Solilokui

Covid-19 dan Upaya Menuju Masyarakat Sejahtera

Di sinilah iman memiliki peran penting dalam sejarah. Sebuah masyarakat di mana orang tua berakhir di panti jompo dan menderita dalam keheningan, sementara anak-anak mereka yang sudah dewasa mengabaikan orang tua mereka, adalah masyarakat yang hampa.

Oleh   : Dr. Muhammad Abdul Bari*

JERNIH– Setelah tahun yang penuh gejolak akibat pandemi virus corona, yang menciptakan krisis kesehatan masyarakat dan kekacauan ekonomi global yang belum pernah terjadi sebelumnya, dunia mengharapkan kelonggaran dan perubahan positif pada tahun 2021.

Sayangnya, minggu-minggu pertama tahun baru telah membuat kami lebih khawatir daripada sebelumnya. Virus bermutasi secara tidak terduga, menyebar dengan kecepatan tak terbayangkan, mengantarkan pandemi ke tingkat bahaya baru di banyak negara.

Muhammad Abdul Bari

Pada 5 Januari, kasus harian virus corona Inggris mencapai 60.000 untuk pertama kalinya sejak pandemi mulai pada awal 2020. Sebagian besar Inggris sekarang telah melakukan lockdown baru untuk menahan penyebaran yang telah mendorong Inggris ke puncak tabel jumlah kematian, meskipun statusnya merupakan salah satu negara paling maju di dunia.

Virus ini mungkin bersifat agnostik terhadap siapa yang terinfeksi, tetapi komunitas miskin dan BAME (Black, Asian and minority ethnic), yang seringkali tidak memiliki kemewahan untuk bekerja dari rumah dalam pekerjaan kasar mereka, dan mereka yang berada di garis depan, telah menderita secara tidak proporsional.

Pemerintah (Inggris) menuai kritik global atas penanganan gelombang pertama penyakit itu. Dengan kebingungan politik Brexit beracun yang sekarang sudah berakhir, kini pemerintah diharapkan menyatukan tindakannya untuk menghentikan lonjakan besar-besaran kasus dan kematian, yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun kontrol yang lebih ketat diberlakukan tepat sebelum Natal.

Meskipun ada cahaya di ujung terowongan, dengan peluncuran berbagai vaksin yang secara nasional memberikan secercah harapan, tidak ada waktu untuk berpuas diri. Pemerintah harus menghindari pengulangan kesalahan yang dibuat pada tahun 2020 melalui pengambilan keputusan yang jelas, pesan yang kuat dan konsisten, serta perencanaan yang lebih baik.

Dunia kita berubah

Jangkauan global dari virus corona mengubah cara kita hidup, berpikir, dan bertindak. Ini adalah masa kekacauan dan ketidakpastian dengan teori konspirasi yang berlimpah. Banyak yang merasa situasi ini mengancam dan mengkhawatirkan masa depan mereka.

Pada saat yang sama, dunia juga sedang mengalami perubahan seismik dengan perpecahan politik, populisme nasionalistik, serta kefanatikan ras dan agama yang semuanya muncul dalam beberapa tahun terakhir. Kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin semakin melebar; 1 persen orang terkaya di Inggris memiliki hampir seperempat kekayaan; statistik yang sayangnya juga terjadi di banyak negara.

Pandemi telah mengungkap banyak masalah, sebagian jelas dan sebagian tersembunyi, dalam masyarakat kita. Sulit untuk menentukan efek jangka panjang dan kapan, atau apakah, hidup akan normal kembali. Sementara perlambatan ekonomi mungkin telah mengurangi efek perubahan iklim melalui pengurangan emisi gas rumah kaca, hal itu juga menyebabkan hilangnya pekerjaan secara luas dan mengancam mata pencaharian jutaan orang.

