Crispy

Krisis Selat Hormuz: Ratusan Kapal Menumpuk di Dubai, Iran Beri Peringatan Keras kepada AS

JERNIH – Ratusan kapal komersial dan tanker minyak kini dilaporkan menjauhi Selat Hormuz dan memilih berkerumun di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Langkah massal ini diambil sebagai respons atas kendali navigasi ketat yang diberlakukan oleh militer Iran di jalur lintas laut paling strategis di dunia tersebut.

Laporan Bloomberg, Selasa (05/05/2026), menyebutkan bahwa jalur Selat Hormuz saat ini sebagian besar kosong. Sebaliknya, kepadatan kapal di perairan Dubai melonjak drastis mencapai sedikitnya 363 kapal, jauh di atas rata-rata normal.

Kapal-kapal tersebut memilih “parkir” di luar zona kontrol Teheran yang kini membentang hingga ke wilayah Umm Al Quwain. Sejumlah kru kapal melaporkan adanya siaran radio dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang memperingatkan bahwa keselamatan pelayaran sangat bergantung pada kepatuhan terhadap protokol navigasi baru dan koordinasi awal dengan pihak Iran.

Teheran menegaskan bahwa aturan ini bertujuan mencegah musuh menggunakan jalur tersebut untuk mengangkut senjata atau mendukung operasi militer yang merugikan Iran.

Seorang sumber senior keamanan Iran memberikan pernyataan tegas kepada Al Mayadeen. Ia menyebutkan bahwa kendali penuh atas Selat Hormuz adalah pesan jelas bagi Amerika Serikat.

“Pesan untuk agresor Amerika sudah jelas: silakan maju, dan Anda akan ditargetkan,” tegas sumber tersebut. Ia bahkan memperingatkan bahwa jika tindakan permusuhan AS terus berlanjut, strategi blokade ini akan diperluas ke front maritim lainnya.

Tensi semakin memuncak terkait insiden kebakaran di zona industri minyak Fujairah, UEA. Jika sebelumnya UEA menuduh Iran sebagai dalangnya, media pemerintah Iran (IRIB) justru memberikan klaim mengejutkan.

Sumber militer Iran mengeklaim bahwa militer AS-lah yang sengaja membakar fasilitas minyak tersebut sebagai taktik “petualangan militer” untuk membuka paksa jalur bagi kapal-kapal di selat tersebut. “Iran tidak punya rencana menyerang fasilitas minyak UEA. AS harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi,” ujar sumber tersebut.

Back to top button