Solilokui

Venezuela, Negara Cantik yang Ditindas Si Rakus AS

Venezuela disebut-sebut sebagai gudangnya perempuan cantik jelita. Setiap kontestan pemilihan Miss Universe, harus berhitung dengan penantang dari Venezuela. Sejak digelar tahun 1952, setidaknya tujuh perempuan cantik Venezuela menggondol gelar prestisius itu. Kini, negeri cantik dan para penghuninya yang rupawan itu tengah digagahi negeri asing.

Oleh  : Taufik Rigo*

JERNIH—Para perempuan cantik itu menyapa saya, semuanya tujuh orang, saya hitung. “A la orden, a la orden, siempre a la orden, Senor,”kata mereka, menyapa pembeli yang berlalu-lalang. “Siap melayani Anda, Pak.” Itulah sapaan gaya pasar Venezuela. Sengaja saya mendatangi pasar. Saya percaya kebijakan lama, geliat jual beli di pasar bisa menggambarkan kondisi suatu negara.

Harga-harga di pasar biasanya diteliti, khususnya harga kebutuhan pokok, naik turunnya, ini itunya, sebutan kerennya: inflasi dan tingkat pertumbuhan. Terus terang, yang berjualan dan membeli, pastinya tak menyadari kalau transaksi mereka dijadikan bacaan oleh orang cerdas.

Negeri ini dinamakan Venezuela, letaknya di bagian utara kawasan Amerika Selatan. Menghadap ke Samudera Atlantik, dan layaknya kebanyakan negara tetangganya, mereka berbahasa Spanyol. Ada kisah tentang negeri ini, tentang si cantik Venezuela yang murung, dan kini siap menyapa dunia.

21N (21 November 2021), Venezuela menghelat Pilkada serentak, yang pertama dalam multikrisis dan hiperinflasi berkepanjangan akibat konflik politik dan sanksi AS selama bertahun-tahun. Pilkada serentak ini, diikuti oleh semua pihak yang bertikai, membuat semua mata tertuju ke sini.

Gadis-gadis Venezuela dalam sebuah demonstrasi

Dari tanah air, tak kurang delegasi tingkat tinggi KPU dan GNB (Gerakan Non Blok–Kerjasama Selatan Selatan), bahkan JMSI (Jaringan Media Siber Indonesia), ikut datang untuk memonitor jalannya Pilkada serentak itu. Tapi, apakah benar suatu proses demokrasi alias pemilihan umum bisa menjadi berita menarik?

Sekilas si cantik Venz

Venezuela digadang-gadang gudangnya perempuan cantik jelita. Setiap kontestan pemilihan Miss Universe, harus berhitung dengan penantang dari Venezuela. Sejak digelar tahun 1952, setidaknya tujuh perempuan cantik Venezuela menggondol gelar prestisius itu: 1979, 1981, 1986, 1996, 2008, 2009, dan 2013. Kedua terbanyak setelah AS dengan delapan Miss Universe.

Berkat kolaborasi Disney–Pixar, film animasi “UP” telah membawa kita ke keindahan panoramik Angels Falls atau Salto Angel di Canaima, air terjun tertinggi di dunia (hampir setinggi 1000 m). Nama pribumi Indian Pemon-nya, nyaris saja menggantikan nama beken Hollywood itu, saat mendiang Presiden Hugo Chavez, menyebut Salto Angel sebagai Kerepakupai Merú (air terjun dari sumber terdalam), atau Parakupá Vená (jatuh dari titik tertinggi).

Film animasi “UP” berhasil mengangkat keanekaragaman hayati Venezuela, yang ternyata mirip Indonesia!

Setidaknya Conservation International menobatkan Venezuela, bersama Indonesia, sebagai 17 negara dengan endemisme biodiversitas tertinggi di dunia, yang pun berbatasan dengan kayanya ekosistem spesies lautan.

Tentu Indonesia masih memimpin klasemen, apalagi Indonesia adalah satu-satunya negara yang bukan hanya kaya akan aneka flora dan fauna, bahkan dalam satu hutan yang sama, ditemukan kohabitasi sekaligus dari badak, harimau, orang hutan, gajah, dan beruang! Brazil jelas pesaing terkuat Indonesia. Yang pasti, Venezuela adalah negara terdepan untuk konservasi, dimana hampir 54 persen wilayah kedaulatannya, dideklarasikan sebagai kawasan lindung.

Duit Venezuela berasal dari jualan minyak, dan tentu aneka hasil tambang dan mineral. Celakanya, justru sumber duit inilah yang dijadikan obyek sanksi AS, sehingga bisa ditebak, Venezuela jatuh pada hiperinflasi ribuan persen dan multikrisis yang parah.

