Tensi Membara! Iran Tuduh AS Bunuh Warga Sipil di Hormuz, Trump Balas dengan Ancaman Perang Total

Situasi di Selat Hormuz benar-benar berada di titik nadir. Klaim saling silang antara Washington dan Teheran ini menandakan gencatan senjata 8 April lalu sudah hampir tidak berarti lagi.
JERNIH – Eskalasi militer di Selat Hormuz memasuki babak baru yang mematikan. Pemerintah Iran menuduh militer Amerika Serikat telah membantai lima warga sipil dalam sebuah serangan udara pada Senin waktu setempat. Teheran mengeklaim bahwa pasukan AS menyerang kapal penumpang, bukan kapal militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagaimana yang diklaim oleh Washington.
Klaim ini membantah pernyataan Laksamana AS Brad Cooper yang menyebut pasukannya telah menenggelamkan enam kapal IRGC karena mencoba mengganggu misi “Project Freedom”—operasi AS untuk mengawal kapal-kapal yang terdampar keluar dari Selat Hormuz.
Berdasarkan investigasi penyiar negara Iran, IRIB, tidak ada satu pun kapal IRGC yang terkena tembakan. Sebaliknya, mereka menemukan bahwa pasukan AS menyerang dua perahu kecil yang mengangkut warga sipil dalam perjalanan dari Khasab, pantai Oman, menuju pesisir Iran.
“Serangan tersebut menghancurkan kapal dan menewaskan lima penumpang sipil. AS harus bertanggung jawab atas kejahatan ini,” tegas seorang komandan militer Iran yang tidak disebutkan namanya, Selasa (05/05/2026).
Ketegangan ini memicu aksi balasan yang luas di kawasan. Teheran diduga meluncurkan serangan drone ke tanker minyak Uni Emirat Arab (UEA) serta menembakkan 15 rudal balistik dan empat drone ke wilayah Fujairah. Serangan ini menyebabkan kebakaran besar di kilang minyak dan melukai tiga warga negara India.
Sementara kapal Korea Selatan HMM Namu melaporkan adanya ledakan dan kebakaran di ruang mesin saat berada di Selat Hormuz. Meski situasi mencekam, militer AS mengeklaim dua kapal berbendera Amerika berhasil melintasi selat dengan kawalan kapal perusak rudal.
Menanggapi ancaman Iran, Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang sangat agresif melalui wawancara dengan Fox News. Ia memperingatkan bahwa Iran akan “dihapus dari muka bumi” jika berani menyerang kapal AS yang menjalankan misi Project Freedom.
“Kami memiliki lebih banyak senjata dan amunisi dengan tingkat yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Kami punya peralatan terbaik di seluruh dunia dan kami siap menggunakannya jika perlu,” tegas Trump.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut aksi AS di Hormuz sebagai bukti bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik ini. Ia memperingatkan Washington agar tidak terseret kembali ke dalam “kubangan” oleh pihak-pihak yang menginginkan perang.
“Project Freedom adalah Project Deadlock (Proyek Kebuntuan),” tulis Araghchi di akun X miliknya, seraya menekankan bahwa pembicaraan damai yang dimediasi Pakistan seharusnya menjadi prioritas utama.






