Dilema ‘Gudang Senjata’ Washington: Di Balik Jeda Serangan AS dan Menipisnya Stok Rudal Patriot

JERNIH – Di balik pernyataan retoris Presiden Donald Trump mengenai “kekuatan militer tak terbatas”, sebuah kenyataan pahit mulai terungkap di koridor Pentagon. Jeda serangan selama lima hari terhadap Iran yang diumumkan pekan ini diduga kuat bukan sekadar strategi diplomasi, melainkan langkah darurat akibat menipisnya stok amunisi presisi Amerika Serikat.
Laporan dari berbagai lembaga pemikir (think tank) dan pakar pertahanan menunjukkan bahwa intensitas “Operation Epic Fury” yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah menguras cadangan senjata strategis AS pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Seth G. Jones, Presiden Departemen Pertahanan dan Keamanan di Center for Strategic and International Studies (CSIS), memperingatkan bahwa basis industri pertahanan AS saat ini tidak dirancang untuk perang intensitas tinggi yang berkepanjangan.
“Konflik dengan Iran adalah pengingat mendesak bahwa AS membutuhkan basis industri yang kuat untuk melawan musuh besar, terutama China,” ujar Jones.
Meski Menteri Pertahanan Pete Hegseth bersikeras bahwa “tidak ada kekurangan amunisi”, data lapangan menunjukkan hal sebaliknya. AS diperkirakan telah menghabiskan 200 hingga 300 rudal Patriot dalam waktu kurang dari sebulan. Sebagai perbandingan, Lockheed Martin hanya mampu memproduksi 620 unit rudal tersebut sepanjang tahun 2025.
Perang gaya Amerika terbukti sangat mahal. Dalam enam hari pertama konflik, Washington menghabiskan lebih dari $11 miliar (sekitar Rp174 triliun). Mengoperasikan gugus tempur kapal induk seperti USS Gerald R. Ford memakan biaya $6,5 juta per hari. Sementara setiap rudal Patriot yang diluncurkan untuk mencegat serangan Iran berharga sekitar $3 juta per unit.
Akibat lonjakan biaya ini, Pentagon kini secara resmi meminta tambahan dana perang sebesar $200 miliar kepada Kongres, di luar anggaran tahunan reguler sebesar $838,7 miliar. “Butuh uang untuk membunuh orang jahat,” tegas Menhan Hegseth kepada awak media.
Upaya Presiden Trump untuk memacu produksi senjata menghadapi tembok besar bernama batasan manufaktur struktural. Lima raksasa pertahanan AS (The Big 5)—Lockheed Martin, RTX, Northrop Grumman, General Dynamics, dan Boeing—mengalami hambatan rantai pasok pada komponen spesialis dan mineral kritis.
Kondisi diperparah oleh masalah ketenagakerjaan. Pada Mei 2025, ribuan pekerja Lockheed Martin melakukan aksi mogok kerja menuntut kenaikan upah dua digit untuk mengimbangi inflasi. Ketegangan industri ini membuat target produksi 2.000 rudal per tahun baru mungkin tercapai pada tahun 2030, jauh setelah kebutuhan perang saat ini.
Alasan paling krusial di balik langkah hati-hati Washington adalah keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Para analis militer menilai AS tidak bisa mempertaruhkan seluruh stok senjata canggihnya di Timur Tengah.
Jika cadangan senjata presisi (seperti rudal Tomahawk dan pencegat THAAD) habis untuk melawan Iran, AS akan berada dalam posisi sangat rentan jika konflik pecah dengan China di Laut China Selatan atau Taiwan. Saat ini, dilaporkan AS telah menghabiskan lebih dari seperempat dari total sistem THAAD yang dimilikinya.






