Menelan Emas, Memuntahkan Sumpah

(Puisi Terbuka untuk Dadan, Lodewyk dan Sony)
Di atas altar generasi emas yang digadang mulia,
Mereka menulis janji untuk menyembuhkan luka stunting bangsa.
Namun di balik tirai Badan Gizi Nasional yang megah berdiri,
Tiga nama memahat khianat dalam senyapnya ambisi.
Dadan, Lodewyk, dan Sony duduk memegang kendali,
Mengubah nampan gizi menjadi panggung korupsi.
Katanya demi membebaskan bocah-bocah dari lapar yang perih,
Nyatanya kantong-kantong jubah mereka yang kian memutih.
Satu miliar mengalir setiap hari ke pundi-pundi sang ketua,
Saat di pelosok negeri, seorang ibu menangis menatap anaknya yang kurus renta.
Uang kotor perizinan SPPG mengalir deras bagai air bah,
Menenggelamkan nurani di dalam kubang keserakahan yang megah.
Anggaran motor listrik di-mark-up tanpa ada rasa malu,
Sepatu-sepatu pelindung kaki pun tak luput dari tipu daru.
Bahkan tablet-tablet digital yang katanya demi dapur lebih maju,
Telah disulap menjadi angka-angka haram yang penuh tipu-tipu.
Wahai para pemegang kuasa, tidakkah kalian dengar rintihan itu?
Ataukah gemercik rupiah telah menyumbat telinga dan kalbu?
Kalian menunggangi jargon ‘Generasi Emas’ sebagai jubah pelindung,
Padahal kalianlah rayap yang membuat tiang fondasi bangsa ini mendengung.
Kini Kejaksaan datang mengetuk pintu malam yang sunyi,
Membongkar topeng kebajikan yang selama ini kalian puji.
Status tersangka kini melekat erat di pundak yang dulu pongah,
Menyeret nama-nama besar ke dalam lumpur kehinaan yang basah.
Bagaimana bisa makanan sehat kalian comot demi dompet dan angka?
Mengapa gizi anak-anak bangsa dikorbankan demi takhta dan harta?
Jeritan korban keracunan itu bertransformasi menjadi kutuk yang membara,
Mengejar ke mana pun kalian melangkah di bawah langit Nusantara.
Generasi emas tidak akan pernah lahir dari tangan-tangan yang kotor,
Sebab gizi yang kalian janjikan telah membusuk di dalam tor-tor.
Pengadaan barang itu kini menjadi saksi bisu di ruang sidang,
Bahwa keadilan pada akhirnya akan menuntut tebusan yang benderang.
Biarlah hukum berbicara dengan suaranya yang paling lantang dan keras,
Menghukum para pencuri yang memeras keringat rakyat jelata hingga tandas.
Sebab stunting terbesar bangsa ini bukanlah kekurangan nutrisi di badan,
Melainkan stunting moral para pejabat yang tega memakan masa depan.(*)
Andra Nuryadi





