikmat kekuasaan. Sangat irasional menganggap mereka secara sadar ingin menyeret dunia ke dalam perang total yang akan berujung pada kehancuran mereka sendiri. Mereka menikmati kekuasaan, menyukai kehidupan duniawi, kekuasaan adalah alat untuk menikmati segala previlese. Perang dunia era nuklir adalah kehancuran total. Mereka ngeri harus menjalani sisa hidupnya dalam bunker yang claustrophobic akibat radiasi nuklir.

Mereka tidak akan mau mengakhiri hidupnya menyaksikan skenario perang  Mutual Assured Destruction (MAD). Dalam PD III tidak akan ada pemenang, selain puing keruntuhan dan kehancuran. Publik memproyeksikan citra “gila kuasa” pada para pemimpin tersebut. Namun sejarah menunjukkan, bahkan diktator paling brutal pun memiliki insting bertahan hidup yang kuat. Mereka bahkan ingin hidup “abadi”. Ini selaras dengan konsep filosofis metafisik “The Will to Live” (kehendak untuk hidup) Arthur Schopenhauer. Realitas metafisik manusia adalah  dorongan untuk bertahan hidup. Hasrat untuk terus hidup adalah penggerak irasional di balik eksistensi.

Kedua, Historis. Ada perbedaan historis yang krusial antara era kini dengan situasi menjelang PD I dan PD II. Pada awal abad ke-20, dunia masih didorong oleh naivitas ideologi politik: nasionalisme ekstrem, fasisme, komunisme revolusioner, serta keyakinan bahwa ekspansi wilayah adalah jalan utama menuju kejayaan bangsa. Ekspansi imperial melalui penaklukan fisik wilayah dan sumber daya alam, saat itu, adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan kekuatan. Pengorbanan nyawa demi “Tanah Air” dianggap kemuliaan tertinggi.

Logika kolonialisme fisik ini telah menjadi artefak sejarah. Di era pasca-modern, kendali atas wilayah geografis bukan lagi penentu kekuatan sebuah negara. Globalisasi ekonomi, interdependensi pasar, dan kompleksitas rantai pasok membuat perang total justru merugikan semua pihak, termasuk pemenang sekalipun. Ketergantungan ekonomi antar-negara di era globalisasi membuat perang total menjadi tindakan bunuh diri ekonomi. Tidak ada “hadiah imperial” yang sebanding dengan biaya kehancuran global. 

Selain itu, teknologi modern telah mengubah sifat kekuasaan. Dominasi tidak lagi soal teritori, melainkan kontrol atas data, teknologi, dan jaringan informasi. Negara-negara maju kini bertarung dalam ranah siber, ekonomi digital, dan teknologi. Dalam lanskap ini, perang dunia konvensional menjadi usang, terlalu mahal dan destruktif.

Ketiga, Teknologis. Saat ini era serba-digital, virtual robotik, dan otomata. Logika “merebut wilayah” adalah cara pikir arkaik yang diwarisi generasi baby boomer, ilusi yang mulai kehilangan relevansinya. Kekuatan dunia saat ini diukur melalui dominasi teknologi, data, dan pengaruh ekonomi-digital.

Perang fisik berskala global hanya akan menghancurkan infrastruktur digital yang menjadi sumber kekuatan elit dunia. Generasi pemimpin saat ini, umumnya babyboomer, berusia 70 tahunan, hidup dalam dunia yang sangat berbeda dari para pemimpin awal abad ke-20.

Mereka ikut menikmati kemudahan dan segala kenyamanan teknologi. Mereka ingin terus hidup, menikmati kekuasaan, dan bahkan—dalam imajinasi transhumanistik—memper-panjang umur. ​FIgur seperti Vladimir Putin dan Xi Jinping justru menunjukkan obsesi terhadap umur panjang. Saat pertemuan acara kenegaraan,  insiden “hot mic” menangkap percakapan kasual dua sosok otokratik ini membicarakan kemajuan bioteknologi. Bahwa mereka bisa memperpanjang batas usia hidup hingga 200 tahun atau lebih.

Politikus yang berencana hidup seribu tahun lagi tidak akan menekan tombol nuklir, dan memusnahkan teknologi yang dapat memperpanjang hidupnya.​ Kemajuan bioteknologi dan regenerasi sel mengindikasikan, memperpanjang usia akan terwujud beberapa tahun ke depan. Putin dan Xi Jinping tidak akan terbujuk oleh provokasi Trump-Netanyahu. Mereka memiliki kalkulasi dingin jangka panjang, menolak terlibat dalam teater konyol perang terbuka yang menghancurkan segalanya.

Doktrin Mutual Assured Destruction (MAD) membuat PD III adalah bunuh diri kolektif kemanusiaan. Figur seperti Donald Trump sering dianggap sebagai kartu liar yang tidak terduga. Namun rekam jejaknya menunjukkan, retorika ekstrem tidak selalu diikuti tindakan nyata. Ia cuma pengancam, pem-bully. Barking dog seldom bite—anjing yang menggonggong jarang menggigit. Trump, dan Netanyahu, sebagai penyebar kematian, akan dilibas oleh sejarah dan hasrat kehendak untuk hidup yang lebih kuat.

Perang Dunia III tidak akan terjadi. Dunia mungkin Masih akan terus diwarnai oleh berbagai konflik. Namun “kiamat” akibat perang dunia tidak akan pernah terjadi selama kehendak untuk hidup masih ada dalam diri manusia. Ketakutan pada “perang pamungkas” (Armageddon) adalah sekadar histeria berbasis mitologis, sikap pesimis sesaat pada situasi kontemporer. []

Back to top button