Crispy

Alarm Ketahanan Energi: Cadangan BBM RI Hanya Bertahan 21 Hari di Tengah Perang AS-Iran

JERNIH – Ketahanan energi nasional kini berada dalam posisi “lampu kuning”. Di tengah berkecamuknya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran yang pecah sejak Sabtu (28/2/2026), cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia dilaporkan hanya mampu bertahan selama 21 hari jika terjadi gangguan pasokan global secara total.

Angka ini memicu kekhawatiran serius mengingat Indonesia sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan domestik yang mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari, sementara produksi lokal hanya mampu menyumbang sekitar 500.000 hingga 600.000 barel.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bakhtiar, menegaskan bahwa stok 21 hari tersebut murni merupakan cadangan komersial milik Pertamina, bukan cadangan strategis negara (SOP).

“Ada deviasi yang berbahaya di mana produksi migas kita terus turun 2% per tahun, sementara konsumsinya melonjak hingga 3%,” ungkap Bisman, Minggu (1/3/2026). Ia menyoroti paradoks besar di mana Indonesia kaya akan mineral seperti Nikel, namun cadangan migasnya hanya menyumbang 0,2% dari total dunia.

Direktur Eksekutif Reform Syndicate, Muhammad Jusrianto, menambahkan bahwa ketergantungan akut pada impor membuat posisi Indonesia sangat rentan jika jalur distribusi internasional terhambat oleh konflik bersenjata.

Mengapa Indonesia Terancam?

Situasi ini menjadi sangat kritis karena dua faktor utama yang terjadi di Timur Tengah dalam 48 jam terakhir. Pertama adalah militer gabungan AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke jantung Teheran pada Sabtu (28/2/2026), yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Presiden AS Donald Trump melalui media sosial Truth Social menegaskan bahwa pemboman “berat dan tepat sasaran” akan terus berlanjut sepanjang minggu ini atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan mereka.

Sementara faktor kedua adalah aksi balasan atas kematian pimpinannya, Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi telah menutup Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur distribusi minyak paling vital di dunia yang dilewati sekitar 20-30% pasokan minyak bumi global. Karena sebagian besar impor minyak Indonesia berasal dari kawasan Teluk atau melintasi jalur tersebut, penutupan ini secara otomatis memutus rantai pasok BBM menuju tanah air.

Selain masalah fisik pasokan, Direktur Riset Reform Syndicate, Moh. Jawahir, mengingatkan adanya risiko diplomatik. Perjanjian mineral Indonesia dengan AS di sektor logam tanah jarang (rare earth) dikhawatirkan dapat membatasi ruang gerak Indonesia untuk bermitra dengan negara lain seperti Tiongkok di tengah sengitnya persaingan global.

“Ada risiko kedaulatan kita tergadaikan jika kerja sama internasional justru menghambat kita bermitra dengan pihak lain di tengah krisis ini,” tegas Jawahir.

Pemerintah kini dituntut untuk segera mengambil langkah mitigasi darurat, mengingat cadangan yang tidak sampai satu bulan ini menjadi taruhan bagi stabilitas ekonomi dan mobilitas masyarakat di seluruh penjuru nusantara.

Back to top button