Didepak China dan India: Mengapa Starlink Elon Musk Hadapi Krisis Geopolitik Akut di Asia?

Di balik euforia Elon Musk yang baru saja dinobatkan sebagai trillionaire pertama di dunia berkat IPO bersejarah SpaceX per 12 Juni 2026, motor utama valuasi bisnisnya—Starlink—justru sedang dihantam krisis hebat di Asia.
JERNIH – Lonjakan valuasi SpaceX yang menembus 2 triliun dolar AS pasca-IPO bersejarahnya di NASDAQ ternyata menyimpan riak instabilitas besar. Starlink, mesin pencetak uang utama milik Elon Musk, kini resmi terjepit dan didepak dari dua pasar internet terbesar di dunia dengan populasi gabungan mencakup hampir 40% penduduk bumi yakni China dan India.
Melansir laporan Bloomberg, pemerintah India secara efektif telah membekukan seluruh izin operasional komersial Starlink. Langkah New Delhi ini menyusul kebijakan ekstrem Beijing yang jauh-bahu hari telah melarang total (banned) kehadiran Starlink di wilayahnya karena dianggap sebagai ancaman keamanan nasional.
Meskipun Starlink telah mengantongi lisensi awal (GMPCS) di India sejak setahun lalu, badan keamanan di bawah Kementerian Dalam Negeri India mendadak menahan izin final komersial mereka.
Keputusan membekukan Starlink diambil setelah intelijen India menyoroti peran kontroversial satelit Musk dalam Perang Iran baru-baru ini. Pada protes Januari 2026, ketika Teheran mematikan internet nasional, hampir 50.000 terminal Starlink selundupan beroperasi ilegal dan menjadi alat komunikasi utama demonstran.
Mengutip laporan Eurasi, melihat kenyataan bahwa Starlink menolak mematikan terminal ilegal tersebut secara massal di Iran, India melihat risiko serupa yang mengerikan terhadap kedaulatan mereka. Apalagi pada Desember 2024, militer India menemukan perangkat Starlink dari kelompok militan di Manipur.
Di bulan yang sama, kartel narkoba di Kepulauan Andaman dan Nikobar kedapatan memakai Starlink untuk navigasi laut dalam. Saat India meminta data historis penggunaan, Starlink menolak dengan alasan undang-undang privasi.
Berdasarkan undang-undang AS (FISA Seksi 702), semua ISP Amerika wajib membagikan data komunikasi warga non-AS kepada intelijen Washington. India khawatir data strategis mereka bocor ke Pentagon.
Di sisi lain, China menerapkan aturan yang jauh lebih agresif. Beijing tidak hanya melarang lisensi Starlink, tetapi juga mewajibkan seluruh kapal asing mematikan terminal Starlink begitu memasuki perairan China. Pada akhir tahun lalu, China resmi menjatuhkan penalti hukum pertamanya kepada sebuah kapal asing yang nekat menggunakan layanan internet Musk tersebut secara ilegal di teritorial mereka.
Ketakutan terbesar India dan China berakar dari rekam jejak Elon Musk yang dinilai tidak konsisten dan kerap “mempersenjatai” teknologi satelitnya demi agenda pribadi dalam konflik geopolitik.
Setidaknya terdapat dua skandal Starlink dalam perang Ukraina yang membuat Asia khawatir. Musk secara sepihak mematikan jaringan (geofencing) Starlink di Sevastopol untuk menggagalkan operasi militer Ukraina yang ingin menenggelamkan armada laut Rusia, karena takut terseret dalam eskalasi perang.
Pada 2025 lalu, Musk juga sempat mengancam akan mematikan total Starlink di garis depan Ukraina jika Kiev tidak memberikan hak konsesi penambangan logam tanah jarang (rare earth minerals) kepada perusahaannya.
Merespons pembekuan ini, Wakil Presiden Operasi Bisnis Starlink, Lauren Dreyer, langsung pasang badan melalui platform X. Ia membantah kabar bahwa Starlink telah diblokir total secara permanen.
“Starlink tetap berada dalam diskusi aktif dan produktif dengan pemerintah India. Kami bahkan telah menyiapkan model penyebaran khusus (bespoke deployment) yang dirancang khusus agar selaras dengan persyaratan teknologi berdaulat, regulasi, dan keamanan strategis India,” tulis Dreyer.
Meski demikian, para analis menilai jika pembekuan di India berlanjut lama, narasi pendapatan SpaceX yang digunakan untuk menyubsidi proyek AI dan eksplorasi Mars milik Musk terancam rontok di mata para investor global.






