CrispyVeritas

Israel ‘Kebakaran Jenggot’ Melihat Makin Dekatnya Kesepakatan AS-Iran

Israel kini berada di posisi yang sulit: Menentang secara terbuka sekutu terbesarnya (AS) di bawah kepemimpinan Trump yang temperamental, atau menerima kesepakatan yang mereka yakini akan membahayakan eksistensi mereka dalam jangka panjang.

JERNIH – Di tengah optimisme Presiden Donald Trump yang menyebut pembicaraannya dengan Teheran berjalan “sangat baik”, suasana di koridor pemerintahan Israel justru mencekam. Berbagai media terkemuka Israel, termasuk Yedioth Ahronoth, melaporkan adanya kekhawatiran mendalam bahwa kesepakatan AS-Iran yang tengah digodok justru akan menjadi bumerang bagi keamanan nasional Israel.

Bagi para petinggi militer dan intelijen di Tel Aviv, kesepakatan ini dipandang bukan sebagai solusi, melainkan “tali penyelamat” bagi rezim Teheran yang saat ini mereka anggap sedang berada di ambang keruntuhan.

Ketakutan utama Israel berakar pada ekonomi. Jika kesepakatan ini diteken, miliaran dolar dana Iran yang selama ini dibekukan oleh AS akan segera cair. Para pejabat keamanan Israel khawatir dana segar tersebut tidak akan digunakan untuk kesejahteraan rakyat Iran, melainkan untuk memperkuat arsenal militer dan memperluas dukungan bagi proksi mereka di Timur Tengah.

“Kesepakatan ini sangat buruk bagi Israel,” ujar seorang pejabat senior Israel. “Ini akan mengukuhkan posisi rezim Iran dan memberi mereka kesempatan untuk pulih tepat saat mereka hampir runtuh akibat tekanan internal dan sanksi.”

Penilaian militer yang beredar di Israel menunjukkan bahwa draf perjanjian tersebut tidak memberikan batasan yang berarti pada program rudal balistik Iran. Padahal, Iran diketahui masih memiliki ribuan rudal yang tersimpan di fasilitas bawah tanah, siap diluncurkan kapan saja.

Lebih mengkhawatirkan lagi bagi militer Israel (IDF) adalah potensi terbatasnya ruang gerak mereka. Kesepakatan ini dikhawatirkan akan menciptakan tekanan diplomatik bagi Israel untuk menarik diri atau membatasi operasi militer di Lebanon melawan Hizbullah. Israel khawatir jeda pertempuran hanya akan digunakan Iran dan Hizbullah untuk membangun kembali kekuatan mereka secara cepat.

Israel menilai Trump terjatuh ke dalam lubang yang sama dengan kesepakatan nuklir masa lalu. Meskipun Trump berjanji tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, laporan menyebutkan draf perjanjian tersebut hanya membatasi pengayaan uranium selama 15 tahun.

Para pejabat Israel membandingkannya dengan Sunset Clause (klausul matahari terbenam) yang dulu mereka kritik keras. Bagi Israel, batasan waktu tersebut hanyalah penundaan sementara yang pada akhirnya tetap memberikan jalan bagi Teheran untuk menjadi negara nuklir di masa depan. Apalagi, intelijen Barat mencatat Iran telah memiliki tumpukan besar uranium yang diperkaya sejak 2018, dan sebagian besar masih “hilang” dari pantauan pasca-serangan militer.

Gagalnya Target Utama Perang

Laporan media Israel secara jujur mengakui adanya kesenjangan lebar antara target yang dicanangkan di awal perang dengan realitas di lapangan:

  • Penggulingan Rezim: Target ini tampaknya gagal total. Meskipun ada krisis ekonomi dan pembunuhan pemimpin tertinggi Ali Khamenei, kohesi rezim Iran justru tetap terjaga tanpa adanya pemberontakan internal berskala besar.
  • Penghancuran Proksi: Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman terbukti masih memiliki kemampuan tempur yang canggih. Penggunaan drone berpemandu serat optik oleh Hizbullah, misalnya, terus merepotkan pasukan Israel di perbatasan utara.
  • Penghentian Program Rudal: Teheran masih memegang kendali penuh atas ribuan peluncur rudal yang siap pakai.

Donald Trump di Oval Office menyatakan bahwa Iran “sangat ingin membuat kesepakatan”. Bagi Trump, ini adalah peluang untuk memenuhi janji kampanyenya guna mengakhiri perang dan menstabilkan harga energi dunia.

Namun bagi Israel, optimisme Trump adalah “kegagalan strategis”. Mereka melihat AS sedang dipandu oleh keinginan untuk keluar dari konflik Timur Tengah secepat mungkin, sementara Israel akan ditinggalkan sendirian menghadapi Iran yang jauh lebih kuat dan kaya setelah sanksi dicabut.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dengan sinis menyebut laporan kedekatan ini sebagai kegagalan operasi “Trust Me Bro” dari pihak Amerika. Di sisi lain, juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa mereka sedang meninjau proposal AS melalui mediator Pakistan.

Israel kini berada di posisi yang sulit: Menentang secara terbuka sekutu terbesarnya (AS) di bawah kepemimpinan Trump yang temperamental, atau menerima kesepakatan yang mereka yakini akan membahayakan eksistensi mereka dalam jangka panjang.

Back to top button