POTPOURRI

Kuningan di Masa Perkembangan Islam

KUNINGAN – Proses Islamisasi yang dilakukan di wilayah Kuningan telah dilakukan Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati sejak abad 15 Masehi,  yaitu dimasa Kerajaan Pajajaran saat dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja. Saat itu, Cirebon dan Kuningan berada dibawah kekuasaan Kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Prabu Jayaningrat yang menginduk ke Pajajaran. Ketika Cirebon memerdekakan diri dari Pajajaran tahun 1482 Masehi, dengan diangkatnya Syarif Hidayatullah sebagai Susuhunan Cirebon oleh Pangeran Cakrabuana dan para wali, maka Kuningan pun perlahan-lahan berada dalam kekuasaan Cirebon.

Islamisasi di Kuningan dilakukan dengan pendekatan persuasif oleh Sunan Gunung Jati dan Pangeran Cakrabuana terutama melalui jalan pernikahan dan diplomasi. Namun tidak semua penguasa wilayah di Kuningan mau menerima Islam, beberapa diantaranya menolak. Penguasa yang menolak masuk Islam antara lain Pangeran Jaya Kelana yang menjadi Dipati Timbang Luhur. Kisah Dipati Timbang Luhur terdapat dalam folklor Desa Timbang, Kecamatan Cigandamekar. Islam dapat berkembang di Desa Timbang di periode berikutnya melalui dua orang putra Dipati Timbang Luhur yang diangkat murid oleh Susuhunan Jati di Cirebon.

Tokoh folklor lainnya yang menolak Islam adalah Pangeran Sri Gedong Guriang Herang, pemimpin 40 keluarga di Desa Madurasa.  Ia menolak masuk Islam bersama warganya saat Pangeran Adi Mulya dan Pangeran Bagirang datang mengantar Nyi Andayarasa dan Nyi Andayasari dari Kesultanan Demak ke Madurasa untuk mengembangkan Islam. Penolakan itu dalam versi Desa Bandorasakulon berujung pertempuran sampai akhirnya Sri Gedong, Pangeran Salaka Domas dan warganya kalah dan mau menerima Islam.

Saat Pangeran Salaka Domas menjadi pemimpin di Madurasa menggantikan Sri Gedong, ia pernah dikunjungi oleh Pangeran Cakrabuana untuk membantu pengembangan Islam. Selanjutnya dikisahkan bahwa warga Desa Madurasa pernah ikut serta membantu Cirebon bersama Dipati Kuningan dalam perang dengan Kerajaan Galuh di Palimanan. Pangeran Sri Gedong adalah keturunan Prabu Siliwangi dan merupakan  leluhur bagi Desa Bandorasa Kulon dan Bandorasa Wetan. Di dua desa tersebut folklor tersebut hidup sebagai sejarah desa. Di jaman Surya Jaya menjadi kuwu, rakyat Madurasa dipaksa kerja rodi menanam kopi, namun sebagian besar warganya membangkang. Maka dari sanalah nama Bandorasa lahir menggantikan nama Madurasa.

Pangeran Adi Surya dan Pangeran Bagirang merupakan keturunan Sunan Bonang. Dalam folklor Bandorasa Kulon Pangeran Adi Surya disebut Pangeran Adi Mulya. Sedangkan dalam folklor Bandorasa Wetan Pangeran Bagirang disebut putra Sunan Bonang.  Dua nama tersebut merujuk kepada Pangeran Kusuma Adiningrat (putra Sunan Bonang) di Tajur Buntu  dan Pangeran Surya Adilaga (putra Pangeran Kusuma Adilaga) di Randobawa Ilir yang merupakan tokoh-tokoh awal dalam pendirian Desa Linggajati dan Linggasana. Hal itu dikarenakan putra Pangeran Surya Adilaga yang bernama Pangeran Kusuma Lingga Yuda kelak berdiam di Linggasana dan putra Lingga Kusumayuda yang bernama Lingga Kusuma Jati berdiam di Linggajati.

Penolakan terhadap Islam juga disebutkan dalam folklor Desa Cibuntu Kecamatan Cigandamekar, dikisahkan bahwa Ki Kuwu Cigugur tidak sanggup menghadapi perang antara penganut Buddha dan Islam. Kuwu Cigugur yang menganut agama Buddha akhirnya melarikan diri ke Cikondang dan wafat disana. Cikondang kemudian disebut Cibuntu dan menjadi desa sekitar tahun 1820 Masehi. Demikian pula dengan sebagian masyarakat yang tinggal di desa, mereka menghindari dan mencari tempat yang tidak terjangkau oleh pengaruh Islam. Termasuk diantaranya disebutkan dalam folklor Desa Linggajati yang menyebutkan adanya beberapa desa di lereng Ciremai yang kemungkinan berada di bawah kekuasaan  Dipati Timbang Luhur yang memiliki konteks yang sama dengan Desa Gede.

Desa Gede adalah salah satu desa di lereng Ciremai yang merupakan cikal bakal Linggajati. Kuwu Gede dan masyarakatnya suatu saat mendengar bahwa para wali akan bermusyawarah di Gunung Ceremai. Hampir semua penduduk Desa Gede waktu itu tidak bisa menerima hadirnya agama Islam dan tetap pada keyakinannya memeluk agama Budha. Selain itu, sebenarnya mereka merasa takut untuk berhadapan dengan  kesaktian para wali, sehingga dengan serempak mereka melarikan diri meninggalkan desa.  

