Selat Hormuz Membara: Duel Laut AS-Iran di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh

Konflik di Selat Hormuz ini bukan lagi sekadar “perang jarak jauh”. Keberhasilan gencatan senjata kini sangat bergantung pada sejauh mana AS mau mengendorkan blokade pelabuhan, dan sejauh mana Iran bersedia membuka kembali “keran” minyak dunia di Hormuz.
JERNIH – Di saat dunia menanti kabar damai, Selat Hormuz justru kembali menjadi saksi bisu adu kekuatan militer Amerika Serikat dan Iran. Kamis (7/5/2026) kemarin, bentrokan senjata pecah di salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia tersebut, mengancam runtuhnya gencatan senjata yang baru seumur jagung sejak disepakati 8 April lalu.
Insiden ini terjadi tepat saat Washington tengah menunggu jawaban dari Teheran terkait proposal perdamaian terbaru untuk mengakhiri perang yang dipicu oleh serangan udara gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Presiden AS, Donald Trump, melalui platform Truth Social, mengonfirmasi bahwa tiga kapal perusak (destroyer) Angkatan Laut AS diserang saat sedang melintasi Selat Hormuz—jalur yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
“Tiga kapal perusak Amerika kelas dunia baru saja melintas, dengan sangat sukses, keluar dari Selat Hormuz di bawah berondongan tembakan. Tidak ada kerusakan pada ketiga kapal tersebut, namun kerusakan besar diderita oleh penyerang Iran,” tulis Trump dengan gaya khasnya.
Namun, narasi berbeda datang dari Teheran. Komando militer tinggi Iran menuduh AS melakukan provokasi berat dengan menargetkan kapal tanker minyak Iran dan kapal lainnya. Iran mengeklaim bahwa AS melancarkan serangan udara ke wilayah sipil di Pulau Qeshm, titik strategis di mulut selat yang merupakan basis kekuatan angkatan laut Iran, serta wilayah pesisir di Bandar Khamir dan Sirik.
Sebagai balasan, militer Iran mengeklaim telah menyerang kapal-kapal militer AS di timur selat dan selatan Pelabuhan Chabahar, dengan menyebut serangan mereka menimbulkan “kerusakan signifikan.”
Situasi di Teluk saat ini ibarat “api dalam sekam”. Sejak konflik meletus Februari lalu, Iran telah menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial. Sebagai respons, AS meluncurkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran bulan lalu.
Bentrokan hari Kamis menandai eskalasi paling tajam sejak gencatan senjata berlaku. Chris Featherstone, ilmuwan politik dari University of York, menilai ledakan kekerasan ini bisa dibaca sebagai upaya kedua belah pihak untuk memperkuat posisi tawar di meja perundingan. “Masing-masing pihak mungkin berusaha menggunakan serangan ini untuk meningkatkan keterlibatan dalam negosiasi perdamaian,” ujarnya mengutip laporan Al Jazeera.
Senada dengan itu, Donald Jensen, spesialis keamanan dan mantan diplomat AS, menyebut ini sebagai “Eskalasi Terkendali”. Menurutnya, kedua negara sedang mencoba menunjukkan keteguhan hati mereka saat mencoba menyepakati kerangka kerja mengenai isu-isu kunci, terutama terkait kebebasan navigasi di selat tersebut.
Dampak ke Negara Tetangga
Ketegangan ini tidak hanya melibatkan dua aktor utama. Negara-negara tetangga di Teluk, khususnya Uni Emirat Arab (UEA), ikut terkena getahnya. Pada Jumat pagi, Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi adanya ledakan di seluruh negeri akibat operasi pencegatan rudal dan drone yang datang dari arah Iran.
Awal pekan ini, kilang minyak di pelabuhan Fujairah, UEA, sempat terbakar akibat serangan rudal Iran. Hal ini menunjukkan bahwa Iran tidak segan-segan mengganggu infrastruktur energi di sekitar wilayah tersebut jika kepentingan mereka terancam oleh blokade AS.
Trita Parsi dari Quincy Institute for Responsible Statecraft menyoroti perspektif Iran yang melihat serangan AS sebagai upaya menciptakan kondisi “gencatan senjata sepihak”.
“Bagi Teheran, situasi ini sangat sulit diterima. Jika AS memutuskan untuk menembak dan menganggapnya bukan pelanggaran gencatan senjata, maka Iran merasa dirugikan secara strategis,” jelas Parsi. Meski begitu, ia yakin kedua belah pihak sebenarnya masih memiliki kepentingan untuk memastikan konflik ini tidak lepas kendali menjadi perang terbuka total.
Di Washington, Sekretaris Negara Marco Rubio menegaskan bahwa tindakan AS di selat adalah bentuk “pertahanan diri”. Konsistensi klaim AS mengenai keberhasilan operasi ini bertujuan untuk memberikan pesan kepada pasar global bahwa AS masih mampu mengamankan kepentingan energinya, meski realitas di lapangan menunjukkan ketidakpastian yang tinggi.
Lantas, apakah gencatan senjata masih berlaku? Donald Trump bersikeras bahwa kesepakatan 8 April masih efektif. Namun, ia juga melontarkan ancaman serangan lebih lanjut jika Iran tidak segera menandatangani kesepakatan damai permanen.
Dari Teheran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pihaknya masih meninjau proposal damai AS yang dikirimkan melalui mediator Pakistan. “Meski terjadi konfrontasi militer, upaya diplomatik tampaknya masih berjalan di bawah radar. Kedua pihak masih tertarik untuk terlibat secara diplomatik,” lapor Resul Serdar Atas dari Al Jazeera.
Ali Vaez, direktur Proyek Iran di International Crisis Group, menyimpulkan inti dari bentrokan ini: “AS sedang mencoba melonggarkan cengkeraman Iran atas Selat Hormuz, sementara Iran tetap bertekad untuk memukul balik.”
Jensen memperingatkan bahwa kesepakatan komprehensif—terutama soal program nuklir Iran—mungkin harus dikesampingkan sementara. Prioritas internasional saat ini adalah memastikan ekonomi global kembali berjalan dengan menjamin keamanan jalur kapal di Selat Hormuz.






