
Pernyataan militer Iran ini memberikan konfirmasi taktis bahwa mereka tidak hanya siap melakukan serangan balasan instan, melainkan sudah mematangkan logistik untuk melakoni perang jangka panjang (prolonged war) melawan Israel dan aset-aset militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
JERNIH — Pihak militer Iran menyatakan telah merampungkan seluruh persiapan mutakhir untuk menghadapi skenario perang jangka panjang (prolonged war) melawan Israel. Iran juga melayangkan ancaman terbuka akan menargetkan aset-aset militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah, seraya menegaskan bahwa Washington tidak bisa cuci tangan atas aksi militer yang dilakukan oleh sekutunya.
Seorang sumber militer internal mengungkapkan kepada Kantor Berita Tasnim bahwa Iran telah mengambil “langkah-langkah darurat yang krusial dan diperlukan” untuk menghadapi eskalasi total ini.
Iran memperingatkan bahwa jika Tel Aviv dan Washington berpikir bisa mendikte atau membatasi skala balasan Teheran melalui strategi penahanan wilayah (controlled escalation), maka kedua negara tersebut sedang melakukan blunder yang fatal.
Sumber militer tersebut menegaskan bahwa Iran akan terus menaikkan level ketegangan dan memperluas skala hukuman ke tingkat yang bakal membuat Israel menyesal. Teheran juga memberikan peringatan keras kepada Gedung Putih:
Iran menegaskan tidak akan termakan oleh propaganda politik yang mencoba menggambarkan front Israel dan Amerika Serikat sebagai dua poros yang terpisah. Iran menilai AS harus bertanggung jawab penuh atas setiap manuver militer Israel. “Amerika harus paham bahwa mereka tidak bisa melepaskan tanggung jawab dari tindakan ‘anjing gila’ mereka, Israel. Pihak Amerika akan membayar mahal dalam hal ini,” cetus sumber tersebut.
Di sisi lain, Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan nama operasi udara yang diluncurkan pada Senin (8/6/2026) pagi, yaitu Operasi Nasr (Kemenangan).
Operasi yang dikomandoi oleh Pasukan Dirgantara IRGC ini menyasar fasilitas strategis di Pangkalan Udara Nevatim dan Tel Nof sebagai balasan atas agresi rudal Israel yang sebelumnya menghantam tiga situs radar di dalam teritori Iran. Serangan ini juga didedikasikan untuk menghormati para korban yang gugur dalam “Perang Dua Belas Hari”.
Organisasi Intelijen IRGC mengklaim operasi siber, keamanan, dan militer terpadu tersebut sukses 100 persen. Secara teknis, ada beberapa kecanggihan logistik tempur yang dikerahkan Iran. Serangan udara ke wilayah Israel diluncurkan menggunakan kombinasi taktis dari rudal Emad, Qadr F, dan rudal generasi terbaru Kheibar Shekan.
Rudal balistik Kheibar Shekan generasi teranyar ini memiliki kecepatan melesat turun (descent speed) dan impak tubrukan mencapai Mach 9 (sembilan kali kecepatan suara). Berkat kecepatan hipersoniknya, pihak militer Iran mengklaim rudal ini sangat mustahil untuk dicegat atau dihancurkan oleh sistem pertahanan udara mahal milik Barat seperti THAAD buatan AS maupun sistem Arrow milik Israel.
Menimpali kesiapan militer di lapangan, Juru Bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, mengingatkan agar internal negara tidak salah mengalkulasi peta kekuatan musuh.
“Jika Anda tidak mempersiapkan diri untuk memberikan respons yang menentukan kepada musuh, maka perang sendiri yang akan mengetuk pintu rumah Anda,” tulis Rezaei melalui unggahannya di platform X.
Rezaei membeberkan bahwa angkatan bersenjata Iran telah memanfaatkan periode gencatan senjata atau waktu “senyap” kemarin untuk memperkuat kapabilitas tempur di garis depan sekaligus mengevaluasi serta memperbaiki kekurangan logistik terdahulu.
Ia memastikan Iran saat ini dalam kondisi siaga satu untuk melepaskan daya hancur yang jauh lebih besar ketimbang operasi militer mereka pada 28 Februari lalu, demi menciptakan efek deteren (gentar) baru di kawasan Timur Tengah. “Kami siap merespons lebih kuat daripada situasi pada 28 Februari. Kami tidak akan tinggal diam sampai musuh menyesal dan mengubah kalkulasi persepsi mereka,” tegas Rezaei.