Kita membutuhkan masyarakat yang toleran dan lebih baik

Sementara pemerintah memiliki kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat dengan menggunakan kekuatan politik dan ekonomi mereka, rakyat biasa juga memainkan peran dan tanggung jawab yang kuat untuk menciptakan masyarakat yang layak, termasuk;

  • Melaksanakan tugas-tugas kewarganegaraan sebagai individu dan anggota keluarga di lingkungan dan masyarakat, dan dalam arena yang lebih luas melalui profesi dan aktivisme sipil untuk menciptakan, menopang dan mempertahankan masyarakat yang tangguh dan layak untuk kepentingan semua.
  • Mengawasi para pemimpin politik dan meminta pertanggungjawaban mereka untuk memastikan mereka melayani orang-orang dari semua latar belakang; sebagai pegawai negeri mereka merasa memiliki previledge, bukan kewajiban.

Dalam masyarakat yang layak, semua memiliki kewajiban untuk mengabdi pada negara tanpa memandang latar belakang. Kita semua memiliki banyak identitas–kebangsaan, etnis, keyakinan atau tanpa keyakinan, profesi, dan sebagainya. Inklusi yang tulus dari semua orang menghasilkan nilai-nilai positif dan mengarah pada kemakmuran nasional bersama.

Mengingat saat-saat menantang yang kita hadapi dan peristiwa menjijikkan yang sering terjadi di seluruh dunia, apakah kita sebagai orang Inggris memiliki keberanian untuk bekerja demi masyarakat yang lebih baik, lebih layak?

Bisakah kita bekerja untuk penyembuhan sosial dengan empati satu sama lain, terutama setelah perpecahan politik sejak referendum Brexit?

Lebih mudah diucapkan daripada dilakukan! Tapi, Covid-19 telah membuktikan, bahwa di masa-masa paling sulit kita, mayoritas akan bekerja tanpa lelah untuk mendukung satu sama lain karena norma dan nilai kemanusiaan yang sama. Nilai-nilai kehidupan bermasyarakat dan perlunya membangun sistem gotong royong yang kuat merupakan prinsip dasar yang menghubungkan kita semua, termasuk kaum minoritas seperti BAME atau Muslim, sebagai sesama warga.

Ciri-ciri masyarakat yang sukses

Masyarakat yang sukses sering kali merupakan masyarakat plural yang mengakui identitas ras, etnis, budaya, keyakinan, atau tidak beragama, dalam kehidupan publik. Kesempatan yang sama dijamin oleh hukum untuk memastikan semua kelompok merasa dilibatkan. Masyarakat yang sukses biasanya memiliki karakteristik serupa dan untuk membangun dan menopangnya, beberapa bahan utama sangat penting:

  • Nilai keluarga

Bahan pertama berpusat pada nilai-nilai kekeluargaan, khususnya pendidikan moral generasi muda. Menempatkan anak-anak sebagai jantung keluarga dan kehidupan social, serta membesarkan mereka dengan pendidikan, kesehatan, dan karakter moral yang lebih baik, merupakan perhatian utama tidak hanya bagi orang tua tetapi juga masyarakat luas.

  • Perawatan bagi yang rentan

Kedua, bagaimana masyarakat menjaga yang lemah dan rentan, terutama kakek nenek dan orang tua. Di sinilah iman memiliki peran penting dalam sejarah. Sebuah masyarakat di mana orang tua berakhir di panti jompo dan menderita dalam keheningan, sementara anak-anak mereka yang sudah dewasa mengabaikan orang tua mereka, adalah masyarakat yang hampa.

Kakek-nenek memiliki gudang pengalaman hidup yang luar biasa dan dapat menjadi bantuan yang tak ternilai di era ‘saya dulu’ yang tidak menentu. Sebagai imbalannya, mereka menikmati kebersamaan dan kasih sayang dari anak-anak kecil yang penuh kasih. Dengan beberapa perencanaan, ini bisa menjadi situasi win-win dalam keluarga, bahkan secara ekonomi.

  • Kesehatan

Ketiga, bagaimana masyarakat merawat orang-orang yang sakit fisik dan mental. Menyediakan fasilitas perawatan kesehatan universal yang terjangkau untuk semua adalah kebutuhan.

