Xi Jinping Lebih Populer Ketimbang Donald Trump

Sebuah survei terbaru dari Pew Research Center di 36 negara mengungkap fakta mengejutkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah baru-baru ini, pamor Donald Trump merosot tajam dan berhasil disalip oleh Presiden China, Xi Jinping.
WWW.JERNIH.CO – Sebuah fenomena mengejutkan terjadi dalam lanskap geopolitik dan persepsi publik internasional. Untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir, popularitas dan citra Amerika Serikat (AS) beserta pemimpinnya, Donald Trump, merosot tajam hingga berada di bawah bayang-bayang China dan Presiden Xi Jinping.
Data perubahan persepsi dunia ini dirilis melalui laporan terbaru Pew Research Center, sebuah lembaga pemikir (think tank) independen terkemuka asal Washington, AS. Lewat survei Global Attitudes yang dirilis pada Juli 2026, Pew Research Center melibatkan 42.151 responden dewasa di 36 negara dan wilayah (termasuk kawasan Tepi Barat dan Yerusalem Timur). Pengumpulan data ini dilakukan sepanjang periode Februari hingga Mei 2026.
Pew Research Center menggunakan beberapa indikator utama untuk mengukur sentimen publik global, antara lain:
- Tingkat Kepercayaan terhadap Pemimpin: Keyakinan responden apakah sang pemimpin akan “melakukan hal yang benar dalam menangani urusan dunia”.
- Kemitraan yang Andal (Reliable Partner): Persepsi mengenai negara mana yang lebih dapat diandalkan dalam hubungan bilateral dan bantuan ekonomi.
- Kontribusi terhadap Perdamaian Global: Penilaian mengenai negara mana yang dinilai aktif menjaga stabilitas atau justru sering melakukan intervensi politik.
Hasilnya, rata-rata global menunjukkan hanya 23% responden yang menaruh kepercayaan pada Donald Trump. Angka ini berada di bawah Xi Jinping yang memperoleh 34% kepercayaan. Di 22 dari 36 negara yang disurvei, publik mengaku lebih memercayai Xi Jinping ketimbang Trump.
Pergeseran drastis ini dipicu oleh ketidakpuasan massal atas kebijakan luar negeri agresif Trump. Langkah Trump yang kembali menerapkan tarif dagang keras (bahkan kepada sekutu dekat seperti Kanada) serta keterlibatan geopolitik AS dalam konflik luar negeri membuat citra AS memburuk. Sebaliknya, memori dunia terhadap pandemi COVID-19 mulai memudar, dan strategi diplomasi ekonomi China melalui investasi dianggap lebih stabil.
Tanggapan dari para responden di berbagai wilayah menunjukkan polarisasi yang kuat. Ada sentimen negatif dari sekutu tradisional AS. Di Kanada, pandangan positif terhadap AS anjlok dari 57% pada 2023 menjadi hanya 33% di tahun 2026. Hal serupa terjadi di negara-negara besar Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris, di mana mayoritas masyarakatnya kini melihat China secara lebih positif dibandingkan AS.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan pergeseran paling mencolok. Sebanyak 72% warga Indonesia memandang China secara positif, sementara AS hanya mendapatkan 29%. Dalam hal kepemimpinan, 62% responden Indonesia memercayai Xi Jinping, sedangkan Trump hanya meraup 20% dukungan.
AS dan Trump hanya mampu mempertahankan keunggulan pamor di enam negara saja, dengan Israel berada di posisi teratas (80% memandang AS positif), disusul oleh Jepang, India, Korea Selatan, Filipina, dan Polandia.
Meskipun Xi Jinping unggul dari Trump dalam jajak pendapat kali ini, peneliti Pew Research mencatat bahwa tingkat kepercayaan global terhadap kedua pemimpin ini sebenarnya sama-sama masuk dalam kategori rendah secara umum. Dunia tampaknya sedang berada di fase krisis kepercayaan terhadap para pemimpin negara adidaya.(*)
BACA JUGA: Mengapa Xi Jinping Ajak Donald Trump ke Taman Zhongnanhai?






