CrispyVeritas

Miskalkulasi Perang: Militer Israel Akui Remehkan Kekuatan Hizbullah dan Stabilitas Iran

Meskipun Israel telah meluncurkan rentetan serangan udara masif sejak 2024, Hizbullah terbukti mampu membangun kembali kekuatannya dengan cepat. Ada ‘celah lebar’ antara apa yang diyakini intelijen Israel dengan realitas di lapangan.

JERNIH – Sebuah rekaman percakapan tertutup yang bocor mengungkap kegelisahan di tingkat atas komando militer Israel. Panglima Komando Utara Israel (IDF), Rafi Milo, mengakui bahwa pihaknya telah meremehkan kemampuan militer Hizbullah dan kini meyakini bahwa perang hanya bisa diakhiri melalui kesepakatan politik, bukan kemenangan militer mutlak.

Laporan yang dirilis oleh stasiun televisi Channel 12 Israel pada Sabtu (4/4/2026) tersebut, merujuk pada diskusi tegang antara Milo dengan warga Kibbutz Misgav Am, sebuah pemukiman di perbatasan Lebanon.

Meskipun Israel telah meluncurkan rentetan serangan udara masif sejak 2024, Hizbullah terbukti mampu membangun kembali kekuatannya dengan cepat. Milo mengakui ada “celah lebar” antara apa yang diyakini intelijen Israel dengan realitas di lapangan.

“Ada jurang pemisah antara bagaimana kami menyimpulkan Operasi Northern Arrows—apa yang kami yakini saat itu—dengan kenyataan yang kami temukan hari ini bahwa Hizbullah masih berdiri tegak,” ujar Milo dalam rekaman tersebut.

Intelijen Israel kini mengubah penilaian mereka. Hizbullah diketahui menerapkan kebijakan “jatah amunisi” yang ketat, yang memungkinkan mereka untuk terus membombardir pasukan Israel selama berbulan-bulan ke depan.

Hizbullah diperkirakan mampu mempertahankan ritme 200 operasi per hari (termasuk roket dan drone) selama setidaknya lima bulan ke depan. Selain itu, ratusan platform peluncur roket masih utuh dan tersebar di utara Sungai Litani, siap digunakan kapan saja. Meski strukturnya goyah akibat serangan Israel, unit-unit di lapangan tetap mampu beroperasi meski komunikasi dengan pimpinan pusat di Beirut terganggu.

Terkait perang langsung dengan Iran yang pecah sejak 2 Maret 2026 lalu, Milo memberikan penilaian yang jauh lebih terukur dibandingkan retorika panas para politisi di Yerusalem. Di saat banyak pihak di pemerintahan Israel mengharapkan runtuhnya rezim Teheran, militer justru melihat hal sebaliknya.

“Saya memperkirakan ini tidak akan berakhir dengan jatuhnya rezim. Pemerintah Iran tampak tetap stabil meskipun terus digempur, dan kemungkinan besar perang ini akan berakhir dengan semacam kesepakatan politik,” tegas Milo.

Pertemuan Milo dengan warga Misgav Am sebenarnya bermula dari insiden tragis bulan lalu, di mana seorang warga berusia 60 tahun tewas akibat tembakan artileri salah sasaran dari tentara Israel sendiri.

Milo secara terbuka meminta maaf dan menyatakan bertanggung jawab penuh atas insiden memilukan tersebut. “Sebagai komandan pertempuran ini, saya memohon maaf. Ini adalah kejadian buruk yang seharusnya tidak pernah terjadi,” ucapnya.

Sejak ketegangan meluas ke Lebanon pasca tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, wilayah Lebanon Selatan, Lembah Bekaa, hingga pinggiran Beirut telah hancur lebur. Data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat korban jiwa sedikitnya 1.368 orang tewas, 4.318 orang mengalami cedera serta ratusan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Back to top button