Inggris jauh di depan banyak negara maju, dengan NHS sering digambarkan sebagai “harta nasional”. Namun, seperti halnya layanan publik lainnya, ini membutuhkan dana yang cukup dan dukungan politik untuk memastikannya dapat terus melayani semua masyarakat. Tak heran jika itu ditampilkan sebagai tema sentral upacara pembukaan Olimpiade London 2012.

  • Proteksi lingkungan

Keempat, melindungi lingkungan kita dan mengurangi atau membalikkan efek perubahan iklim dan pemanasan global. Agama Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa umat manusia dianugerahi tanggung jawab atas Bumi, peran yang harus diambil secara harfiah dan serius.

Masyarakat, terutama para pemimpin dan kelompok agama, semua perlu memainkan peran mereka dalam membangun dan memelihara planet yang berkembang untuk generasi yang akan datang.

  • Moralitas dan etika publik

Kelima, menyelaraskan moralitas, spiritualitas, dan etika masyarakat dalam melayani sesama. Sama seperti Alkitab mengajar para pengikutnya untuk ‘melayani sesamamu’, menjadi kewajiban Muslim untuk merawat tetangga mereka, apa pun latar belakangnya. Penderitaan manusia sekarang terlihat jelas dalam kehidupan pribadi dan keluarga serta masyarakat dan bangsa.

Kekayaan materi dari sedikit orang kaya dan kemiskinan ekonomi mayoritas karena kepemimpinan yang tidak bermoral atau tidak etis dan status quo memperburuk banyak penyakit sosial. Rasa takut, dan fobia terhadap, orang lain merugikan perdamaian dan harmoni komunal.

Kesimpulan

Sementara mayoritas dalam masyarakat berada dalam keadaan layak, kecuali mereka menjadi aktif dalam komunitas mereka dan tugas sipil, serangan negatif dan penyakit sosial lainnya akan terus berlanjut; perubahan tidak datang dengan sendirinya. Warga negara yang peduli sekarang harus lebih proaktif untuk menyuarakan perbedaan pendapat terhadap informasi yang salah dan ketakutan akan tindakan yang dilakukan oleh individu dan kelompok yang korup.

Media arus utama juga harus berada di bawah tekanan sosial untuk melayani orang-orang dengan informasi yang obyektif dan opini yang seimbang, tentang masalah-masalah penting, dan tidak menunjukkan bias terhadap kelompok tertentu yang melayani kepentingan mereka sendiri.

Ciri-ciri masyarakat yang layak adalah keragaman, toleransi, dan penerimaannya terhadap mereka yang kurang beruntung. Xenofobia, prasangka, atau rasisme harus segera ditangani dan dengan transparansi dan keadilan, oleh masyarakat dan pemerintah. Di masa-masa aneh ini, orang-orang yang baik harus mengangkat suara mereka yang kuat dan terorganisasi di media sosial, media arus utama, dan kehidupan publik.

Pada akhirnya setiap warga negara memiliki tugas sepihak untuk membina kerukunan dan membangun kemitraan untuk mempromosikan kesetaraan sehingga kita dapat hidup damai dan nyaman satu sama lain. Kita memiliki kewajiban untuk berpartisipasi, terlibat dan berkontribusi dalam masyarakat untuk meningkatkannya. Kita memiliki kewajiban untuk menjadi tetangga yang baik dan menunjukkan kepedulian serta berbagi suka dan duka satu sama lain, dan untuk memberikan dukungan dan bantuan di mana pun kita bisa.

Sebuah bangsa berkembang dalam etos pelayanan orang-orang yang, sebagai kekuatan untuk kebaikan dalam masyarakat, memainkan peran duta kesusilaan dan kesopanan bagi bangsa lain. Sebagai warga negara yang sadar kita harus “..tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, dan tidak saling menolong dalam dosa dan pelanggaran” (Al-Ma’idah 5: 2). [ ]

* Dr Muhammad Abdul Bari (Twitter: @MAbdulBari) adalah pendidik, konsultan pengasuhan anak dan seorang penulis. Jernih.co mendapatkan izin langsung beliau untuk pemuatan artikel ini.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close