CrispyVeritas

MMS Desak Menteri Jumhur Hidayat Berani “Tandang dan Ludeung” Selamatkan Lingkungan Jawa Barat

Pinisepuh MMS, Dindin S. Maolani, mengatakan persoalan lingkungan hidup tak bisa lagi dipandang sekadar masalah teknis pengelolaan sampah, melainkan sudah menyangkut keselamatan masyarakat dan masa depan generasi mendatang. Menurut Dindin, latar belakang Jumhur sebagai aktivis harus tetap hidup meski kini berada di dalam pemerintahan. “Aktivis adalah mereka yang habis-habisan berjuang untuk rakyat. Kang Jumhur berdarah aktivis, maka spirit itu harus diteruskan di dalam pemerintahan,” katanya.

JERNIH–Majelis Musyawarah Sunda mendorong Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat bertindak lebih berani dan tegas dalam menangani kerusakan lingkungan hidup, terutama persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi krisis serius di Bandung Raya dan sejumlah wilayah Jawa Barat. Dorongan itu mengemuka dalam forum diskusi lintas elemen masyarakat yang digelar di Rumah Kebangsaan HD Soetisno, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Minggu (10/5/2026). Forum tersebut dihadiri aktivis, budayawan, tokoh masyarakat, hingga pegiat lingkungan.

Pinisepuh MMS, Dindin S. Maolani, mengatakan persoalan lingkungan hidup tak bisa lagi dipandang sekadar masalah teknis pengelolaan sampah, melainkan sudah menyangkut keselamatan masyarakat dan masa depan generasi mendatang.

Menurut dia, penyelesaian masalah lingkungan membutuhkan keberanian moral dan keteguhan sikap, terutama karena persoalan tersebut kerap bersentuhan dengan kepentingan besar.

“Harus ada keinginan berkhidmat. Keharusan untuk tandang dan ludeung,” kata Dindin, menggunakan istilah Sunda yang berarti berani bertindak dan menghadapi persoalan secara terbuka.

Dia mengingatkan, kerusakan lingkungan bukan perkara ringan karena sering kali berhadapan dengan kekuatan modal dan kepentingan ekonomi. “Persoalan lingkungan hidup itu berat karena berhadapan juga dengan oligarki dan investor hitam. Karena itu kami mendorong dan mendoakan agar Menteri Lingkungan Hidup kuat dan berani,” ujarnya.

Menurut Dindin, latar belakang Jumhur sebagai aktivis harus tetap hidup meski kini berada di dalam pemerintahan. “Aktivis adalah mereka yang habis-habisan berjuang untuk rakyat. Kang Jumhur berdarah aktivis, maka spirit itu harus diteruskan di dalam pemerintahan,” katanya.

Dia juga menyinggung berbagai persoalan lingkungan di Jawa Barat, termasuk kondisi di Garut yang dinilai memerlukan perhatian serius pemerintah pusat.

Dalam forum itu, Pinisepuh MMS, Deni K. Irwan, menyerahkan Iket Mega Mendung Merah Putih dan Kudjang Pamor Padjadjaran kepada Jumhur Hidayat. Penyerahan simbol budaya Sunda itu dimaknai sebagai dorongan moral agar Menteri LH berani dan tegas dalam mengambil tindakan.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Jumhur menegaskan dirinya serius menangani persoalan sampah dan kerusakan lingkungan hidup, termasuk di Jawa Barat. Menurut dia, persoalan lingkungan tidak bisa lagi ditunda karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

“Saya akhir pekan pun turun langsung mengurus sampah bersama pejabat terkait,” katanya.

Jumhur mengungkapkan, Kementerian Lingkungan Hidup juga telah mengambil langkah hukum terhadap sejumlah pihak yang dianggap lalai dalam pengelolaan lingkungan. “Kami juga sudah berkali-kali menindak tegas sampai menetapkan tersangka salah satu kepala dinas. Kami benar-benar serius mengurus lingkungan hidup,” ujarnya.

Khusus untuk persoalan Bandung Raya, Jumhur menyebut kondisi darurat sampah yang sempat memicu keresahan masyarakat ditargetkan mulai tertangani dalam dua pekan mendatang.

Ia mengaku sependapat dengan pandangan para tokoh Sunda bahwa persoalan sampah merupakan ironi besar setelah lebih dari delapan dekade Indonesia merdeka. “Kok bisa 80 tahun merdeka urusan sampah tidak selesai,” katanya.

Karena itu, menurut Jumhur, diperlukan semangat guyub seluruh daerah di Bandung Raya dengan fokus pada solusi nyata, bukan sekadar saling menyalahkan. “Kalau tidak, yang paling rugi itu masyarakat,” ujarnya.

Jumhur juga menilai isu lingkungan hidup sejatinya dapat menjadi titik temu berbagai kelompok masyarakat lintas agama, etnis, dan kepentingan politik. “Tekad memuliakan bumi itu bisa mempersatukan semua pihak lintas pemerintah, agama, dan etnis. Tidak mungkin tidak ada solusi. If there’s a will there’s a way,” katanya.

Penyelenggara kegiatan, Agung Suryamal Sutisno, mengatakan forum tersebut sengaja mempertemukan banyak unsur masyarakat agar isu lingkungan hidup dipahami lebih luas, tidak semata urusan pemerintah.

Menurut dia, berbagai bencana lingkungan yang terus berulang menunjukkan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup.

“Kegiatan ini dihadiri semua elemen mulai dari aktivis, budayawan, dan berbagai unsur masyarakat. Masalah lingkungan hidup adalah hal yang perlu dijelaskan dan dipahami karena musibah terus terjadi akibat masyarakat belum semuanya paham,” katanya.

Agung juga menyoroti masih adanya pelaku industri yang memandang persoalan lingkungan secara remeh, padahal dampaknya sangat besar terhadap keberlanjutan usaha maupun keselamatan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Badan Pagawe MMS, Andri P. Kantaprawira, mengaku bangga atas penunjukan sesama aktivis asal Bandung sebagai Menteri Lingkungan Hidup.

Namun kebanggaan itu, katanya, harus dibuktikan dengan keberanian menegakkan aturan dan memulihkan kerusakan alam yang selama ini terus terjadi di berbagai daerah Indonesia. [ ]

Back to top button