Veritas

“Di Bawah Presiden Buta Sains, Pandemi Corona Membayangi Warga ”

Jadi respons para juru hore Presiden terhadap krisis sepenuhnya berpusat pada diri sendiri, berfokus hanya untuk membuat Presiden terlihat lebih baik dari pada melindungi Amerika

NEW YORK— Wabah virus Corona harus diakui kini sudah menjadi pandemi yang tak hanya membuat seluruh Cina gemetar. Wabah itu telah merayap dengan cepat, membuat seluruh dunia menggigil dalam takut.

Tak kecuali Amerika Serikat. Sayangnya, professor ekonomi dan kolumnis terkemuka The New York Times, Paul Krugman, menilai pemerintah Trump merespons pandemi tersebut dengan mengecewakan. Menurut Krugman dalam sebuah kolom di The Times hari ini waktu setempat, dirinya terpana manakala dalam sebuah konferensi pers yang digelar Rabu waktu setempat atau Kamis (27/2) WIB, Trump, tim dan para sekutunya justru menyatakan : pandemi itu sejatinya baik untuk  AS. Selain itu, “…semua ini adalah tipuan yang dilakukan berita-berita media massa dan Partai Demokrat. Juga : “…ini bukan masalah besar…”, selain “…orang harus membeli saham”. Krugman menilai, saat ini warga AS tengah berada dalam kontrol kepemimpinan seseorang yang tak mempercayai sains.

Sebuah kartun di media AS tentang wolesnya Trump menghadapi Virus Corona

Menurut Krugman, bahkan pada hari pertama Trump terpilih pun, sebenarnya sebagian dari warga AS sudah khawatir bagaimana pemerintahannya akan menghadapi krisis-krisis ke depan. “Hebatnya, kita sudah tiga tahun ini tak pernah mencari tahu,” tulis dia. Hingga kini, kata dia, setiap masalah serius yang dihadapi pemerintahan Trump, mulai dari perang dagang hingga konfrontasi dengan Iran, justru diciptakan Trump sendiri. “Tetapi pada saat menghadapi coronavirus-lah, warga AS benar-benar menghadapi ujian paling menakutkan.”

Cerita soal respons Trump akan pandemi sesungguhnya telah dimulai beberapa tahun lalu. Segera setelah ia menjabat, Trump cepat memotong dana untuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, yang mengarah pada pengurangan 80 persen sumber daya yang dicurahkan badan tersebut untuk menanggulangi wabah penyakit global. Trump juga menutup seluruh unit Global Health Security yang menjadi bagian National Security Council.

Hal itu bukan tanpa peringatan mereka yang mengerti. Para ahli saat itu pun langsung memperingatkan bahwa langkah-langkah itu membuat Amerika ringkih menghadapi risiko besar. “Kita telah membiarkan wilayah kita terbuka untuk mikroba,” kata Tom Frieden, mantan kepala Centers for Disease Control and Prevention (CDC), seorang yang sangat dikagumi publik, dua tahun lalu.

Tetapi pemerintahan Trump memang memiliki pikiran yang agak ganjil. Ancaman keamanan nasional, menurut mereka tampaknya akan selalu datang dari orang-orang berkulit coklat yang menakutkan. Sekutu-sekutu Trump juga seperti kalangan dogol yang umumnya memusuhi sains.

Lalu datanglah makhluk renik super kecil bernama Virus Corona, yang baru-baru ini selamatan bubur merah-bubur putih berganti nama menjadi Convid-19 itu.

Reaksi pertama para fans Trump adalah melihat Coronavirus sebagai masalah orang Cina, dan apa pun yang buruk bagi Cina adalah hal yang baik bagi AS. Wilbur Ross, Menteri Perdagangan AS, justru ‘bersorak’ dan mengatakan hal itu akan “mempercepat kembalinya banyak pekerjaan ke AS”.

Cerita berubah menjadi jelas manakala virus itu menyebar jauh ke luar Cina. Sayangnya, justru saat itu fakta tersebut diolah menjadi hoaks dengan berita media massa.

