Moron

Dua Seri Tragedi KMP Mutiara Sentosa

Meski terjadi pada rute dan tahun yang berbeda, keduanya menyisakan pola kelam yang sama: kegagalan fungsi sekoci darurat, misteri manipulasi data manifes penumpang, hingga perjuangan nekat ratusan nyawa yang terombang-ambing di laut lepas.

WWW.JERNIH.CO – Peristiwa kebakaran kapal motor penumpang tipe roll-on/roll-off (ro-ro) milik perusahaan pelayaran PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) memperpanjang rekam jejak kelam keselamatan transportasi laut Indonesia.

Publik sering kali mengaitkan dua insiden besar yang menimpa armada dari grup kapal berseri ini, padahal keduanya merupakan dua peristiwa berbeda yang terjadi pada waktu, lokasi perairan, serta rute yang berbeda: tragedi KM Mutiara Sentosa 1 pada tahun 2017 dan insiden KM Mutiara Sentosa 2 pada Agustus 2026.

Tragedi KM Mutiara Sentosa 1 (19 Mei 2017)

Tragedi pertama mengguncang publik pada Jumat, 19 Mei 2017. Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Mutiara Sentosa 1 mengalami kebakaran hebat saat melayani rute pelayaran dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Di bawah komando Nakhoda Deni Sarapung, kapal terbakar di perairan Kepulauan Masalembo / Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura (koordinat 05°33.01′ S – 114°34.25′ E, sekitar 3 mil laut timur laut Pulau Masalembu).

Hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengonfirmasi bahwa titik api pertama kali muncul di geladak kendaraan (car deck) dari sebuah truk berwarna hijau berterpal biru. Upaya awal penanganan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), sprinkler, dan hidran gagal menjinakkan si jago merah hingga akhirnya api menyambar pasokan bahan bakar dan memicu ledakan besar yang membakar area kabin penumpang.

Kobaran api memblokir akses utama menuju dek evakuasi dan membuat sekoci tidak dapat diturunkan secara optimal; beberapa sekoci bahkan ditemukan hangus terikat pada dudukannya. Setelah nakhoda menginstruksikan perintah tinggalkan kapal, mayoritas penumpang melompat ke laut lepas hanya berbekal life jacket atau inflatable liferaft sebelum dievakuasi oleh kapal niaga (seperti KM Meratus), kapal nelayan, dan Basarnas.

Masalah krusial lainnya adalah manipulasi data manifes: Kesyahbandaran Tanjung Perak awalnya hanya mencatat 134–135 penumpang dan 37–44 ABK, namun total korban yang dievakuasi mencapai 197 orang. Selisih tersebut merupakan sopir cadangan, kernet, dan cleaning service yang tidak terdaftar. Peristiwa ini mencatat 5 korban jiwa meninggal dunia dan 192 orang selamat.

Insiden KM Mutiara Sentosa 2 (2 Agustus 2026)

Luka lama keselamatan pelayaran kembali terulang pada Minggu, 2 Agustus 2026. Kapal dari seri yang sama, KM Mutiara Sentosa 2, terbakar hebat saat menempuh rute Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Makassar, Sulawesi Selatan. Kebakaran terjadi di perairan utara Kabupaten Sumenep / utara Pulau Sapudi, Madura.

Api mulai terdeteksi sekitar pukul 06.00–07.00 WIB. Kepulan asap pekat dan api membesar dengan cepat hingga menghanguskan sebagian besar badan kapal. Panggilan darurat Mayday diteruskan ke Kantor SAR Surabaya pada pukul 08.24 WIB setelah komunikasi dengan nakhoda terputus, memicu operasi SAR gabungan yang melibatkan TNI AL, kapal tunda, serta kapal-kapal yang melintas.

Berdasarkan keterangan resmi Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, tim SAR tidak menemukan sekoci maupun perahu penyelamat karet yang berhasil diturunkan dari badan kapal. Ketiadaan sekoci memaksa ratusan penumpang dan awak kapal melompat langsung ke laut lepas berbekal life vest. Banyak korban terombang-ambing hingga 5 jam sebelum berhasil diangkat oleh kapal penolong.

Persoalan ketidaksesuaian data penumpang kembali mencuat. Meski manifes resmi mencatat 271 orang (dan Basarnas sempat melakukan verifikasi penyesuaian karena adanya calon penumpang yang batal berangkat), temuan Kementerian Perhubungan mengindikasikan masih adanya penumpang tak terdaftar, termasuk 5 anak-anak yang berhasil diselamatkan. Dari total penumpang yang terdata, sebanyak 225 hingga 234 orang berhasil dievakuasi selamat, sementara 5 orang dinyatakan meninggal dunia.(*)

BACA JUGA: Kapal Kargo Korea Selatan Diserang di Selat Hormuz, Seoul Siap Beri Balasan Tegas

Back to top button