Crispy

Menurut Novel Baswedan, Inilah Sosok di Balik Pertanyaan-pertanyaan Ganjil Tes Wawasan Kebangsaan KPK

Tes TWK tersebut kemudian banyak dipermasalahkan, tidak hanya oleh pegawai KPK sendiri, juga oleh publik. Publik menilai hal itu dilakukan sekadar untuk menyisihkan beberapa personel KPK tertentu yang kredibilitasnya justru diakui publik

JERNIH—Setelah sekian lama publik bertanya-tanya siapa yang menjadi otak di balik pertanyaan-pertanyaan ganjil, norak dan cenderung tak bermutu di antara beberapa pertanyaan dalam Tes Wawasan Kebangsaan personel Komisi Pemberantasan Korupsi, misteri itu terkuak sudah. Novel Baswedan membuka hal itu dalam wawancara dengan jurnalis bangkotan yang senioritasnya tak teragukan, Karni Ilyas, via podcast di channel Youtube yang bersangkutan.

Novel mengklaim, justru Ketua KPK Firli Bahuri yang menyelipkan Tes Wawasan Kebangsaan dalam peraturan peralihan pegawai jadi ASN. Katanya komisi tim perumus pun tidak mengetahui ada yang memasukkan poin TWK dalam draf final peraturan itu.

“Informasi yang kami dapatkan, itu (Tes Wawasan Kebangsaan) yang memasukkan Pak Firli sendiri. Pak Ketua. Harusnya ada tim perumus. Pak Ketua kan (seharusnya) tidak termasuk, hanya memberikan tugas saja,” kata Novel Baswedan kepada Karni Iyas.

Mereka yang tergabung dalam wadah pegawai juga termasuk dalam komisi tim perumus, namun sampai peraturan itu disahkan mereka tidak tahu ada peraturan tentang TWK tersebut.

Pada prinsipnya isi dari peraturan yang baru dibuat itu peralihan menjadi ASN tidak ada yang merugikan hak-hak karyawan, termasuk disingkirkan dari institusi KPK.

Menurut Novel aturan TWK itu tiba-tiba diselipkan dalam peraturan yang disahkan oleh KPK. “Semangatnya peralihan dilakukan sesegera mungkin dan tidak merugikan hak pegawai. Semuanya selaras. Tapi di penghujung, kemudian akan disahkan, tiba-tiba ada yang menyelipkan tentang norma tes wawasan kebangsaan,” katanya.

Mereka heran mengapa poin tersebut tiba-tiba masuk, namun saat mereka menanyakan kepada pimpinan, tidak ada yang bisa menjawab. “Sampai itu disahkan, kami diberikan informasi. Tapi semuanya tidak ada yang mengatakan apa konsekuensinya. Kami tanya, tidak pernah ada penjelasan,”kata Novel.

Sebagaimana diketahui, tes TWK tersebut kemudian banyak dipermasalahkan, tidak hanya oleh pegawai KPK sendiri, juga oleh publik. Publik menilai hal itu dilakukan sekadar untuk menyisihkan beberapa personel KPK tertentu yang kredibilitasnya justru diakui publik. [sumber : podcast Karni Ilyas/Hajinews]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close