Cerdiknya, melalui joint venture dengan perusahaan asing, produk petrokimia terutama metanol dalam September–Oktober kemarin, telah meningkat dalam penjualan, strategi JV itu diiringi taktik menjualkannya setengah harga, bahkan justru di pasar Amerika Serikat!

Nilai tukar mata uang Bolivares juga anjlok. Saat prakrisis, per dolar AS hampir setara 2 Bolivares, lalu sempat senilai lebih dari 4juta Bolivares. Berkat redenominasi awal Oktober yang menghapus enam nol di belakang angka, kini nilai Bolivares atas mata uang dolar “dikembalikan paksa” kepada nominal satuan.

Sudah hampir 5 jutaan warga Venezuela hengkang memilih berdomisili keluar, tidak kita ketahui apakah mereka terjamin hak pilihnya sebagai diaspora. Yang pasti, Pilkada serentak kali ini, dengan serius diikuti semua pihak yang bertikai. Ini merupakan hasil dialog damai dan rekonsiliasi di Meksiko, yang didorong dan difasilitasi oleh Norwegia dan Presiden Meksiko.

Multikrisis Venz

Krisis bukan hanya di politik, tapi juga sosial dan ekonomi. Segalon air mineral, di sini dibanderol 4 dolar AS alias sekitar Rp 56 ribu. Ketersediaan bahan bakar diesel luar biasa sulitnya. Dulu semua jenis bahan bakar digratiskan. Kini dihargai 50 sen per liter untuk Oktan-91 (versi pemerintah. Masih banyak yang meragukan dan menuduh bahan bakar yang dijual hanya berangka oktan 85).

Untuk berbagai buah dan sayur mayur lokal segar, harga jual relatif murah bila dibeli di pasar rakyat. Namun akan membubung bila dibeli di supermarket. Bawang bombay lokal warna merah dan putih berkisar di harga 4 dolar AS per kg di pasar rakyat, namun mencapai 8 dolar AS di supermarket. Sebelum era multikrisis, harganya di pasar rakyat tidak sampai 2 dolar. ‘Bodegon’ pun umumnya hanya menjual produk impor yang didatangkan dari Turki, Rusia, Cina, dan Vietnam.

Gaji PNS Venezuela adalah yang terburuk. Untuk PNS tingkat-3 (professional grade-3, tertinggi adalah tingkat-5), per bulannya digaji 20 dolar AS oleh pemerintah. Bandingkan dengan harga bawang di atas!  

Orang orang pintar Venezuela banyak yang eksodus. Akibatnya roda pemerintahan dan swasta (termasuk BUMN migas yakni PDVSA, dan BUMN aneka tambang dan mineral yakni CVG), sangat terganggu.

Yang tidak eksodus, kehilangan pekerjaan. Bila beruntung, beralih pekerjaan. Contohnya dari profesi dosen terpaksa menjadi satpam (seperti salah seorang satpam yang bekerja di KBRI).

BUMN (juga BUMD) diisi oleh orang partai atau relawan (yang di Indonesia biasanya disuruh nongkrong jadi komisaris), dan menjadi merugi karena tidak kompeten. Begitu pun untuk jabatan pemerintahan. Swasta yang ingin bertahan, terpaksa berkolusi dengan pejabat.

Swasta besar, jelas hengkang dan “tutup warung”. Bahkan kamar dagang dan industri terbesar yakni FEDECAMARAS “ikut” pertarungan di tahun 2018, dengan menuntut pemerintahan yang berkuasa ke Organisasi Buruh Internasional (ILO) atas pelanggaran perburuhan. Saat ini kepengurusan FEDECAMARAS lebih memilih netral dan fokus dengan ‘fitrah” bisnis, sesuatu yang lebih dibutuhkan di masa rekonsiliasi, tentunya.

Barang kebutuhan pokok yang dulu sulit didapat, kini terlihat sudah membanjiri rak belanja toko kelontong dan pusat perbelanjaan. Restoran dan café semakin ramai dikunjungi. Beberapa kegiatan komunitas, bahkan sekolah juga sudah mulai tatap muka.

Namun bagi kebanyakan warga, mulai membanjirnya barang kebutuhan pokok tidak menunjukkan ekonomi yang kembali ke normal. Bagi sebagian besar warga, itu hanya menunjukkan telah kembalinya kelas menengah dan atas, dan semakin terpuruknya daya beli mayoritas warga.

