Elegi Dapur Miliaran

Harapan runtuh seketika, saat dapur-dapur MBG mulai bertumbangan akibat gagal bayar. Modal miliaran hilang terbakar nafsu serakah para pimpinan.
Dapur-dapur mimpi kini mulai sunyi perlahan,
Di sudut ruangan, panci besar tak lagi melantunkan harapan.
Awalnya megah, namun izinnya sarat dipermainkan sejak mula,
Birokrasi rumit, lembar demi lembar menjadi ajang kotor belaka.
Surat legalitas berubah wujud jadi barang dagangan haram,
Membuat niat mulia tenggelam dalam keserakahan yang kelam.
Modal miliaran rupiah digelontorkan demi sebuah nama,
Namun habis dikikis keserakahan penguasa yang buta sesama.
Korupsi gila-gilaan merayap di tubuh Badan Gizi Nasional,
Merampas hak anak bangsa demi keuntungan personal.
Akibatnya, dapur-dapur darurat didirikan asal-asalan saja,
Berdiri congkak di dekat tempat pembuangan sampah kota.
Survei kelayakan tak pernah nyata, hanya bualan di atas kertas,
Membiarkan kebersihan runtuh demi mengejar waktu yang bergegas.
Kini program makan bergizi gratis menuai prahara yang besar,
Ketika kebocoran dana membuat seluruh sistemnya bergetar.
Keheningan mulai mencekam, dapur-dapur itu memilih diam,
Kompor-kompor dingin menyimpan amarah yang kian mendalam.
Para pekerja terpuruk, menatap telapak tangan tanpa penghasilan,
Sebab uang yang dijanjikan belum cair terbawa arus ketidakpastian.
Asap tak lagi mengepul, harapan perut lapar kini meredup sudah,
Meninggalkan keringat kaum kecil yang terbuang sia-sia dan lelah.
Potensi gulung tikar massal kini nyata menanti di depan mata,
Saat tujuan mulia pemenuhan gizi mulai sengaja dialihkan arahnya.(*)
Andra Nuryadi






