Crispy

Wajah Baru Galeri Istana Buckingham, Bergelimang Mahakarya, Tak Lagi Rumah Raja

Istana Buckingham resmi bersolek dengan memamerkan 120 lukisan legendaris dunia lewat renovasi senilai Rp8,85 triliun. Menariknya, transformasi besar-besaran ini menyambut babak baru sejarah: tak ada lagi raja yang akan tinggal di sana.

WWW.JERNIH.CO – ​ Galeri lukisan di Istana Buckingham siap menyambut kembali para wisatawan dengan tampilan yang jauh lebih megah. Tidak tanggung-tanggung, pihak istana melipatgandakan jumlah mahakarya yang dipajang—dari yang tadinya hanya 63 lukisan, kini menjadi 120 karya seni legendaris dari Royal Collection.

Transformasi visual ini akan memanjakan mata pengunjung lewat deretan lukisan maestro dunia seperti Rembrandt, Vermeer, Rubens, Caravaggio, dan Zoffany. Semua mahakarya ini kini bersanding anggun dengan latar belakang kain sutra damas baru berwarna hijau zamrud serta sistem pencahayaan mutakhir.

Restorasi ini merupakan bagian dari pembukaan Ruang Negara (State Rooms) yang rutin dibuka untuk umum setiap musim panas.

Menariknya, perombakan besar-besaran ini selesai hanya berselang beberapa minggu setelah konfirmasi sejarah baru: tidak akan ada lagi monarki Inggris yang tinggal menetap di Istana Buckingham.

Keputusan Raja Charles III dan Ratu Camilla untuk tidak pindah ke istana berkapasitas 775 kamar tersebut resmi mengakhiri tradisi kediaman kerajaan yang sudah berjalan sejak era Ratu Victoria pada tahun 1837.

Keputusan ini terungkap dalam Sovereign Grant Report (laporan keuangan tahunan rumah tangga kerajaan). Istana Buckingham baru saja merampungkan renovasi besar-besaran selama satu dekade yang meliputi perbaikan pipa, sistem listrik, dan pemanas dengan total biaya mencapai Rp8,85 triliun.

Raja Charles dan Ratu Camilla memilih untuk tetap tinggal di Clarence House yang letaknya tak jauh dari sana. Istana Buckingham sendiri nantinya hanya akan berfungsi sebagai markas administratif resmi dan pusat upacara seremonial kerajaan.

Langkah ini tampaknya akan diteruskan ke generasi berikutnya, sebab Pangeran William juga mengisyaratkan tidak berencana memboyong keluarganya ke Buckingham saat ia naik takhta kelak, dan lebih memilih bertahan di Forest Lodge.

Setiap tahunnya, lebih dari setengah juta wisatawan melintasi galeri sepanjang 47 meter ini. Untuk menghadirkan suasana baru yang tetap menghormati sejarah, para kurator harus membedah kembali lukisan cat air kuno, foto, inventaris lama, hingga cetak biru arsitektur asli istana. Proses penataan ulang ini memakan waktu hingga 875 jam kerja mekanis demi mengembalikan estetika galeri mendekati desain awalnya.

“Penataan ulang ini adalah kesempatan langka yang sangat menarik untuk meningkatkan jumlah lukisan kelas dunia yang dipajang,” ujar Anna Reynolds, Surveyor Lukisan Raja. “Ini sejalan dengan misi amal kami untuk membagikan Royal Collection seluas-luasnya kepada masyarakat. Restorasi seperti ini sebenarnya tradisi lama yang biasa terjadi setiap ada pergantian takhta.”

Galeri ini awalnya dirancang oleh arsitek terkenal John Nash untuk memamerkan koleksi luar biasa milik Raja George IV, meski sang raja wafat sebelum proyeknya selesai. Saat Ratu Victoria naik takhta pada 1837, ia melihat galeri ini sudah dipenuhi lukisan. Menariknya, penataan ruangan saat ini mengadopsi gaya tahun 1840-an era Ratu Victoria, lengkap dengan area khusus yang merayakan seni Inggris abad ke-18.

Ada beberapa daya tarik yang wajin dikunjungi. Misalnya lukisan The Tribuna of the Uffizi karya Johan Zoffany menjadi primadona. Lukisan ini menggambarkan suasana galeri Florence yang sibuk, di mana para pengunjungnya sedang mengagumi karya Holbein, Rubens, dan Raphael.

Lima lukisan asli Rembrandt akan dipajang berdampingan dengan satu karya dari studionya. Sementara itu, tujuh karya Rubens akan disatukan dalam satu kelompok dinding yang megah.

Ada pasang lukisan yang sangat emosional, di mana Self Portrait milik Rubens dipajang berhadapan dengan potret Anthony Van Dyck yang ia lukis. Penataan ini meniru tata letak asli yang pernah ada di Istana Whitehall pada tahun 1660-an.

Lukisan langka karya Vermeer, Lady at the Virginals with a Gentleman (yang dulu dibeli oleh George III), tetap dipertahankan di galeri ini, bersanding manis dengan 12 lukisan pemandangan Venesia karya Canaletto.(*)

BACA JUGA: Raja Charles Cabut Gelar dan Usir Pangeran Andrew dari Istana Buckingham

Back to top button