Kisah penolakan warga Desa Gede memeiliki kesamaan dengan  Dipati Timbang Luhur yang juga melarikan diri, sehingga rangkaian kisah tersebut kemungkinan terjadi dalam waktu yang sama. Dari kesamaan kisah tersebut jika disimpulkan maka Desa Gede atau Linggajati saat ini, berada di bawah pengaruh Dipati Timbang Luhur.

 Agama Islam kemudian dapat berkembang di Linggajati melalui putra Sunan Bonang dan keturunannya yaitu Pangeran Kusuma Adiningrat, Pangeran Surya Adilaga, Pangeran Lingga Kusuma Yuda, Pangeran Lingga Kusumajati dan ulama-ulama lainnya  yang ditugaskan oleh para wali untuk mengembangkan dan mendidik warga yang mau menerima Islam terutama di wilayah Linggajati dan sekitarnya seperti Madurasa, Bagirang, Tajurbuntu dan Randobawa Ilir.  

Dalam presfektif sejarah Kuningan yang bersumber dari naskah kuno Carita Parahyangan Sakeng Jawa Kulwan, dituliskan bahwa sekitar abad 14-15 Masehi Kuningan di   dikuasai oleh Prabu Cakraningrat. Ia memilik putra bernama Prabu Langlangbuana yang kemudian menjadi Raja Kuningan. Prabu Langlangbuwana kemudian berputra beberapa orang, tiga orang diantaranya ialah : (1).Pertama, Ratu Mayang Kuning yang diperistri oleh Raden Suralaya atau Rangga Mantri (Ratu daerah Maja), (2). Dalem Dungkut (Ratu daerah Kawali), dan (3). Ratu Mayangsari yang diperistri oleh Sunan Parung (Ratu wilayahTalaga). 

Pernikahan Mayang Kuning Dengan Rangga Mantri melahirkan tiga orang anak, yaitu : (1) Pangeran Jayaraksa (Ki Gedeng Luragung), (2). Ratu Selawati, dan (3). R. Bratawiyana. Tiga orang putra Rangga Mantri dari Mayang Kuning ini kemudian diislamkan oleh Haji Abdul Iman. Sedangkan Rangga Mantri di islamkan oleh Sunan Gunung Jati saat Talaga takluk kepada Cirebon tahun 1530 Masehi. Pangeran Jayaraksa menikah dengan Nyi Ageng Larasati dan menurunkan Suranggajaya (Adipati Kuningan). Ratu Selawati menikah dengan Syeh Arifin dan menurunkan Ratu Kencanawati (Nyai Ageng Kuningan).

Syeh Maulana Arifin adalah putra Syeh Bayanullah dari pernikahannya dengan Nyi Wandasari yang merupakan putra Adipati Surayana penguasa Sidapurna. Surayana adalah putra Dewa Niskala dari selir ketiga. Maka hubungan kekerabatan  Surayana dalam keluarga Pajajaran yaitu adik lain ibu dari Sri Baduga Maharaja Pajajaran dan Ningratwangi (Penguasa Galuh), ia juga bersaudara tiri dengan Banyakcatra, Banyakngampar, Ratna Ayu Kirana dan Kusumalaya (Ajar Kutamangu), mereka semua anak Dewata Niskala dari istri kedua.

Suranggajaya kemudian menikah dengan Ratu Kencanawangi dan menurunkan Raden Kusumajaya alias Geusan Ulun Kuningan yang menikahi Ratu Sekarwati dan berputra Dalem Mangkubumi. Ratu Sekarwati adalah putra Raden Selawiyana binti Raden Bratawiyana/Arya Kamuning, yang menikah dengan Nyi Endang Satwika (putri Dipati Dungkut binti Prabu Langlangbuana). Suranggajaya berperan dalam peristiwa perang antara Kerajaan Galuh dan Cirebon tahun 1528 Masehi. Ia menghadang Pasukan Galuh yang dipimpin oleh Prabu Jayaningrat dan Arya Kiban di perbatasan Galuh Cirebon karena diberi tugas oleh Susuhunan Jati untuk melindungi pondok-pondok pesantren di wilayah itu. (Iskandar, 2005 :274)

Islam berkembang lebih mantap di Kuningan melalui Syeh Bayanullah alias Syeh Maulana Akbar yang datang ke Sidapurna. Syeh Bayanullah adalah adik Syeh Datuk Kahfi yang tiba di Cirebon dari Mekah bersama Syeh Bentong (putra Syeh Quro Karawang). Saat Pangeran Walangsungsang dan Rara Santang menunaikan ibadah haji ,mereka tinggal di rumah Syeh Bayanullah di Mekah. Di Sidapurna, Syeh Bayanullah menikahi Nyi Wandansari dan memiliki putra Syeh Maulana Arifin. Dari keturunan Syeh Bayanullah yang bercampur dengan garis keturunan Prabu Siliwangi di Kuningan maka Islam berkembang pesat di Kuningan.   (Pandu Radea)

Back to top button