Crispy

Kelahiran Bayi Berbulu Geser Bayi Manusia, Industri Perlengkapan Anak Jepang Ramai-ramai Banting Setir ke Pasar Hewan

JERNIH — Krisis angka kelahiran (collapsing birthrate) di Jepang telah memicu fenomena sosial yang unik sekaligus ekstrem. Saat ini, jumlah hewan peliharaan di Negeri Sakura telah melampaui jumlah anak-anak di bawah usia 15 tahun dengan selisih mencapai lebih dari 2 juta ekor.

Kondisi demografi yang menyusut ini memaksa korporasi raksasa Jepang yang dulunya kaya raya berkat jualan popok, kereta bayi (stroller), dan gendongan bayi, untuk memindahkan fokus bisnis mereka secara radikal demi menyasar pasar baru: anjing dan kucing.

Inovasi tak terduga ini salah satunya datang dari Shin Ohta, seorang staf penjualan di Lucky Industries—produsen gendongan bayi tertua di Jepang yang telah memproduksi lebih dari 40 juta produk sejak berdiri tahun 1934.

Ide ini muncul saat Ohta sedang berjalan-jalan dengan anjing toy poodle-nya di Gifu Prefecture. “Anjing saya sering mogok berjalan di tengah jalan. Saya harus menggendongnya terus, padahal beratnya hampir 5 kg dan itu mulai terasa menyiksa punggung saya. Saya pikir, keahlian puluhan tahun perusahaan kami dalam mendesain gendongan bayi manusia pasti bisa diterapkan untuk hewan,” ujar Ohta mengutip laporan Al Jazeera.

Setelah berkonsultasi dengan dokter hewan, Lucky Industries resmi meluncurkan Nu-i, lini gendongan pinggul khusus anjing pertama mereka. Hasilnya? Di ajang konferensi hewan terbesar di Tokyo, Interpets, stan mereka diserbu konsumen. Pemandangan di sana pun unik: mayoritas pemilik hewan tidak lagi menuntun peliharaan mereka dengan tali, melainkan mendorongnya dengan stroller mewah atau menggendongnya memakai kain sling layaknya bayi manusia.

Sektor pet care di Jepang terbukti menjadi ladang emas baru. Berdasarkan data dari Euromonitor, nilai pasar perawatan hewan di Jepang melonjak drastis dari 689,6 miliar yen ($4,2 miliar) pada tahun 2020 menjadi 880 billion yen ($5,4 miliar) pada tahun 2025.

Salah satu raksasa yang paling sukses melakukan cross-market ini adalah Unicharm. Perusahaan berbasis di Tokyo yang awalnya terkenal lewat produk pembalut wanita dan popok bayi sekali pakai ini, sudah mulai mencium peluang sejak merilis popok khusus hewan (Mannerware) pada tahun 2001.

Menariknya, bisnis hewan ternyata jauh lebih menguntungkan dibanding bisnis manusia. Berdasarkan laporan keuangan Unicharm 2025, divisi pet care mencetak margin keuntungan sebesar 15,4%, jauh mengungguli divisi personal care manusia yang hanya mentok di angka 10.7%. Per tahun 2025, bisnis hewan menyumbang 17% dari total penjualan global Unicharm, dan ditargetkan meroket hingga 20% pada tahun 2030.

Jepang kini menjadi contoh utama dari perubahan struktur sosial global yang disebut sebagai “multi-species family”. Sosiolog dan Direktur German Institute of Japan Studies, Barbara Holthus, menilai tren memanusiakan hewan (pet humanisation) ini dipicu oleh kesepian akut, penundaan pernikahan, tingginya angka melajang, hingga maraknya rumah tangga tanpa anak (childless, dual-income).

Bahkan, bagi keluarga yang memiliki anak pun, mayoritas hanya memiliki satu anak. Survei fertilitas nasional Jepang mencatat rumah tangga dengan anak tunggal melonjak dari 10% (tahun 2002) menjadi hampir 20% (tahun 2021), di mana hewan akhirnya dibeli sebagai teman bermain sang anak.

“Dulu anjing atau kucing mungkin hanya sekadar peliharaan tambahan di rumah. Namun dengan semakin sedikitnya anggota keluarga manusia dan tidak adanya anak di dalam rumah, fokus kasih sayang menjadi sangat terkonsentrasi pada hewan ini. Hewan peliharaan kini menggantikan peran anak, bahkan pasangan pasca-perceraian atau ketika seseorang menjanda,” jelas Holthus.

Perubahan gaya hidup ini membuat konsumen rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli produk premium, mulai dari makanan organik, popok modis, hingga membawa anjing mereka nongkrong di kafe estetik demi memperpanjang usia sekaligus memanjakan sang “anak berbulu”.

Back to top button