Ubah Peta Konflik Timteng, Rusia Rampungkan 20 Jet Tempur Su-35 Pesanan Iran

JERNIH — Armada dirgantara Republik Islam Iran bersiap menerima suntikan kekuatan terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Rusia dilaporkan telah menyelesaikan produksi gelombang pertama sebanyak 20 unit jet tempur Sukhoi Su-35 (kode NATO: Flanker-M) yang dipesan khusus oleh Teheran.
Melansir laporan KY, Senin (6/7/2026), puluhan jet tempur generasi 4.5 tersebut kini telah tuntas dirakit di Pabrik Penerbangan Komsomolsk-on-Amur milik Rusia. Sembari menunggu jadwal pengiriman resmi ke Teheran pada tahun 2026 ini, Kementerian Pertahanan Iran dilaporkan tengah menanggung biaya perawatan dan pemeliharaan (sustainment costs) selama jet-jet tersebut terparkir di fasilitas Rusia.
Laporan dari Military Watch Magazine mengonfirmasi bahwa pengiriman armada “Super Flanker” ini dijadwalkan mulai bergerak tahun ini. Namun, sumber internal mengindikasikan adanya potensi keterlambatan akibat kerusakan infrastruktur di Pangkalan Udara Hamadan, Iran, yang diproyeksikan menjadi sarang baru jet-jet tersebut.
Saat ini, tim teknis Iran tengah dikejar waktu untuk membenahi fasilitas pangkalan udara tersebut. Sebelum unit utama Su-35 mendarat, Moskow akan mengirimkan simulator penerbangan canggih terlebih dahulu guna mempercepat adaptasi taktis para pilot Iran. Sebagai persiapan jangka panjang, para penerbang Teheran sendiri sebenarnya telah dilatih menggunakan jet latih Yakovlev Yak-130 yang diterima dari Rusia sejak September 2023.
Mengubah Peta Konflik Timur Tengah
Dipilihnya Su-35 bukan tanpa alasan. Jet tempur ini memiliki radius tempur hampir 1.600 kilometer (1.000 mil), kemampuan yang memungkinkannya melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah rival regionalnya.
Keunggulan utama Su-35 terletak pada kemampuannya beroperasi dari landasan pacu yang pendek atau darurat. Karakteristik ini membuat armada udara Iran nantinya tidak terlalu bergantung pada pangkalan udara utama yang rentan dihancurkan oleh serangan rudal lawan. Meski secara teknologi siluman masih di bawah F-35 milik AS, Su-35 merupakan salah satu jet tempur paling teruji di medan perang modern dengan sistem rudal udara-ke-udara yang terus diperbarui.
Berdasarkan dokumen industri militer Rusia yang bocor akhir tahun lalu, Iran total memesan 48 unit Su-35. Demi mengejar target ini, United Aircraft Corporation (UAC) Rusia sampai harus menggenjot kapasitas produksinya, yang berkonsekuensi pada berkurangnya pasokan Su-35 untuk Angkatan Dirgantara Rusia sendiri dalam 2 hingga 3 tahun ke depan. Moskow secara eksplisit memprioritaskan pesanan Teheran.
Kesepakatan pertahanan yang diteken sejak 2023 ini menjadi angin segar yang masif bagi Teheran. Pasalnya, selama ini tumpuan pertahanan udara Iran masih mengandalkan jet tempur uzur era Perang Dingin buatan Barat yang dibeli sebelum Revolusi 1979—seperti Grumman F-14A Tomcat, McDonnell Douglas F-4 Phantom II, dan Northrop F-5 Tiger II.
Akuisisi jet modern pasca-Perang Dingin terakhir kali dilakukan Iran pada dekade 1990-an saat memboyong MiG-29 dari Rusia. Di saat Iran sukses membangun salah satu arsenal rudal dan drone terkuat di Timur Tengah, kapabilitas jet tempur domestik mereka justru tertinggal jauh.
Selain proyek Su-35, cetak biru peremajaan militer Iran hingga 2027 mencakup beberapa poin strategis. Sebanyak 20 unir Sukhoi Su-35 (Flanker-M) siap kirim (estimasi masuk 2026) dari total pesanan 48 unit. Ada juga 12 unit Sukhoi Su-30SM2 varian lebih ekonomis dipesan dengan estimasi pengiriman pertengahan 2027 melalui transfer unit aktif militer Rusia.
Iran juga telah menyatakan ketertarikan pada jet siluman generasi kelima Sukhoi Su-57, meskipun kendala produksi Moskow diperkirakan menunda pengiriman hingga tahun 2030.
Para analis militer menilai, masuknya keluarga Sukhoi baru ini akan mendongkrak supremasi udara Iran secara drastis, sekaligus memperluas jangkauan penetrasi operasi militer jangka panjang mereka di kawasan Timur Tengah.






