Veritas

400 Tahun Pembantaian Penyihir, Kini Gereja Minta Maaf

  • Mereka bukan penyihir, tapi orang-orang yang berpaling dari Katolik ke Gereja Reformasi.
  • Mereka dipaksa mengaku bersenggama dengan iblis, nyantet orang, dan dibakar.
  • Kini, 400 tahun setelah peristiwa itu, Gereja Katolik minta maaf.

JERNIH — Uskup Gregor Maria Hanke mengakhiri aksi tutup mulut 400 tahun Gereja Katolik Eichstätt di Bavaria, Jerman, dan berbicara tentang pembantaian penyihir di abad ke-15 dan 18.

“Peristiwa itu adalah luka berdarah dalam sejarah gereja kita,” kata Uskup Hanke dalam pernyataan banyak orang selama bertahun-tahun.

Ia menjanjikan sebuah plakat peringatan di katedral setempat, sebagai simbol pengakuan atas kesalahan mereka empat ratus tahun lalu.

Di luar gereja, juru kampanye — yang selama bertahun-tahun menuntut pengakuan gereja — bisa berlega hati. Namun, menurut seniman dan salah satu juru kampanye Wolfram Kastner, itu belum cukup.

Pembantaian Penyihir

Eichstätt adalah kota kecil dengan sejarah kelam sedemikian besar. Penduduk Eichstätt saat ini 13.721 jiwa, dengan sebagian warga asli yang mewariskan kisah mengerikan kota itu.

Antara abad ke-15 dan 18, sekitar 400 orang tak bersalah disiksa dan dibunuh setelah dituduh penyihir dan dukun santet. Warga menyiksa dan membunuh dengan cara masing-masing, setelah memutuskan seseorang bersalah atau tidak juga dengan cara sendiri.

Penyiksaan paling terkenal adalah cutting helmet, yaitu mengikatkan pita logam berduri runcing di sekitar kepala dan leher korban.

Pada saat perburuan penyihir di seluruh Eropa, sekitar 60 ribu orang tewas. Dari jumlah itu, 25 ribu di Jerman.

Sebagian besar korban adalah perempuan, lainnya laki-laki dan anak-anak. Korban paling terkenal adalah Ursula Bonschab, istri walikota berusia 36 tahun, yang ditangkap dan disiksa selama 20 hari.

Nyonya Bonschab dipaksa mengaku menggeli mayat anak-anak, bersenggama dengan iblis, dan menyantet orang. Ia berharap mendapat pengampunan, tapi yang diperoleh adalah hukum bakar di tiang pancang.

Doktrin Tentang Penyihir

Pembela gereja mengatakan pengadilan penyihir berlangsung secara tradisional, dan tidak terkait langsung dengan gereja. Artinya, masyarakat membuat pengadilannya sendiri.

Juru kampanye mengatakan masyarakat digerakan oleh doktrin gereja tentang penyihir dan iblis, untuk menuduh siapa pun tak disuka — mungkin saja belum menjadi anggota gereja — untuk diadili dengan tuduhan penyihir.

Sejarah seolah tak berpihak kepada orang tak bersalah, ketika sampai sekian ratus tahun tidak ada yang menggugat pembantaian itu. Tahun 2011, situasi berubah. Perubahan itu digagas Hartmut Hegeler — pensiunan pendeta Jerman.

Hegeler memulai kampanye menuntut permintaan maaf gereja di seluruh negeri atas pembantaian para penyihir. Wolfram Kastner, seniman asal Muenchen, tergerak ikut dalam pergerakan.

Sembilan tahun sejak kampanye digelar, lebih 50 keuskupan kota di Jerman meminta maaf atas peran mereka dalam pembakaran penyihir. Eichstätt menjadi yang paling sulit untuk mengucapkan minta maaf.

Mengapa Harus Dibantai

Hegeler punya keterangan menarik soal ini. Menurutnya, pembantaian terjadi ketika gerakan Reformasi melanda sekujur Jerman.

“Gereja Katolik takut akan reformasi, dan menggunakan pengadilan penyihir untuk memeranginya,” kata Hegeler kepada The Times.

Mereka yang berpaling dari Katolik diberi stigma bersekutu dengan iblis, diseret ke pengadilan, dan dijatuhi hukum bakar di tiang pancang.

“Cara itu berhasil,” kata Hegeler.

Back to top button