
Selama ini disembunyikan, monster langit milik China akhirnya menampakkan diri. Pengamat militer menyebut rudal hipersonik DF-17 memiliki pergerakan acak yang mustahil dibaca oleh radar konvensional.
WWW.JERNIH.CO – Selama lebih dari satu dekade, rudal balistik Dong Feng-17 (DF-17) milik China beroperasi dalam senyap, memperkuat barisan persenjataan modern Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Namun, situasi berubah saat pemerintah China tiba-tiba memamerkan rudal ini ke publik untuk pertama kalinya.
Para analis membaca langkah ini bukan hanya pamer teknologi biasa, melainkan sebuah pesan politik yang tajam. Kemunculan DF-17 sengaja dirancang sebagai respons terhadap latihan militer negara-negara kawasan Asia-Pasifik dan peringatan keras bagi militer Amerika Serikat (AS).
Menurut Alexander Huang, Ketua Council of Strategic and Wargaming Studies di Taipei, perilisan rekaman video ini merupakan bentuk diplomasi politik sekaligus pembiasan deterensi.
“DF-17 sangat sulit ditangkal, terutama bagi target permukaan yang besar. Rudal ini menjadi ancaman besar bagi kapal induk dan kapal serbu amfibi,” ujar Huang.
Berbeda dengan rudal konvensional, rudal jarak menengah ini dilengkapi dengan Hypersonic Glide Vehicle (HGV). Teknologi ini memungkinkan DF-17 terbang dengan ketinggian lebih rendah dan arah yang sulit diprediksi.
Sementara lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington bilang, rudal ini sebenarnya sudah ada setidaknya selama 12 tahun dan resmi memperkuat PLA sejak 2019.

Momen kemunculan DF-17 di media China dinilai sangat kalkulatif. Pasalnya, peluncuran video ini bertepatan dengan latihan maritim Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026 yang dipimpin AS di dekat Hawaii, serta latihan bersama AS-Jepang akhir Juni lalu.
“Latihan militer (AS dan sekutunya) tersebut cukup keras dan agresif, serta jelas-jelas menyasar potensi pergerakan China,” tambah Huang.
Chen Yi-fan, asisten profesor di Departemen Diplomasi dan Hubungan Internasional Tamkang University Taiwan, menilai bahwa dengan memamerkan DF-17 pasca-RIMPAC, Beijing ingin mengirim pesan bahwa rudal mereka mampu menembus sistem pertahanan udara dan melakukan serangan jenuh secara simultan.
“Sinyal ini mempertegas rasa percaya diri PLA yang kian tumbuh untuk melumpuhkan sistem pertahanan rudal regional dan mengacaukan perencanaan operasi militer lawan,” jelas Chen.
BACA JUGA: China Siap Tantang Adidaya, Pamer Rudal Hipersonik hingga Anjing Robot
Media pemerintah China, CGTN, turut mengamini hal tersebut dengan menyatakan bahwa koordinasi peluncuran salvo secara masif ini meningkatkan efisiensi serangan dan keselamatan di medan perang, sekaligus membuktikan lompatan besar teknologi militer China.
Menurut data CSIS, DF-17 memiliki spesifikasi yang impresif. Memiliki panjang 11 meter (36 kaki) dengan jangkauan 1.800 hingga 2.500 kilometer. Rudal ini mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir. China saat ini diperkirakan memiliki 1.300 rudal dan 300 peluncur.
Mengingat daya hancurnya yang masif, rudal ini tidak akan digunakan sembarangan. “Sebagai salah satu aset strategis utama PLA, DF-17 kemungkinan besar dicadangkan untuk skenario paling krusial, seperti adanya intervensi militer asing yang mendukung kemerdekaan Taiwan,” ungkap Chen Yi-fan.
Saat ini, pangkalan militer AS di Hawaii, Guam, dan Jepang tengah mengawasi ketat peningkatan latihan angkatan laut PLA di sekitar Taiwan, serta ketegangan antara Beijing dan Filipina di Laut China Selatan.
Keunggulan utama DF-17 terletak pada kelincahannya. M. Taylor Fravel, Direktur Program Studi Keamanan di Massachusetts Institute of Technology (MIT), menjelaskan bahwa manuver HGV membuat DF-17 jauh lebih superior dibanding rudal balistik generasi lama.
“Kemampuan manuver ini membuatnya jauh lebih sulit dilumpuhkan karena bisa dengan mudah menembus sistem pertahanan rudal,” kata Fravel. Huang menambahkan, rudal seri DF generasi awal terbang dengan jalur parabola tradisional yang mudah ditebak, sangat berbeda dengan karakteristik DF-17.
Untuk mengantisipasi ancaman ini, para analis menyarankan pasukan AS memperluas teknologi radar jarak jauh mereka agar bisa mendeteksi peluncur DF-17 lebih awal dan melakukan tindakan preventif jika konflik pecah.
Di sisi lain, AS sendiri tengah mengebut pengembangan sistem serupa yang dinamakan Long-Range Hypersonic Weapon (LRHW), sebuah sistem yang dirancang untuk menyerang target yang dilindungi ketat dari jarak ribuan mil, sekaligus mengembangkan teknologi penangkal rudal hipersonik.
“Washington harus mempercepat pengembangan dan pengerahan senjata hipersoniknya sendiri demi menciptakan keseimbangan kekuatan dan deterensi timbal balik yang kredibel,” pungkas Chen.(*)
BACA JUGA: Rudal Iran Kini Jauh Lebih Presisi, Mematikan, dan ‘Mustahil’ Dicegat Israel