Dengan karantina akibat pandemik yang diuji coba relaksasi selama November-Desember (menyambut natal dan tahun baru), dan transaksi eceran yang sudah menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat sampai ke pasar rakyat, disinyalir akan semakin memukul kelompok pendapatan rendah.

Jual beli eceran umumnya sudah menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat. Suatu pelanggaran konstitusional yang kini kebal dari kriminalisasi. Cibiran umum yang beredar adalah, apa yang disebut sebagai membaiknya kondisi ekonomi Venezuela, tidak lain merupakan kompromi rezim atas langkah dolarisasi tak resmi, dan tidak diakui.

Tentu tren dinamika Venezuela lebih positif saat ini, terutama sejak Dewan HAM PBB mengutus special rapporteur Aleina Douhan untuk investigasi dan menilai kondisi lapangan. Ia telah memfatwakan bahwa sanksi unilateral AS dan Uni Eropa telah melanggar prinsip hukum internasional dan HAM. Sehingga pada Preliminary Findings nya di Februari 2021 lalu meminta agar AS dan UE mencabut sanksi unilateral tersebut.

Venz memilih

Semacam KPU Venezuela, yakni CNE, telah membuka diri dan mendatangkan sekitar 300an pemantau Pilkada internasional, termasuk dari Uni Eropa (100an). Dari Indonesia, diwakili oleh KPU, GNB (Pusat Kerja Sama Selatan-Selatan) dan JMSI (Jaringan Media Siber Indonesia), totalnya enam pemantau yang disebar bukan hanya di sekitaran Ibukota Caracas, namun juga jauh ke perbatasan dengan Kolombia, di negara bagian Zulia.

Ada yang menarik dari diterapkannya kebijakan nasional Ley Seca yang sangat ketat pada proses pemilihan di Venezuela. Ley Seca adalah kriminalisasi bagi konsumsi dan jual beli semua minuman beralkohol sejak akhir pekan pemilihan, hari pemilihan, dan usai pemilihan. Cukup menarik, karena umumnya pesta demokrasi diiringi oleh minum-minum.

Pilkada Serentak ini disebut Mega Pemilu dikarenakan partisipasi yang luas dari semua spektrum politik, dan akan hasilkan pemilihan 23 Gubernur, 335 Walikota, dan 2471 legislator dan 253 legislator baru di Pusat, untuk semua negara bagian. Jumlah DPT terdaftar hampir 21 juta dari 30 juta populasi. Partai PSUV dikomandoi Nicolas Maduro mengumpulkan koalisi rezim, dan oposisi Aliansi Demokratik digawangi oleh Juan Guaido.

21N Mega Pemilu juga dianggap batu ujian menyongsong Pilpres 2024, sekaligus kontestasi Maduro vs Guaido –layaknya program seri TV “Survival”: baik bagi jalan politik Maduro, maupun Guaido. Kekalahan pada Mega Pilkada, adalah kejatuhan. Maka Maduro & Guaido, bersiaplah jatuh, telak.

Ideologi sosialisme revolusioner Bolivarian gaya Chavez, yang disebut Chavismo, kini menguji kesetiaan Maduro. Dengan kematian Hugo Chavez, maka loyalis Chavizta akan menagih “kesetiaan politis-ideologis” Maduro yang semakin gamang saat mempertahankan kekuasaan secara pragmatis untuk dirinya sendiri.

Salah satu dampak terpenting dalam pergerakan pendulum politik Chavismo adalah kecenderungan Maduro untuk membangun gerakan baru Madurista. Perombakan kabinet mendadak segera setelah dimulainya dialog damai dan rekonsiliasi di Meksiko September lalu, menunjukkan gelagat itu. Pergeseran posisi Menteri kunci, seperti Menteri Luar Negeri kepada Felix Plasencia, disinyalir sebagai upaya Maduro keluar dari bayang bayang Chavismo, dan memperkuat Madurismo.

Begitupun Guaido, yang semakin kehilangan pamor di kalangan oposisi. Semua proses perlawanan diaspora dan dukungan Amerika Serikat, seperti menabrak tembok besar. Mega Pilkada Serentak, tak ayal, menjadi tes kekuatan sekaligus siapa survivor diantara kedua tokoh ini: berhasilkah Maduro keluar dari Chavizta dan membangun Madurismo; bagaimana dengan Guaido, dapatkah memastikan kepemimpinan oposisi yang semakin frustrasi dan terkoyak… akan bagaimana si cantik Venezuela menyapa dunia, usai akhir pekan ini.

Mari tunggu hasil Mega Pilkada Serentak 21N melewati akhir pekan ini. [ ]

*Telah delapan bulan lebih berdomisili di Venezuela.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close