Rush Limbaugh, tokoh dunia radio AS bilang tentang sesuatu yang terdengar picik. “Sepertinya virus corona sedang dipakai sebagai senjata oleh unsur lain untuk menjatuhkan Donald Trump. Sekarang, saya ingin mengatakan yang sebenarnya tentang coronavirus. Coronavirus itu flu biasa saja, Kawan…”

Mungkin saja Limbaugh tahu pasti, bahwa pada 2014 lalu, para politisi dan media sayap kanan AS memang pernah mencoba secara politis untuk menjadikan wabah penyakit, virus Ebola, sebagai senjata. Asal tahu saja, Trump sendiri saat itu  bertanggung jawab atas lebih dari 100 tweet yang mengecam respons pemerintahan Obama, yang saat itu sebenarnya sangat kompeten dan efektif.

Bagi Krugman, Limbaugh mungkin tergolong pekok. “Coronavirus tidak seperti flu biasa,” tulis Krugman. “Bahkan, indikasi awal, virus itu mungkin sama mematikannya dengan Flu Spanyol 1918, yang menewaskan sebanyak 50 juta orang.”

Pasar keuangan jelas tidak setuju dengan lemparan isu bahwa virus itu bohong. Kamis sore, tulis Krugman, Dow Jones turun lebih dari 3.000 poin sejak pekan lalu. Pasar  tampaknya melihat respons pemerintah AS seperti itu jauh dari harapan.  Apalagi setelah Larry Kudlow, ekonom pro-pemerintah Trump juga hanya menyarankan agar orang Amerika, membeli saham. Pasar  yang tak melihat pemerintah sigap, merespons dengan terus anjloknya saham.

Pada titik itu, pemerintah AS akhirnya menyadari bahwa mungkin perlu melakukan sesuatu selain bersikeras bahwa mereka punya cara hebat. Tetapi menurut Greg Sargent dan Paul Waldman dari The Washington Post, pemerintah awalnya justru  mengusulkan dana untuk melawan virus itu didapat dengan memotong dana bantuan kepada orang miskin, khususnya, subsidi untuk orang-orang berpenghasilan rendah. Sesuatu yang kejam, tentu.

Rabu lalu atau Kamis kemarin WIB, Trump mengadakan konferensi pers tentang virus tersebut. Sebagian besar pernyataannya ditujukan untuk memukul secara tak jelas kepada Partai Demokrat dan media massa. Namun, cara yang dia lakukan juga tak tepat kalau pun tak boleh dianggap salah.  Alih-alih meminta seorang profesional di bidang kesehatan, ia menyerahkan pekerjaan itu kepada Wakil Presiden Mike Pence, seorang yang memiliki riwayat ‘buruk’ seiring kebijakan kesehatan dan sains.

Di awal karir politiknya, Pence mempertaruhkan posisinya dalam persoalan kesehatan masyarakat dengan menyatakan bahwa merokok tidak membunuh orang. Dia juga berulang kali menegaskan bahwa evolusi hanyalah sebuah teori. Sebagai gubernur Indiana saat itu, ia menghentikan program jarum suntik yang bisa mencegah wabah HIV, dan sebaliknya, menyerukan penderita untuk lebih banyak berdoa.

Parahnya, saat ini menurut The Times, para ilmuwan pemerintah perlu mendapatkan persetujuan Pence sebelum membuat pernyataan publik tentang coronavirus.

Jadi respons para juru hore Presiden terhadap krisis sepenuhnya berpusat pada diri sendiri, berfokus hanya untuk membuat Presiden terlihat lebih baik dari pada konsen  melindungi Amerika. Jika fakta yang ada tidak membuat Trump terlihat baik, Presiden dan para juru horee itu akan menyerang para pembawa pesan, menyalahkan berita di media massa serta Partai Demokrat. “Dan dalam memilih orang untuk menghadapi krisis, Trump lebih menghargai kesetiaan daripada kompetensi,” tulis Krugman. [The New York Times]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close